Dosen Asing di Kampus Tanah Air

1. Saya mau ikutan bahas topik ini. Sekitar 13 tahun saya berkarir di dunia akademik Australia, semoga pengalaman saya sejak post-doc sampai menjadi dosen tetap di negeri Kangguru, bisa jadi bekal untuk sedikit berbagi cerita

2. Saya tentu mendukung upoaya pemerintah RI untuk meningkatkan kualitas dunia perguruan tinggi di tanah air baik dari sudut teaching maupun research. Tapi apa perekrutan dosen asing merupakan jawabannya?

3. Jawabannya bisa iya dan tidak, tergantung seberapa serius Pemerintah mempersiapkan program ini, dan seberapa jauh Pemerintah melihat dan menjawab akar persoalannya

4. Menurut saya perekrutan dosen asing untuk bekerja di tanah air harus melalui proses seleksi yang ketat dan sesuai dengan kebutuhan kampus di tanah air. Tidak bisa asal comot, mentang-mentang bule terus dianggap lebih berkualitas dibanding dosen lokal

5. Ini agar jangan sampai TKA yang bekerja sebagai dosen di tanah air hanyalah kualitas buangan yang tidak laku di negaranya. Itulah yang terjadi di banyak negara asia dan timur tengah. Jangan sampai terulang di tanah air

6. Kita tidak mau pengalaman sepakbola Indonesia terulang kembali dimana sejumlah klub hanya merekrut pemain asing terkenal yang sudah di penghujung karirnya. Gak perlu saya sebut nama pemain dan klub bolanya. Jangan sampai dunia pendidikan juga seperti itu

7. Saya jadi dosen di Australia berkompetisi dengan ratusan pelamar dari seluruh dunia. Saya ikuti semua proses seleksi, dari mulai melamar memenuhi kriteria, tahap interview, presentasi/mengajar, sampai cek surat referensi

8. Begitupula tidak ada perbedaan gaji maupun fasilitas antara saya sebagai pelamar asing dengan dosen lokal orang Australia. Semua yang lolos seleksi diperlakukan sama. Tidak ada diskriminasi. Kewajiban dan haknya sama

9. Kalau dosen asing mau dibayar 60 juta per bulan di tanah air, saya usul dosen lokal di tanah air juga harus mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi.

10. Jadikan program dosen asing ini sebagai pintu memperbaiki kualitas dan birokrasi kampus di tanah air. Kalau keberadaan dosen asing tidak dibarengi dengan perubahan internal maka gak akan ngefek hasilnya

11. Selama ini birokrasi kampus kita luar biasa njelimet dengan beban SKS yang berat dan birokrasi yg rumit. Apa mau dosen asing juga dikenai aturan yang njelimet itu? Terbukti, aturan njelimet itu tidak bisa membuat dosen lokal produktif berkarya

12. Saya khawatir kalau ini tidak dibenahi maka dosen asing yang bekerja di tanah air, dengan gaji yg fantastis itu, malah jadi mandul dan tidak produktif berkarya kalau harus terkena aturan yg njelimet di kampus tanah air. membebaskan mereka dari arutan, ini namanya diskriminasi.

13. Ibaratnya kalau Messi dan Ronaldo main di klub-klub bola tanah air, tanpa perbaikan sistem internal, maka kedua pemain top dunia ini bisa mandul mencetak gol. Jangan-jangan bakal patah kaki mereka.

14. Banyak yang menyangka iming-iming menjadi dosen di luar negeri itu karena gaji dollar. Bukan cuma itu sebenarnya. Yang lebih penting justru iklim akademik yang kondusif yang ditawarkan kampus top dunia. Ini yang harus dipahami Pemerintah RI

15. Dosen di Luar Negeri mengajar hanya 6-9 jam per minggu, selebihnya kami riset. Tidak banyak waktu terbuang urusan administrasi spt pengisian borang, dll Urusan teknis disupport oleh pihak admin kampus.

16. Saya hanya wajib berada di kampus Monash University pada hari saya mengajar, tidak ada absensi kehadiran apalagi pakai sidik jari segala. Di luar jam mengajar, saya membimbing disertasi mahasiswa atau menulis paper dan buku.

17. Suasana kondusif mengajar dan meneliti ini yang harus diperbaiki dulu sebelum program 60 juta bayar dosen asing bisa berjalan mulus di tanah air. Tanpa perbaikan internal dan persiapan matang, program ini gak bakal ngefek.

18. Jangankan cuma 60 juta, warga Indonesia yang sudah mapan menjadi dosen di luar negeri, dibayar 100 juta per bulan pun akan mikir-mikir mau balik mengajar ke tanah air karena sistem birokrasi kampus yang tidak kondusif sulit membuat kami produktif berkarya

19. Tanpa perbaikan dan pembenahan sistem, rekrutmen dosen asing hanya akan mendatangkan “orang bule buangan” yang mereka sendiri tdk terpakai di negaranya, dan hanya akan timbulkan kecemburuan dosen lokal akan gaji & fasilitas yg diberi ke dosen asing

20. Menggenjot publikasi riset itu bukan dengan mengadopsi gaya sepakbola kita yang merektur pemain asing, tanpa membenahi sistem pembinaan pemain lokal sendiri. Hasilnya gak ngefek kan?

21. Uang negara akan habis merekrut dosen asing, sementara tujuan menggenjot angka publikasi riset gak akan tercapai, apabila kita fokus dengan gaya “pemain cabutan”. Sebaiknya jadikan program dosen asing ini sebagai pembuka pintu masuk pembenahan dunia pendidikan kita.

22. Sementara ini dulu sekadar berbagi cerita dan masukan untuk Pemerintah RI.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Monash Law School

Posting Dosen Asing di Kampus Tanah Air ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Para Sahabat Nabi Juga Bingung

Memahami teks atau kata-kata ternyata tidaklah mudah. Meski kata-kata atau ucapan itu sangat jelas. Itu jika hanya dengan membaca atau mendengar kata-kata nya saja. Situasi sebelum atau saat ia dikatakan menjadi sangat penting untuk diperhatikan agar bisa memahaminya dengan lebih baik. Kasus kebingungan memahami terjadi di kalangan sahabat Nabi saw. Salah satunya adalah dalam kasus Shalat ‘Ashar di Bani Quraizhah. Kasus ini sangat populer dan sering diceritakan para ahli hukum Islam. Ceritanya begini:

Usai perang Khandaq atau Ahzab, Nabi saw mengumpulkan para sahabatnya. Beliau ingin menyampaikan pengarahan kepada mereka apa yang harus dilakukan berikutnya. Kepada mereka beliau mengatakan:

لَا يُصَلِّيَنَّ اَحَدُكُمْ الْعَصْرَ اِلّا فِى بَنِى قُرَيْظَة

“Jangan lah sekali-kali kalian shalat Ashar, kecuali di Bani Quraizhah”.

Mereka sangat paham kata-kata Nabi itu, karena dinyatakan dengan bahasa yang jelas dan tegas : “jangan sekali-kali…kecuali”. Atau : “tidak seorangpun boleh shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah”. Ini berarti bahwa shalat Ashar hanya boleh dilakukan di Bani Quraizhah. Dan itu berlaku bagi siapapun para sahabat Nabi yang ada di situ.

Tidak ada seorang pun ketika itu yang bertanya. Andaikata Nabi bertanya kepada mereka : “Apakah kalian mengerti kata-kataku ini?”, niscaya mereka akan mengatakan serentak : “mengertiiii”. “Nah sekarang berangkatlah”, kira-kira begitu kata beliau.

Maka merekapun berangkat ke arah perkampungan yang disarankan Nabi itu.

Tetapi di tengah perjalanan mereka melihat ke langit sambil bergumam sendiri : “Mega merah saga menjelang datang. Langit dihiasi warna kuning. Bila shalat Ashar di laksanakan di tempat yg diperintahkan Nabi tadi, mega merah saga pasti merebak, memenuhi langit. Ini berarti waktu shalat Ashar menjelang habis. Bila perjalanan dilanjutkan sampai ke Bani Quraizhah, waktu Ashar pasti habis dan masuk waktu shalat Maghrib.”

Mereka bingung, gaduh dan berdebat: “Kita harus shalat Ashar di mana? Di Bani Quraizhah atau di perjalanan?”, begitu pertanyaannya.

Masing-masing lalu merenung: “Jika ikut perintah Nabi berarti harus di Bani Quraizhah. Tidak bisa tidak. Bukankah perintah Nabi wajib diikuti?. Tetapi akibatnya waktunya sudah habis, lewat, dan kita tidak boleh melaksanakannya di luar waktunya masing-masing. Bukankah al-Qur’an sudah menegaskan hal ini. Akan tetapi jika shalat Ashar dikerjakan di tengah perjalanan, akibatnya tidak menuruti perintah Nabi yang sangat jelas itu. Jadi kita akan mengikuti siapa? Allah atau Nabi?. Tapi bagaimana mungkin itu boleh terjadi?.

Lalu apa yang kemudian terjadi? Ada sahabat yang shalat di perjalanan, dan ada yang di kampung Bani Quraizhah, sesuai dengan pendekatan/pemahaman masing-masing.

Manakala kemudian bertemu Nabi, mereka menceritakan kejadian itu, sambil meminta pandangan beliau tentang siapa di antara dua kelompok itu yang benar. Nabi tersenyum, tidak marah dan tidak menyalahkan siapapun. “Kalian telah berpikir keras dan untuk itu semua kalian mendapat pahala”.

Aduhai. Betapa bijaksana dan lembutnya Rasulullah Saw. Beliau tidak menyalahkan salah satu pikiran sahabat-sahabatnya, malahan memberikan penghargaan kepada keduanya atas usaha mencari kebenaran

Para ahli hukum Islam mengomentari peristiwa ini. Mereka yang shalat di Bani Quraizhah adalah penganut Mazhab “Nashshiyyah” (tekstual/harfiah). Sementara yang salat di tengah perjalanan, adalah penganut madzhab “kontekstual”. Ada yang menyebutnya Mazhab “Maqashidiyah”. Wallahu A’lam.

Begitu dulu. Jika aku masih bergairah menulis, aku akan mengulangi cerita tentang “Nasi Goreng”.

24.04.18
HM

The post Para Sahabat Nabi Juga Bingung appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Makna Al-Quran tak terbatas

Diskusi dengan mahasiswa masih berlanjut. Tetapi kali ini dengan mahasantri, sebutan untuk mahasiswa “Ma’had Aly”, Sekolah Tinggi pasca pesantren. Mereka pada umumnya sudah bisa/lancar membaca “kitab kuning”, sebutan untuk buku berbahasa Arab “gundul” (tanpa tanda baca).

Sebagian dari mereka membaca tulisan ku di FB tentang “Memahami Hukum Allah” dalam 5 seri.

“Bagaimana kalau ada golongan yang hanya mempercayai makna tekstual, (zhahir) atau harfiah saja, menolak logika dan makna majaz”?. tanya salah seorang mereka.

“Tak ada seorangpun yang bisa menghalangi pilihan seseorang, dan tak seorang pun bisa dan boleh memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Tetapi sayang sekali, karena mereka membatasi kehendak Tuhan”, kataku.

Aku kemudian menyampaikan pandangan Imam al-Ghazali dalam karya Magnum Opusnya “Ihya Ulumuddin”. Beliau mengatakan :

قال الغزالى فى الاحياء : فاعلم ان من زعم ان لا معنى للقرآن الا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب فى الاخبار عن نفسه ولكنه مخطئ فى الحكم برد الخلق كافة الى درجته التى هى حده ومحطه بل الاخبار والاثار تدل على ان فى معانى القرآن متسعا لارباب الفهم. …

Ketahuilah bahwa orang yang menganggap bahwa al-Qur’an hanya memiliki makna lahir (literal), sesungguhnya dia tengah mengabarkan tentang keterbatasan ilmu (pengetahuan) nya sendiri. Itu benar untuk dirinya sendiri. Akan tetapi dia melakukan kekeliruan manakala dia mengharuskan semua orang mengikuti pandangannya yang terbatas itu”…”Banyak hadits dan pandangan para sahabat Nabi yang menunjukkan bahwa makna al-Qur’an sangatlah luas menurut para pemilik pikiran yang dalam”. (Lihat, Ihya Ulum al-Din, I/289).

Masih dalam Ihya. Abdullah Ibnu Mas’ud, sahabat Nabi paling dekat, mengatakan :

وقال ابن مسعود : من اراد علم الاولين والاخرين فليتدبر القرآن وذلك لا يحصل بمجرد تفسيره الظاهر”.( الاحياء 1/289).

“Siapa yang ingin mendalami pengetahuan orang-orang (sahabat-sahabat Nabi) yang paling awal dan yang belakangan, hendaklah dia merenungkan isi Al-Qur’an. Hal itu tidak bisa diperoleh dengan hanya memaknai lahiriahnya saja”. (Ihya, I/289).

Imam Muhammad Sahl bin Abdullah al-Tustari (w. 283 H), seorang sufi besar asal Tustar, menyampaikan pandangan yang menakjubkan :

لو أعطى العبد بكل حرف من القرآن الف فهم لم يبلغ نهاية ما اودعه الله فى أية من كتابه لانه كلامه وكلامه صفته وكما انه ليس لله نهاية فكذلك لا نهاية لفهم كلامه. وانما يفهم كل مقدار ما يفتح الله عليه .( الزكشى، البرهان فى علوم القران، جزء ١ ص ٩)

“Andaikata seorang hamba Allah dianugerahi seribu pemahaman atas satu huruf al Qur’an, dia tidak akan mencapai maksud Tuhan yang diungkapkan-Nya dalam kitab suci-Nya. Karena ia adalah Kalamullah. Kata-kata Tuhan adalah Sifat-Nya. Tuhan adalah Maha Tak Terbatas, maka kata-kata-Nya juga tak terbatas. Apa yang dapat dipahami oleh masing-masing orang adalah sebatas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya”. (Al Zarkasyi, Al Bahr al-Muhith fi Ulum al Qur’an, I/9).

Para ulama masa awal (al Salaf al Shalih) dan para maha guru kebijaksanaan tidak pernah membatasi pemaknaan ayat-ayat al Qur’an hanya satu arti. Satu kata atau kalimat dipahami oleh banyak ulama dengan beragam dan berbeda-beda makna dan pengertian, dan mereka saling menghargai dan menghormati pendapat lainnya dengan seluruh ketulusan hatinya. Keberagaman pemaknaan itu memperlihatkan betapa luasnya makna Al-Qur’an sekaligus betapa indahnya bagai bunga warna warni di taman surgawi.

Usai hadiri Harlah NU ke 95 di Tegalgubug, Cirebon, dalam rinai hujan yang merindukan
23.04.18

The post Makna Al-Quran tak terbatas appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Teks Universal versus Teks Particular

Sumber-sumber utama Islam: al-Qur’an dan Hadits, menyediakan dua katagori teks. Yakni teks-teks universal/Kulliyat dan teks-teks particular/Juz’iyyat. Teks universal adalah teks yang mengandung pesan-pesan kemanusiaan, ditujukan kepada semua orang di segala ruang dan waktu. Ia berisi prinsip-prinsip fundamental atau dalam konteks sekarang bisa disebut prinsip-prinsip kemanusiaan universal, sebagaimana antara lain tertuang dalam DUHAM atau “Al-I’lan al-Alamy li Huquq al-Insan”.

Imam al-Ghazali (w. 1111 M), pemikir ulung Islam, menyebut ini dengan istilah “Al Kulliyyat al Khams” (Lima prinsip Universal). Yaitu hifzh al din” (perlindungan terhadap keyakinan), hifzh al nafs (perlindungan atas hak hidup), hifzh al ‘aql (perlindungan atas hak berpikir dan berekspresi), hifzh al nasl/al ‘irdh (perlindungan atas hak-hak reproduksi dan kehormatandiri) dan hifzh al mal (perlindungan atas hak milik).

Contohnya adalah ayat-ayat tentang kebebasan (Q.S. al-Baqarah, 2:256: “tidak ada paksaan dalam agama”), kesetaraan manusia (Q.S. Al-Hujurat, 49:12) : “…sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di Mata Allah adalah yang paling bertaqwa”), penghormatan atas martabat manusia (Q.S. al-Isra, 17:70) “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam), penegakan keadilan bagi semua manusia(Q.S. Al -Maidah, 8, 42), “Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil)”, sikap jujur (Q.S. al-Nisa, 4:9: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang jujur) dan ajaran-ajaran moral yang lain. Para ahli Islam menyebutkan katagori ini sebagai “al-Muhkamat” (ayat-ayat yang kokoh). Imam Al Ghazali menyebutnya sebagai “Maqashid al Syari’ah”, misi/tujuan Agama, yang kepadanya seluruh gagasan manusia harus disandarkan.

“Di manakah ia bisa ditemukan?”, kata mahasiswa.
Saya bilang : “pada umumnya pada ayat-ayat Makiyyah”.

Baca Juga:

Sementara katagori teks partikular adalah teks yang menunjukkan atau membicarakan kasus atau masalah tertentu. Semua teks yang berbicara tentang hukum adalah teks partikular. Karena hukum memang membicarakan suatu masalah atau masalah tertentu. Teks-teks particular muncul sebagai respon atau jawaban atas suatu peristiwa atau kasus yang terjadi. Karena sifatnya yang demikian maka ia selalu terkait dengan konteks tertentu. Oleh karena itulah ia harus dimaknai secara kontekstual. Isu-isu tentang kepemimpinan (qiwamah) laki-laki atas perempuan, perwalian perempuan oleh laki-laki (wilayah), poligami, cerai di tangan laki-laki dan lain-lain adalah isu-isu partikular dan karena itu pemaknaannya bersifat kontekstual. Ada orang yang menyebut ayat-ayat seperti ini masuk dalam katagori “mutasyabihat”, interpretable, dapat diinterpretasikan, dan oleh karena itu bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda.

Bagaimana jika dua model ayat tersebut bertentangan?. Pandangan mayoritas ahli hukum Islam mengatakan bahwa apabila terjadi pertentangan antara teks umum atau universal dengan teks particular, teks khusus, maka teks partikular (juz’i) membatasi berlakunya teks umum/universal. Teks partikular harus diutamakan.

Dalam bahasa Ushul fiqh : “Hamil ‘Am ‘ala al-Khash”.

Pandangan ini ditolak keras oleh Imam al Syathibi. Ia mengatakan bahwa :

أن قضايا الاعيان جزئية والقواعد المطردة كليات . ولا تنهض الجزئيات ان تنقض الكليات . ولذلك تبقى الكليات جارية فى الجزئيات وان لم يظهر فيها معنى الكليات على الخصوص

“Isu-isu sosial/hukum/kasus bersifat partikular, sedangkan dasar-dasar hukum-hukum bersifat universal. Aturan-aturan khusus tidak bisa membatasi aturan-aturan yang bersifat universal. Karena itu, hukum universal harus selalu terdapat di dalam aturan-aturan partikular tersebut meskipun tidak mudah dilihat”.

Prof. Khaled Abou Fadl menjelaskan pandangan al-Syathibi di atas dengan mengatakan :

“Keumuman atau universalitas hukum harus diutamakan ketimbang petunjuk-petunjuk khusus, dan semua ketentuan hukum harus dituntun oleh tujuan-tujuan syari’ah (Maqashid al-Syari’ah). Keumuman dan universalitas hukum harus menuntun, membatasi, dan jika perlu meniadakan hal-hal yang bersifat khusus. Di samping itu,petunjuk-petunjuk hukum yang bersifat umum harus diberi bobot yang lebih besar dalam menganalisis petunjuk-petunjuk hukum yang bersifat khusus”.

Misalnya, al-Qur’an menyatakan : ”Laki-laki adalah “qawwam” (pemimpin) atas kaum perempuan, disebabkan Allah mengunggulkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena laki-laki memberikan sebagian nafkahnya”.(Q.S. Al-Nisa,[4:34]. Pada tempat lain Tuhan mengatakan : ”Wahai Manusia, Kami ciptakan kalian laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling terhormat di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa”.(Q.S. Al-Hujurat,[49;13].

Teks al-Qur’an [4:34] menjadi dasar utama untuk menjustifikasi otoritas dan sperioritas laki-laki. Sementara Q.S 49:13, menegaskan kesetaraan manusia. Ayat ini bersifat universal.

Menurut Syathibi, ayat tentang kesetaraan manusia bersafat pasti, tetap, dan berlaku universal, oleh karena itu harus diutamakan. Sedangkan ayat tentang kepimimpinan laki-laki adalah particular, bersifat khusus dan sosiologis, maka ia berlaku kontekstual.
Dari uraian di atas kita setidaknya memperoleh suatu gambaran bahwa respon atau sikap kaum muslimin atas isu-isu gender adalah beragam, meskipun mengacu pada sumber referensi yang sama. Keberagaman pandangan ini muncul dari perbedaan mereka dalam membaca atau memahami teks. Sebagian memahaminya secara tekstual/harfiyah, dan menganggapnya sebagai kebenaran final, tanpa harus mempertimbangkan aspek argument rasional maupun realitas di luarnya. Sementara pandangan yang lain membaca teks dengan segenap makna terdalamnya, dan holistic, tertama keberadaannya yang tidak bisa lepas dari ruang dan waktu yang melingkupnya. Teks tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi dari situasi peristiwa kehidupan yang nyata yang senantiasa mengalami proses perubahan dan dinamis. Setiap pendapat pikiran adalah refleksi dari diri yang hidup dari lingkungannya masing-masing.

Pandangan yang terakhir ini menarik hati saya, dan saya percaya bahwa pesan-pesan agama yang ditulis dalam teks-teks keagamaan selalu mengandung tujuan dan ruh kemanusiaan. Tujuan ini dapat dipelajari dan diusahakan untuk diwujudkan. Ia bersifat rasional, dan bukan masalah yang harus terkait dengan kebenaran scriptural semata. Dari sini saya ingin menyatakan sekali lagi bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara. Kesetaraan manusia, menurut saya adalah konsekuensi paling bertanggungjawab atas pengakuan akan Ke-Esaan Tuhan. Atas dasar ini maka keadilan jender harus ditegakkan. Keadilan adalah bertindak proporsional, dengan memberikan hak kepada siapa saja yang memilikinya, bukan berdasarkan jenis kelamin atau simbol-simbol primordialnya. Tuhan tidak menilaimu dari wajah dan tubuhmu, melainkan dari hati dan tindakanmu”.

Jombang, 21.04.18

The post Teks Universal versus Teks Particular appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Taqwa

Setiap khutbah Jum’at, seorang khatib wajib menyampaikan pesan taqwa. Pada umumnya ia mengatakan : “wahai manusia, bertaqwa lah kalian kepada Tuhanmu dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim”.
Dan :

وتزودوا فإن خير الزاد التقوى

“Bawalah bekal. Maka bekal yang terbaik adalah taqwa”.

Lalu apakah Taqwa itu? Ada banyak jawaban. Pada umumnya ia dimaknai: menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya”.

Ada yang menjawab : “Jami’ Kill Khair”, segala yang baik-baik.

Ada yang bertanya : “apa saja yang baik itu yang harus diikuti dan apa saja yang harus dihindari?.

Kebaikan atau keburukan tentu saja banyak dan bermacam-macam. Beberapa di antaranya sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Qur’an, melalui ayat ini :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan segeralah kamu meminta ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan emosi marahnya dan memaafkan (kesalahan) orang (yang menzaliminya). Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan”.(Q. S. Ali Imran 133-134).

Betapa indahnya ayat Al-Qur’an ini.

20.04.18

The post Taqwa appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Kegelisahan Umar bin Al Khattab

Umar bin Khattab (w. 24 H) adalah pengganti kepemimpinan Nabi ke dua sesudah Abu Bakar al-Shiddiq. Ia menjadi khalifah atas penunjukan Abu Bakar menjelang wafatnya. Para sahabat kemudian menyetujuinya. Ia lebih suka disebut “Amir al-Mukminin”, daripada: “Khalifah”. Meski pemimpin besar dengan kekuasan yang luas, gaya hidup Umar amat bersahaja. Ia menolak gaya hidup para raja. Kepemimpinannya dikenal tegas tetapi adil. Sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar menginisiasi sistem kalender Islam yang diawali dari tanggal 1 Hijriah Nabi..

Umar bin Khattab dikenal sangat cerdas, kreatif, inovatif dan visioner. Abbas Mahmud Aqqad menyebutnya “Abqari” (si genius). Beberapa inisiatifnya mendapat respon positif Tuhan. Para ahli Islam menyebutnya dengan istilah “Muwafaqat Umar” .

Imam al-Suyuthi menyebut ada 20 gagasan/pendapat/usulan Umar kepada Nabi yang dengan segera disetujui Tuhan. Antara lain: “Umar berharap “maqam” Ibrahim dijadikan tempat shalat. Lalu turunlah ayat yang meresponnya (Q.s. al-Baqarah, 125).
Kedua, Umar berharap ruang pertemuan laki-laki dan perempuan di rumah Nabi dipasang “Hijab”(tirai pembatas). Lalu turunlah ayat Hijab (Q.s. Al-Ahzab, 53).

(Catat : Hijab artinya tirai, kain penutup yang memisahkan dua kelompok, bukan kerudung/penutup kepala perempuan). Ketiga, Umar menyesal telah berhubungan intim dengan isterinya pada malam hari bulan Ramadan. Lalu turunlah ayat : “Aku halalkan kalian berhubungan intim dengan isteri pada malam bulan puasa”.(Q.s. Al-Baqarah, 187).

Umar juga banyak melakukan pembaruan hukum. Sejumlah keputusan hukumnya menimbulkan kontroversi. Soal ini mungkin lain kali ditulis.

Baca juga: Bagaimana Memahami Hukum Allah?

Kegelisahan Umar

Imam al-Syathibi dalam bukunya yang sangat terkenal “Al-Muwafaqat fi Ushul al-syari’ah” menulis “ :

خلا عمر ذات يوم فجعل يحدث نفسه : كيف تختلف هذه الامة ونبيها واحد وقبلتها واحدة؟ فقال ابن عباس: ” يا امير المؤمنين, إنا أنزل علينا القرآن فقرأناه وعلمنا ما فيم نزل, وانه سيكون بعدنا أقوام يقرؤون القرآن ولا يدرون فيم نزل فيكون لهم فيه رأى, فإذا كان لهم فيه رأى إختلفوا, فإذا اختلفوا إقتتلوا. قال فزجره عمر وانتهره, فانصرف ابن عباس,ونظر عمر فيما قال, فعرفه فأرسل اليه فقال : اعد علي ما قلت. فأعاده عليه فعرف عمر قوله واعجبه, وما قاله صحيح فى الاعتبار ويتبين بما هو اقرب. (الموافقات, ج 3 ص 348)

Suatu hari, Umar merenung seorang diri di suatu tempat yang sepi. Ia bergumam sendiri : “Mengapa masyarakat muslim sering konflik, dan bertengkar, padahal Nabinya sama dan kiblatnya juga sama”. Tiba-tiba Abdullah bin Abbas, lewat dan melihat Umar bin al-Khattab yang tampak gelisah itu. Ia adalah sahabat yang didoakan Nabi “ semoga dia diberikan pengetahuan tentang agama dan cara memahami teks agama”. Ia lalu menghampiri dan menanyakan kepada Umar ; ”apakah gerangan yang sedang engkau pikirkan, wahai Amir al-Mukminin”. Umar lalu menyampaikan isi pikiran di atas. Ibnu Abbas mencoba berbagi pendapat : “Tuan Amirul Mukminin yang terhormat. Teks-teks suci Al-Qur’an diturunkan kepada kita dan kita membacanya. Kita mengetahui dalam hal apa dan bagaimana ia diturunkan. Kelak di kemudian hari orang-orang sesudah kita (generasi demi generasi) juga akan membaca al-Qur’an, tetapi mereka tentu tidak mengetahui dalam hal apa dan bagaimana ia diturunkan. Masing-masing orang itu lalu berpendapat menurut pikirannya sendiri-sendiri. Mereka kemudian saling menyalahkan satu atas yang lain, dan sesudah itu mereka boleh jadi akan saling membunuh (atau bermusuhan)”. Umar menghardik Ibnu Abbas: kau jangan bicara sembarangan!. Maka Ibnu Abbas pulang meninggalkannya sendirian. Umar tercenung dan merenungi kata-katanya, lalu memanggilnya dan memintanya mengulangi kata-katanya. Umar membenarkannya sambil mengaguminya sebagai kebenaran yang perlu dipegang dan dijadikan dasar.” (Abu Ishaq al-Syathibi, Al-Muwafaqat, III/348).

Ya, kita sering membaca Al-Qur’an seayat demi sedikit ayat tanpa melihat ayat-ayat yang lain dan tanpa mencari informasi tentang kapan, di mana, kepada siapa ia ditujukan, mengapa dan dalam situasi apa ia diturunkan. Lalu membuat kesimpulan berdasarkan makna tekstualnya, semata. Ini akan bisa menimbulkan kontradiksi antar ayat dan kekeliruan besar.

Al-Syathibi memberi contoh. Ibnu Wahb bertanya kepada Nafi’. Bagaimana pendapat Ibnu Mas’ud tentang pikiran dan tindakan kelompok sempalan ”Haruriyah” atau biasa dikenal sebagai kelompok radikal Khawarij. Ia menjawab: ”Mereka makhluk Tuhan paling buruk (Annahum Syirar Khalq Allah). Mereka berargumen dengan teks-teks agama yang diturunkan (diarahkan) terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran (al-Kuffar/orang-orang kafir), tetapi menggunakannya untuk orang-orang yang percaya kepada (al-Mu’minun/orang-orang beriman)”.

Informasi di atas memberikan pengetahuan kepada kita bahwa setiap teks tidak dihadirkan ke dalam ruang sunyi-senyap-sepi, melainkan selalu ada realitas manusia dengan beragam nuansa dialeka sosial-budaya-politik-ekonominya dan peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya dengan seluruh kompleksitasnya.

Teks-teks hadir untuk merespon realitas dan peristiwa-peristiwa tersebut. Ia tidak ada (hadir) dengan sendirinya. Ia ada (hadir), karena ada yang mengadakan/menghadirkannya, dan ada alasan mengapa ia perlu atau harus mengada.

فَاِذَا عَرَفَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ

“Maka, jika orang mengetahui latarbelakang sejarah teks, dia akan tahu apa maksudnya”.

الجهل بالسبب موقع فى الاشكالات

“Ketidak tahuan orang atas latarbelakang kehadiran teks akan membuatnya terperangkap dalam situasi problematic dalam memahami teks dengan benar”.
Pada akhirnya, kegagalan memahami itu semua, bisa menjadi bencana besar bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Bojonegoro, 20.04.18
HM

The post Kegelisahan Umar bin Al Khattab appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Wali Ashif

Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur’an. Tetapi, konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif.

Siapa dia sebenarnya? Wali Ashif hidup pada masa Nabi Sulaiman. Dalam surat an-Naml (QS 27: 38-40) diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman meminta para pembesar kerajaannya memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Jin Ifrit menjawab, “Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Ucapan Ifrit itu ditimpali oleh seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip!” Nabi Sulaiman berkedip, dan singgasana Bilqis sudah berada dihadapannya. Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur’an dengan “seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab”.

Literatur sufi menyebut orang tersebut bernama Wali Ashif. Sufi yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud itu sebenarnya adalah malaikat. Entahlah siapa dia sebenarnya. Yang jelas dia memiliki ilmu dari al-Kitab. Yang pasti dia memiliki kemampuan melebihi jin ifrit. Mari kita pelajari al-Kitab yang diturunkan Allah, mari kita raih cahaya al-Kitab itu. Jika kita mampu menguasai ilmu dari Kitab Suci maka kemampuan gaib kita melebihi kemampuan jin ifrit.

Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai “petunjuk bagi orang yang bertakwa”. Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin. Ah…betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin.

Ya Ilahana, Ilaha kulli sya’i, ilahan wahidan La ilaha illa anta

(Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)

Konon dengan do’a ini Wali Ashif mampu memindahkan singgasana Bilqis sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip.

Armidale, 7 Mei 1998.

Posting Wali Ashif ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Khidhr …oh….Khidhr

Masih hidupkah Khidhr? Entahlah, saya memang mendengar cerita seorang ‘alim yang mengaku berjumpa Khidhr. Nama Khidhr memang sudah terlanjur melegenda, meskipun al-Qur’an sendiri tidak pernah menyebut nama Khidhr secara terang-terangan. Al-Qur’an melukiskan Khidhr dengan “…seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS 18:65)

Perhatikan redaksi yang digunakan al-Qur’an. Ternyata, Khidhr atau apapun nama beliau hanyalah satu dari sekian banyak hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu. Boleh jadi banyak sekali hamba Allah yang punya kelebihan seperti Khidhr, tetapi Allah tidak beritakan kepada kita atau kita memang tidak mengetahuinya. Tapi itulah Khidhr, sebuah nama yang terlanjur melegenda dan menyimpan misteri yang tak kunjung habis dibicarakan.

Dalam surat al-Kahfi diceritakan bagaimana Nabi Musa ingin berguru dengan Khidhr. Khidhr semula menolak, namun Musa terus mendesak. Perhatikan redaksi al-Qur’an ketika mengutip penolakan Khidhr, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS 18:67-68)

Khidhr menolak Musa bukan dengan argumen bahwa Musa itu bodoh atau malas. Khidhr menolak Musa karena Musa tidak akan bisa bersikap sabar. Soalnya, kata Khidhr, bagaimana kamu bisa sabar pada persoalan yang kamu tidak punya ilmu tentangnya?

Begitulah yang terjadi. Musa selalu memprotes dan menyalah-nyalahkan perbuatan Khidhr yang, dipandang dari sudut pengetahuan Musa, merupakan perbuatan yang keliru.

Sayang, kita jarang mau belajar dari kisah Khidhr dan Musa ini. Seringkali kita sebar kata “sesat”, “kafir”, “menyimpang”, “bid’ah” kepada saudara-saudara kita, yang dipandang dari sudut pengetahuan yang kita miliki, melakukan kesalahan besar.

Kita menjadi emosional, kita menjadi tidak sabar. Pada saat itu, ada baiknya kita ingat kembali kisah Khidhr dan Musa. Kisah Khidhr mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran merupakan lambang tingginya pengetahuan.

Armidale, 7 Mei 1998.

 

Posting Khidhr …oh….Khidhr ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Kuda Sulaiman

Masih ingat peristiwa Nabi Sulaiman dengan sekawanan semut? Dalam peristiwa itu Nabi Sulaiman memanjatkan syukur atas kelebihan yang diberikan kepadanya. Dari seekor semut, Nabi Sulaiman mampu mengambil pelajaran untuk bersyukur kepada Allah.

Kali ini Nabi Sulaiman alaihis salam diuji Allah dengan sebuah kuda. Nabi Sulaiman terpesona dengan kuda-kuda yang tenang di saat sedang berhenti dan sangat cepat kalau sedang berlari. Saking terpesonanya melihat kuda-kuda tersebut, tanpa sadar matahari mulai beranjak meninggalkan siang. Habislah waktu shalat Ashr. Nabi Sulaiman perlahan menyadari bahwa kuda-kuda itu telah menyebabkan dia lalai dari mengingat Allah. Setelah beliau sadar akan kesalahannya. Beliau meminta kuda-kuda itu didatangkan kepadanya dan beliau potong kaki dan leher kuda itu. (QS 38: 31-33)

Banyak penafsiran mengenai kisah ini. Bagi saya, kisah ini memberi kita pelajaran bahwa tak henti-hentinya Allah menguji kita. Kali pertama, mungkin kita diuji dengan kemiskinan; pada kali berikutnya kita diuji dengan kekayaan. Pada satu saat kita diuji dengan sebuah penyakit; di lain kejap kita dicoba dengan kesehatan yang kita miliki. Semut yang melintas didepan kita, sekawanan kuda yang berlari dengan cepat, mobil yang kita miliki (setelah menabung bertahun-tahun), anak yang dititipi Tuhan kepada kita, jabatan yang diamanahkan kepada kita, semuanya merupakan ujian dari Allah.

Pelajaran yang kedua yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah ketika Nabi Sulaiman memotong leher dan kaki kuda. Bagi saya, ini bisa kita tafsirkan secara simbolik. Mari kita hilangkan segala sesuatu yang bisa membawa kita ke jalan yang tidak benar atau lalai dari mengingat Allah. Dalam usul al-fiqh ini disebut sadd adz-dzari’ah. Artinya, menutup pintu yang bisa membawa kita jatuh ke dalam perbuatan yang tercela.

Sayangnya, alih-alih menutup pintu itu, kita malah membukanya lebar-lebar. Kita bukannya mencontoh perilaku Nabi Sulaiman yang segera sadar akan kelalaiannya, malah seringkali kita semakin “keasyikan” dengan perbuatan maksiat itu. Ketika orang-orang kecil sedang kelaparan, kita makin asyik dengan korupsi dan kolusi yang kita lakukan. Ketika orang menuntut pemerintahan yang bersih, kita malah keasyikan dengan nepotisme. Ketika rakyat semakin menjerit dengan melambungnya harga-harga, kita naikkan lagi harga BBM dan listrik.

Sayang, kita tidak mau belajar dari kisah Nabi Sulaiman…

 

Armidale, 6 Mei 1998.

Posting Kuda Sulaiman ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Bagaimana Memahami Hukum Allah?

Tadi pagi aku diskusi dengan beberapa mahasiswa tentang situasi mutakhir Indonesia yang centang perenang, karut bin marut, saling dendam kesumat dan saling menghancurkan karakter. Perbincangan terjadi dan berlangsung damai, saling mendengar dan saling merespon tanpa emosi.

Lalu salah seorang dari mereka bilang dengan percaya diri: “Kita ini tidak berhukum dengan hukum Allah dan tidak mengikuti Allah. Kita hanya mengandalkan akal saja. Inilah jadinya. Kacau balau”.

Aku bilang : “Anda benar. Saya sepakat bahwa kita harus taat kepada Allah dan berhukum dengan hukum Allah. Semua orang yang beriman niscaya setuju dengan pernyataan itu. Tapi persoalannya tidaklah sesederhana itu. Bagaimana kita dapat mengetahui hukum Allah itu, yang manakah ia?.

“Itu ada dalam Al-Qur’an”, katanya lagi.

“Ya. Tapi bukankah al-Quran itu adalah susunan huruf-huruf?. Huruf-huruf itu bicara atau mengatakan apa?. Ia adalah simbol-simbol dari kehendak-kehendak-Nya. Bagaimana kita memaknai simbol-simbol itu?.

Dalam sejarah kaum muslimin sampai hari ini selalu terjadi perbedaan pendapat hukum di kalangan para ahli. Mengapa kaum muslim sering tidak sepakat atas maksud suatu ayat, sehingga melahirkan kesimpulan yang berbeda-beda? Mengapa ada ribuan tafsir yang berbeda-beda dan beragam? Mengapa ada banyak aliran hukum (Mazhab) di kalangan kaum muslimin, padahal sumber hukum mereka sama: al-Qur’an dan Hadits (al-Sunnah)?. Yang pasti dari Allah itu yang mana di antara banyak pendapat itu, atau bagaimana dan seperti apa?. Belum lagi jika bicara tentang “Qiroat Sab’ah”, 7 model bacaan. Perbedaan Qiroat itu, bisa menimbulkan perbedaan hukum.

Lalu saya segera menanyakan lagi : “Siapakah yang menafsirkan, memaknai atau memahami ayat-ayat Al-Qur’an itu?. Dan dengan apakah ia menafsirkan, memaknai atau memahaminya?.”

Demikian pula halnya dengan hadits Nabi saw. Bukankah semuanya kini sudah dalam bentuk tulisan, hasil kumpulan atau kompilasi para ahli. Dan kita melihat penilaian tentang autentisitas atau validitas suatu hadits dari sisi transmisi beragam. Meskipun ada kesepakan tentang autentisitas atau validitas (kesahihan) sebuah hadits dari sisi “sanad” (transmisi), tetapi apakah sahih pula dari aspek matan (isi/konten). Banyak ahli hadits mengatakan :

ليس كل ما صح سنده صح متنه

“Tidak semua hadits yang valid sanad (transmisi) nya, sahih mantannya”.

Dalam redaksi Imam Nawawi, ahli hadits besar dalam kitab “al-Taqrib”, disebutkan :

أن صحة الإسناد لا تقتضي صحة المتن

“kesahihan sanad (rangkaian Nara sumber) tidak serta merta berarti sahih matan (konten) nya.

Para mahasiswa itu diam saja. Ada yang mengangguk-angguk. Lalu saya menulis di white board :

وهذا القرآن إنما هو خط مسطور بين دفتين لا ينطق إنما يتكلم به الرجال. (الطبرى: تاريخ الأمم والملوك)

“Al-Qur’an ini adalah tulisan yang ditulis di antara dua tepi. Ia tidak berkata-kata (berpikir), sesungguhnya yang berkata adalah orang”.(Imam al-Thabari dalam “Tarikh al-Umam wa al-Muluk”).

Itu adalah kata-kata Ali bin Abi Thalib dalam perdebatannya dengan orang-orang khawarij pada peristiwa “Tahkim” di Daumah al-Jandal, tahun 37 H, usai perang saudara di Shiffin, di hulu sungai Eufrat (First), Irak.

Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah mengatakan :

القران حمال أوجه

“al-Qur’an itu mengandung berbagai dimensi makna”.

The post Bagaimana Memahami Hukum Allah? appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Egoisme

Ada firman Allah dalam Al-Qur’an yang selalu aktual :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa derita dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan derita itu, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) derita yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(Q.s. Yunus 12).

Pernyataan Tuhan ini memberi pengetahuan/pelajaran kepada kita bahwa manakala seseorang mengalami kesusahan, kesulitan, menderita dan tak berdaya, dia baru meminta tolong kepada Allah, sambil menangis-nangis, rajin ibadah dan kembali mengikuti ritual-ritual keagamaaan, termasuk “hijrah”. Tetapi manakala kesusahan itu hilang, kepentingan diri telah terpenuhi, Tuhan dia tinggalkan. Tuhan tak diperlukan lagi. Mungkin juga mendurhakai-Nya. Ini karakter orang-orang yang zalim dan tak bersyukur kepada Tuhan.

Belakangan model begitu digunakan sebagian orang, tetapi dalam bentuk dan cara lain. “Dan bila seseorang atau sekelompok orang sedang menderita atau merasa kepentingannya dirugikan atau kawatir dirugikan atau terancam ia akan meminta orang lain untuk menolongnya atau mengajak mereka melawan orang-orang yang membuatnya menderita atau merugi. Dan bila tak lagi merasa demikian, ia akan diam saja, bahkan mengingkari bahwa dirinya pernah meminta tolong orang lain atau mengajak rame-rame membela dirinya. Untuk menarik hati mereka yang diajak itu dan agar dianggap benar maka disampaikan lah dalil-dalil agama yang mereka interpretasikan sendiri yang sesuai dengan kepentingannya, serta digunakanlah simbol-simbol yang dianggap oleh dirinya dianjurkan agama”.

Mengapa begitu?. Sikap seperti itu berakar dari karakter utama manusia : mencintai diri (hubb dzatih). Dari sini berkembang menjadi ingin selamat, lalu ingin lebih nikmat dan akhirnya ingin hidup selama-lamanya.

16.04.18
HM

The post Egoisme appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Kiyai dan Ayam

Selepas Isya’, setelah merasa cukup memberikan pengajian selama bertahun-tahun pada santrinya, seorang Kiyai memberikan santrinya masing-masing seekor ayam. Kiyai berpesan, “terimalah ayam ini, lalu sembelihlah ditempat, dimana tidak ada yang bisa melihat apa yang kamu lakukan.”

Subuh itu udara cukup dingin, namun Kiyai dan para santrinya sudah berkumpul di Langgar. Selepas shalat subuh berjama’ah, Kiyai bertanya perihal ayam yang diberikannya itu. Seorang santri senior meminta ijin berbicara, “Kiyai, saya sudah jalankan pesan Kiyai untuk menyemblih ayam itu di tempat yang tak bisa ada yang melihat saya menyemblih ayam itu.”

Kiyai tersenyum, “Dimana kamu sembelih?”

Santri menjawab, “Di belakang sumur, malam tadi tepat jam 12.00”

“Kamu yakin tak ada yg melihat perbuatan itu?,” tanya Kiyai lagi.

“Yakin…a’inul yakin, Kiyai, saya sudah periksa berulang kali tempat itu dan sudah sangat berhati-hati” jawab santri dengan takzimnya.

Kiyai menghela nafas. Dia tatap seluruh santrinya. Lalu dengan perlahan dia bertanya, “Bagaimana dengan yang lain?” Satu-satu melaporkan “tempat rahasia” mereka saat menyemblih ayam tersebut.

Kiyai sekali lagi menghela nafas. Dengan suara berat, Kiyai berkata, “Kalian semua tidak lulus…. berbulan-bulan aku mengajarkan Islam kepada kalian, sayang, kalian tak mampu menangkapnya dengan baik. Ketika kalian merasa telah menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat perbuatan kalian, kalian lupa, wahai anak-anakku, bahwa sungguh tak ada tempat di dunia ini yang lepas dari pengamatan Allah!” “Ketika kalian sembelih ayam itu, tak sadarkah kalian bahwa Allah melihat perbuatan itu.”

Saya menghela nafas mengingat kembali kisah di atas. Betapa sering kita lupa bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui perbuatan kita. Ketika kita “sembelih” nasib bawahan kita, kita lupa bahwa Allah melihat perbuatan kita. Ketika kita berhasil meloloskan diri dari kecurigaan isteri untuk berdua-duaan saja dengan wanita yang bukan hak kita di sebuah motel selama berjam-jam, kita lupa bahwa Allah tak bisa kita kelabui.

Saat kita sukses merubah laporan keuangan sehingga di akhir tahun anggaran, terdapat banyak dana sisa yang bisa kita “hanguskan”, kita juga lupa bahwa Allah akan “meng-audit” laporan keuangan tersebut di akherat nanti. Manakala kita tunjuk pihak-pihak lain sebagai kambing hitam dari persoalan moneter di negara kita, dan melupakan bahwa kitapun memiliki “saham” dari persoalan ini, kita lupa bahwa Allah bisa membedakan dengan jelas mana kambing yang “hitam” dan mana yang “putih”.

Ah…bisakah kita melepaskan diri dari “mata” Allah, bisakah kita menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat apa yang kita lakukan…???

Ya Allah, ampuni kami…

 

Armidale, 22 Februari 1998.

Posting Kiyai dan Ayam ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Lebih Panas Mana?

Seorang Raja mengumumkan sayembara:”Barangsiapa yang sanggup berendam di kolam kerajaan sepanjang malam akan dihadiahi pundi-pundi emas.” Sayembara ini sepintas terlihat mudah, namun berendam di kolam pada saat musim dingin tentu bukan perkara mudah. Walhasil, tak ada yang berani mencobanya.

Seorang miksin dari pelosok pedesaan, karena tak tahan dengan tangisan kelaparan anaknya, memberanikan diri mengikuti sayembara itu. Pundi-pundi emas membayang di pelupuk matanya. Bayangan itulah yang mendorong dia akhirnya berangkat ke istana. Raja mempersilahkan dia masuk ke kolam istana. Sekejap saja orang miskin ini masuk ke dalamnya, ia langsung menggigil kedinginan. Giginya saling beradu, mukanya mendadak pucat dan tubuhnya perlahan meringkuk.

Tiba-tiba ia melihat nyala api dari salah satu ruang istana. Segera saja ia bayangkan dirinya berada dekat perapian itu; ia bayangkan betapa nikmatnya duduk di ruangan itu. Mendadak rasa dingin di tubuhnya, menjadi hilang. Kekuatan imajinasi membuatnya mampu bertahan. Perlahan bayang-bayang pundi emas kembali melintas. Harapannya kembali tumbuh.

Keesokan harinya, Raja dengan takjub mendapati si miskin masih berada di kolam istana. Si miskin telah memenangkan sayembara itu. Raja penasaran dan bertanya “rahasia” kekuatan si miskin. Dengan mantap si miskin bercerita bahwa ia mampu bertahan karena membayangkan nikmatnya berada di dekat perapian yang ia lihat di sebuah ruangan istana.

Lama sudah waktu berjalan sejak saya baca kisah di atas sewaktu masih di Sekolah Dasar. Namun baru belakangan saya menyadari kiasan dari cerita itu. Imajinasi dan harapan akan kehidupan yang lebih baik telah menjadi semacam stimulus untuk kita bisa bertahan.

Ketika krisis ekonomi menghadang negara kita, sekelompok orang menjadi panik tak karuan. Apa saja dilakukan mereka untuk mempertahankan kenikmatan hidup. Mulai dari menjadi spekulan mata uang, menimbun barang, menjilat penguasa dan meniupkan isu kemana-mana. Norma agama telah dilanggar untuk kepentingan duniawi belaka. Akan tetapi, segelintir orang tetap tenang karena sudah lama badan mereka di “bumi” namun jiwa mereka di “langit”.

Kelompok terakhir ini membayangkan bagaimana nikmatnya hidup di “kampung akherat” nanti, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah. “Pundi-pundi kasih sayang ilahi” membayang dipelupuk mata mereka.

Bagaikan si miskin yang tubuhnya berada di dasar kolam, namun jiwanya berada di dekat perapian; bayangan “kampung akherat” membuat mereka tenang dan tidak mau melanggar norma agama. Bagaikan kisah si miskin di atas, boleh jadi Raja akan takjub mendapati mereka yang bisa bertahan di tengah krisis ini, tanpa harus menjilat kepada istana (apalagi bila jilatan itu dibumbui sejumput ayat dan hadis)

Ada seorang muslim yang tengah berpuasa, rekan bulenya yang tinggal satu flat berulang kali mengetok pintu kamar hanya untuk memastikan apakah si muslim masih hidup atau tidak. Orang bule itu tak habis pikir bagaimana si muslim bisa bertahan hidup dan tetap beraktifitas tanpa makan-minum selama lebih dari 12 jam. Rindu “kampung akherat” menjadi jawabannya.

Sama dengan herannya seorang rekan mendapati seorang muslimah di tengah musim panas (summer) tetap beraktifitas sambil memakai jilbab. Ketika ada yang bertanya, “apa tidak kepanasan?” Muslimah tersebut menjawab sambil tersenyum, “lebih panas mana dengan api neraka?”

Kenikmatan “kampung akherat” rupanya jauh lebih menarik buat seorang muslim/muslimah.

Armidale, 13 Februari 1998.

Posting Lebih Panas Mana? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Ketika Tirai Tertutup

Ketika mendengar sebuah berita “miring” tentang saudara kita, apa reaksi kita pertama kali? Kebanyakan dari kita dengan sadarnya akan menelan berita itu, bahkan ada juga yang dengan semangat meneruskannya kemana-mana.

Kita ceritakan aib saudara kita, sambil berbisik, “sst! ini rahasia lho!”. Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut ke yg lainnya, juga sambil berpesan, “ini rahasia lho!”

Kahlil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam kalimatnya, “jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada pepohonan.”

Inilah yang sering terjadi. Saya memiliki seorang rekan muslimah yang terpuji akhlaknya. Ketika dia menikah saya menghadiri acaranya. Beberapa minggu kemudian, seorang sahabat mengatakan, “saya dengar dari si A tentang “malam pertamanya” si B.” Saya kaget dan saya tanya, “darimana si A tahu?” Dengan enteng rekan saya menjawab, “ya dari si B sendiri! Bukankah mereka kawan akrab…”

Masya Allah! rupanya bukan saja “rahasia” orang lain yang kita umbar kemana-mana, bahkan “rahasia kamar” pun kita ceritakan pada sahabat kita, yang sayangnya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya sahabat.

Saya ngeri mendengar hadis Nabi: “Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.”

Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, “Maha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”

Jangan bongkar aib saudara kita, supaya Allah tidak membongkar aib kita.

“Ya Allah tutupilah aib dan segala kekurangan kami di mata penduduk bumi dan langit dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah”

Armidale, 25 September 1997.

Posting Ketika Tirai Tertutup ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico