Dianggap Berbelit-belit Di Persidangan, Karyawan Lippo Group Doddy Aryanto Supeno Dituntut 5 Tahun

August 31, 2016
126 Views
3 Comments

JariBerita.com- Pegawai PT Artha Pratama Anugerah, Doddy Aryanto Supeno dituntutan lima tahun penjara dan denda Rp150 juta subsidair tiga bulan kurungan oleh Jaksa  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Asisten mantan Presiden Komisaris Lippo Group, Eddy Sindoro itu dinilai telah terbukti bersalah memberi suap Rp150 juta kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

“Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan sebagaimana dakwaan kesatu,” kata Jaksa KPK membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Doddy dinilai bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sebelum menyampaikan tuntutan ini, Jaksa KPK menyebutkan hal yang memberatkan dan meringankan untuk dipertimbangkan dalam memutus hukuman untuk Doddy.

Yang memberatkan, terdakwa tak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, merusak kepercayaan masyarakat terhada lembaga peradilan dan selalu berbelit-belit dalam persidangan. “Yang meringankan terdakwa berlaku sopan selama dipersidangan,” ujar Jaksa KPK.

Doddy didakwa memberikan suap sebesar Rp150 juta kepada panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution. Pemberian uang itu dilakukan bertahap. Awalnya, Doddy memberi Rp100 juta. Kemudian Rp50 juta dan langsung ditangkap KPK.

Suap yang diberikan itu memiliki hubungan dengan pengurusan sejumlah perkara yang diduga berkaitan dengan Lippo Group di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Doddy didakwa bersama-sama dengan pegawai (bagian legal) PT Artha Pratama Anugerah Wresti Kristian Hesti, Presiden Direktur PT Paramount Enterprise Ervan Adi Nugroho, dan mantan Presiden Komisaris Lippo Group Eddy Sindoro.

Lippo Group ketika itu tengah menghadapi beberapa perkara hukum. Sehingga, Eddy Sindoro langsung menugaskan Hesti untuk melakukan pendekatan dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara tersebut. Eddy Sindoro juga menugaskan Doddy untuk melakukan penyerahan dokumen maupun uang kepada pihak-pihak lain yang terkait perkara.

Uang diberikan agar Edy menunda proses “aanmaning” atau peringatan eksekusi terhadap PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP), menerima pendaftaran peninjauan kembali PT Across Asia Limited (AAL) dan menunda eksekusi lahan milik PT Jakarta Baru Cosmopolitan.

You may be interested

Aneka
shares3 views

Warisan

admin - May 24, 2018

Di Konya, Anatolia, Turki, 2013, usai ziarah di Maulana Rumi, dengan jalan kaki aku menyusuri jalan cahaya menuju Syamsi Tabrizi, Darwish…

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub
Aneka
shares4 views
Aneka
shares4 views

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub

admin - May 21, 2018

1. Hari ke-3 puasa, sambil nyantai saya baca ulang kitab tanwirul qulub, dan saya mau sedikit share di sini. Bismillah…

Membantah narasi khilafah ala HTI
Aneka
shares7 views
Aneka
shares7 views

Membantah narasi khilafah ala HTI

admin - May 21, 2018

Membantah berbagai narasi khilafah ala HTI. Tulisan saya di Jawa Pos hari ini 12 Mei 2018 menyikapi putusan PTUN. Thought…

3 Responses

  1. Tega banget nih penulis beritanya…fakta di persidangan tidak pernah di sebutkan nama Lippo, kok bisa2 nya media menyebut Lippo seolah-olah terlibat.., coba ikuti sidangnya jangan cuma copas dari tetangga…

    Reply
  2. ralat…bukan karyawan Lippo tuh si doddy,tapi karyawan paramount,Eddy sindoro udah eks Lippo sewaktu kasus itu terjadi,dan dia menjadi bos d paramount di saat kasus ini terjadi

    Reply
  3. di sidang nya si doddy uang yang 50 juta itu dikasih buat acara nikahan anaknya edy nasution,bukan buat urus kasus,lantas disalahartikan akhirnya menjadi kasus suap…begituloh yang sebenarnya terjadi,uang nya juga dari bos paramount lohh

    Reply

Silahkan komen..

%d bloggers like this: