Ketenangan Djarot dan Arogansi Massa

March 12, 2017
382 Views

Terkait diusirnya Wagub DKI (incumbent) Djarot S Hidayat, Netizen pun bersuara.

—-

Saya meneteskan air mata tatkala membaca berita sekaligus menonton sedikit cuplikan video kehadiran Bapak Djarot Saiful Hidayat di Masjid Attin dalam acara pengajian bersama sekaligus Haul Almarhum Bapak Soeharto, Mantan Presiden RI.

Seorang Wakil Gubernur DKI Jakarta, yang saat itu kebetulan sedang menjadi warga biasa dikarenakan masa cuti untuk pilkada di putaran kedua pada pertengahan April nanti, dihina dan dinistakan sedemikian rupa. Namun untungnya Djarot terlihat begitu tenang ketika cacian, sorakan dan bahkan usiran sekelompok massa bertubi-tubi tertuju padanya.

Apa salah Djarot? sehingga ia begitu luar biasa dihina, dicaci maki bahkan diusir dari masjid yang katanya tempat paling mulia? apa dosa Djarot sehingga kalian begitu tega berbuat dzolim kepada dirinya, yang sama muslim dan sama beribadah kepada Allah, Tuhan yang juga kalian sembah?

Seketika saya beristighfar sambil terus menahan emosi, mencoba berintrospeksi diri, sebegitu parahkan hati dan fikiran kita terhadap mereka yang berbeda? hati dan otak macam apa yang kita miliki? asupan seperti apa yang terus masuk dan menjadi nutrisi akal dan nurani?

Saya kemudian mencoba mengembalikannya pada kisah-kisah yang ada di Al-Quran, bahwa tidak ada satupun kisah seorang pemimpin di dalam Al-Quran yang tidak sekaligus menceritakan kedzoliman kaumnya. Mulai dari Nabi Yunus, Nuh, Hud yang terusir dari kaumnya, Zakaria dikejar dan diburu, Yusuf didzolimi saudara kandungnya sendiri, Isa Al-Masieh yang dikhianati, bahkan Hadroturrosul Muhammad SAW juga pernah diusir dan dilempari.

Ketenangan dan bayangan senyum Djarot Saiful Hidayat seolah ikut berupaya menjernihkan fikiran saya, bahwa kedzoliman harus dibalas dengan kemurah hatian. Seolah ia sedang mengajari saya, serta kita semua, tentang resiko dan nilai pengorbanan seorang pemimpin.

Saya dan mungkin anda yang membaca mungkin tidak bisa melakukan apa-apa. Namun saya masih yakin, seperti sabda sang nabi, bahwa doa orang yang terdzolimi itu sangat mustajab, saya masih berharap bahwa doa Djarot Saiful Hidayat saat ini adalah doa-doa yang termunajatkan dengan baik, selalu positif,untuk dirinya, dan untuk warga Jakarta yang sedang dan akan ia pimpin nanti.

wallahul musta’an.

Ustadz Husny Mubarok Amir
Warga NU di Jakarta, Putera Betawi Asli, Kampung Sumur, Klender

You may be interested

Aneka
shares17 views

Dialog Sokratik

Adi Sus - Feb 03, 2018

Usai Refleksi 30.12.17 aku ditanya seseorang: apakah dialog konstruktif itu?. Ia rupanya tertarik dengan pernyataan ku: “yang harus dikembangkan adalah…

Aneka
shares15 views

Refleksi 2017

Adi Sus - Feb 03, 2018

Dalam acara Refleksi Akhir Tahun Keberagaman dan Toleransi di Wilayah Cirebon yang diselenggarakan oleh Fahmina-Institute, 30.12.17 di hotel Bentani, Cirebon,…

Aneka
shares15 views

Jahiliyah

Adi Sus - Feb 03, 2018

Tak dinyana, kemarin, 05.11.17, dalam perjalanan menuju kantor Fahmina institute, seorang mahasiswa yang mengantarkan aku bertanya tentang arti “Jahiliyah”. Dia…

Silahkan komen..

%d bloggers like this: