Makna Al-Quran tak terbatas

April 26, 2018
33 Views

Diskusi dengan mahasiswa masih berlanjut. Tetapi kali ini dengan mahasantri, sebutan untuk mahasiswa “Ma’had Aly”, Sekolah Tinggi pasca pesantren. Mereka pada umumnya sudah bisa/lancar membaca “kitab kuning”, sebutan untuk buku berbahasa Arab “gundul” (tanpa tanda baca).

Sebagian dari mereka membaca tulisan ku di FB tentang “Memahami Hukum Allah” dalam 5 seri.

“Bagaimana kalau ada golongan yang hanya mempercayai makna tekstual, (zhahir) atau harfiah saja, menolak logika dan makna majaz”?. tanya salah seorang mereka.

“Tak ada seorangpun yang bisa menghalangi pilihan seseorang, dan tak seorang pun bisa dan boleh memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Tetapi sayang sekali, karena mereka membatasi kehendak Tuhan”, kataku.

Aku kemudian menyampaikan pandangan Imam al-Ghazali dalam karya Magnum Opusnya “Ihya Ulumuddin”. Beliau mengatakan :

قال الغزالى فى الاحياء : فاعلم ان من زعم ان لا معنى للقرآن الا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب فى الاخبار عن نفسه ولكنه مخطئ فى الحكم برد الخلق كافة الى درجته التى هى حده ومحطه بل الاخبار والاثار تدل على ان فى معانى القرآن متسعا لارباب الفهم. …

Ketahuilah bahwa orang yang menganggap bahwa al-Qur’an hanya memiliki makna lahir (literal), sesungguhnya dia tengah mengabarkan tentang keterbatasan ilmu (pengetahuan) nya sendiri. Itu benar untuk dirinya sendiri. Akan tetapi dia melakukan kekeliruan manakala dia mengharuskan semua orang mengikuti pandangannya yang terbatas itu”…”Banyak hadits dan pandangan para sahabat Nabi yang menunjukkan bahwa makna al-Qur’an sangatlah luas menurut para pemilik pikiran yang dalam”. (Lihat, Ihya Ulum al-Din, I/289).

Masih dalam Ihya. Abdullah Ibnu Mas’ud, sahabat Nabi paling dekat, mengatakan :

وقال ابن مسعود : من اراد علم الاولين والاخرين فليتدبر القرآن وذلك لا يحصل بمجرد تفسيره الظاهر”.( الاحياء 1/289).

“Siapa yang ingin mendalami pengetahuan orang-orang (sahabat-sahabat Nabi) yang paling awal dan yang belakangan, hendaklah dia merenungkan isi Al-Qur’an. Hal itu tidak bisa diperoleh dengan hanya memaknai lahiriahnya saja”. (Ihya, I/289).

Imam Muhammad Sahl bin Abdullah al-Tustari (w. 283 H), seorang sufi besar asal Tustar, menyampaikan pandangan yang menakjubkan :

لو أعطى العبد بكل حرف من القرآن الف فهم لم يبلغ نهاية ما اودعه الله فى أية من كتابه لانه كلامه وكلامه صفته وكما انه ليس لله نهاية فكذلك لا نهاية لفهم كلامه. وانما يفهم كل مقدار ما يفتح الله عليه .( الزكشى، البرهان فى علوم القران، جزء ١ ص ٩)

“Andaikata seorang hamba Allah dianugerahi seribu pemahaman atas satu huruf al Qur’an, dia tidak akan mencapai maksud Tuhan yang diungkapkan-Nya dalam kitab suci-Nya. Karena ia adalah Kalamullah. Kata-kata Tuhan adalah Sifat-Nya. Tuhan adalah Maha Tak Terbatas, maka kata-kata-Nya juga tak terbatas. Apa yang dapat dipahami oleh masing-masing orang adalah sebatas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya”. (Al Zarkasyi, Al Bahr al-Muhith fi Ulum al Qur’an, I/9).

Para ulama masa awal (al Salaf al Shalih) dan para maha guru kebijaksanaan tidak pernah membatasi pemaknaan ayat-ayat al Qur’an hanya satu arti. Satu kata atau kalimat dipahami oleh banyak ulama dengan beragam dan berbeda-beda makna dan pengertian, dan mereka saling menghargai dan menghormati pendapat lainnya dengan seluruh ketulusan hatinya. Keberagaman pemaknaan itu memperlihatkan betapa luasnya makna Al-Qur’an sekaligus betapa indahnya bagai bunga warna warni di taman surgawi.

Usai hadiri Harlah NU ke 95 di Tegalgubug, Cirebon, dalam rinai hujan yang merindukan
23.04.18

The post Makna Al-Quran tak terbatas appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

You may be interested

Aneka
shares9 views

Jalan Bertemu Allah dan Bidadari

admin - May 25, 2018

Satu keluarga yang hampir saban hari hadir di masjid dan tampil bak orang baik hati, saleh dan religius, akhirnya meledakkan…

Aneka
shares9 views

Berselfie Ria

admin - May 25, 2018

Adik-adikku dan teman-temanku ramai-ramai berangkat umroh. Masing-masing bersama anak-anaknya. Sampai di Makkah dan Madinah mereka meng-upload foto dan dishare melalui…

Aneka
shares7 views

Warisan

admin - May 24, 2018

Di Konya, Anatolia, Turki, 2013, usai ziarah di Maulana Rumi, dengan jalan kaki aku menyusuri jalan cahaya menuju Syamsi Tabrizi, Darwish…

Silahkan komen..

%d bloggers like this: