Lontarkan Ucapan Isu SARA Dan Ancam Bunuh Ahok, Pria Dilaporkan

November 7, 2016
152 Views

Jakarta- Belum usai pengusatan dugaaan penistaan terhadap calon Gubernur Basuki Tjhaja Purnama alias Ahok prihal surat Al Maida Ayat 51, kini beredar tayangan salah satu pria tua yang terlihat marah-marah meminta cagub Ahok tidak masuk di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

img-20161107-wa000

Pria tua yang mengenakan kemeja dan kopiah putih dan sorban hijau mengaku sesepuh di wilayah Rawa Belong Kebon Jeruk mengeluarkan ucapan siapa yang dapat bunuh Ahok akan dibayar 1 miliar.

Tak hanya mengeluarkan pernyataan syambara iming-iming Rp. 1 Miliyar seraya menenteng pengeras suara melontarkan kata-kata isu SARA yakni membawa salah satu etnis. Dalam video tersebut sang pria tidak takut-takut mengeluarkan ucapannya dihadapan aparata kepolisian.

“Ane minta kalau calon gubernur nomor urut dua (Ahok) masuk Kebun Jeruk, jangan dikawal, lepasin aja. Gue kasih satu miliar untuk bunuh Ahok,” ujar pria bertopi haji tersebut.

Ia juga mengaku rela jual rumah Rp.10 miliar untuk membayar siapa saja yang bisa pembunuh Ahok.“Gua jual rumah gua Rp 10 miliar. Ada satu miliar ditangan gua, gua kasih yang bisa motong Ahok. Mati dan hidup kapan pun juga,” tegas Pak Haji.

Beredarnya video tersebut disayangkan dari Aliansi Masyarakat Cinta Damai Jakarta dan Jaringan Advokat Republik Indonesia (JARI). Senin, (7/10) mereka mendatangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan sang pria tersebut.

Dalam laporannya seperti dikatakan Ketua Umum JARI agara aparat polisi mengusut pria tersebut lantaran sudah dianggap meresahkan masyarakat, tertuma kaum etnis. “Apa yang dikatakan pria itu sudah terlewat batas dikarenakan sudah mengandung unsur SARA.

Seharusnya isu SARA tidak dibawa-bawa dalam Pilkada. Melainkan tetap menjaga kerukunan,” tegas Krisna Murti kepada wartawan.

“Bagi kita ini sudah terlewat batas karena sudah masuk pengancaman dan menjanjikan iming-iming hadiah Rp.1 Miliar untuk kepala Ahok. Kita juga menyayangkan adanya pernyataaan unsur membawa-bawa SARA, meskipun sudah diingatkan oleh rekannya,” papar Krisna.

Menurut Krisna bahwa ucapannya tersebut membuat keresahan dan memperkeruh serta menjadi ketakutan para etnis yang ada di Jakarta. “Kita anggap sudah bagian provokator, terlebih mengandung unsur SARA. Kan sudah jelas himbauan Pak Presiden Jokowi dan Kapolri beda pendapat boleh, terpenting tidak membawa SARA. Justru dengan ancaman itu membuat kerukunan menjadi hancur,” jelasnya kembali.

“Karena itu kami meminta aparat hukum segera memanggil pria tersebut dan diproses secarta hukum terutama mengenai SARA. Bilamana ini dibiarkan akan menjadi keresahan kaum etnis, dan kedepan akan lebih brutal kembali. Laporan kita sesuai dengan perbuatannya,” ujarnya.

You may be interested

Aneka
shares17 views

Dialog Sokratik

Adi Sus - Feb 03, 2018

Usai Refleksi 30.12.17 aku ditanya seseorang: apakah dialog konstruktif itu?. Ia rupanya tertarik dengan pernyataan ku: “yang harus dikembangkan adalah…

Aneka
shares15 views

Refleksi 2017

Adi Sus - Feb 03, 2018

Dalam acara Refleksi Akhir Tahun Keberagaman dan Toleransi di Wilayah Cirebon yang diselenggarakan oleh Fahmina-Institute, 30.12.17 di hotel Bentani, Cirebon,…

Aneka
shares15 views

Jahiliyah

Adi Sus - Feb 03, 2018

Tak dinyana, kemarin, 05.11.17, dalam perjalanan menuju kantor Fahmina institute, seorang mahasiswa yang mengantarkan aku bertanya tentang arti “Jahiliyah”. Dia…

Silahkan komen..

%d bloggers like this: