Cederai Peradilan, Asisten Presiden Komisaris Lippo Group Dituntut 5 Tahun Penjara

August 31, 2016
57 Views

JariBerita.com – Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi untuk menjatuhkan hukuman penjara selama 5 tahun kepada terdakwa kasus suap Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Doddy Aryanto Supeno.

Selain hukuman badan, Doddy yang juga merupakan Pegawai PT Artha Pratama Anugerah tersebut juga dituntut hukuman denda Rp 150 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Asisten mantan Presiden Komisaris Lippo Group, Eddy Sindoro itu dinilai telah terbukti bersalah memberi suap Rp 150 juta kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

“Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan sebagaimana dakwaan kesatu,” kata Jaksa KPK membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Doddy dinilai bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelum menyampaikan tuntutan ini, Jaksa KPK menyebutkan hal yang memberatkan dan meringankan untuk dipertimbangkan dalam memutus hukuman untuk Doddy.

Hal yang memberatkan, terdakwa tak mendukung program pemerintag dalam pemberantasan korupsi, merusak kepercayaan masyarakat terhada lembaga peradilan dan selalu berbelit-belit dalam persidangan.

“Yang meringankan terdakwa berlaku sopan selama dipersidangan,” ujar Jaksa KPK.

Doddy didakwa memberikan suap sebesar Rp 150 juta kepada panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution. Pemberian uang itu dilakukan bertahap. Awalnya, Doddy memberi Rp 100 juta. Kemudian Rp 50 juta dan langsung ditangkap KPK.

Suap yang diberikan itu memiliki hubungan dengan pengurusan sejumlah perkara yang diduga berkaitan dengan Lippo Group di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Doddy didakwa bersama-sama dengan pegawai (bagian legal) PT Artha Pratama Anugerah Wresti Kristian Hesti, Presiden Direktur PT Paramount Enterprise Ervan Adi Nugroho, dan mantan Presiden Komisaris Lippo Group Eddy Sindoro.

Lippo Group ketika itu tengah menghadapi beberapa perkara hukum. Sehingga, Eddy Sindoro langsung menugaskan Hesti untuk melakukan pendekatan dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara tersebut.

Eddy Sindoro juga menugaskan Doddy untuk melakukan penyerahan dokumen maupun uang kepada pihak-pihak lain yang terkait perkara.

Uang diberikan agar Edy menunda proses “aanmaning” atau peringatan eksekusi terhadap PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP), menerima pendaftaran peninjauan kembali PT Across Asia Limited (AAL) dan menunda eksekusi lahan milik PT Jakarta Baru Cosmopolitan.

You may be interested

Aneka
shares3 views

Warisan

admin - May 24, 2018

Di Konya, Anatolia, Turki, 2013, usai ziarah di Maulana Rumi, dengan jalan kaki aku menyusuri jalan cahaya menuju Syamsi Tabrizi, Darwish…

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub
Aneka
shares4 views
Aneka
shares4 views

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub

admin - May 21, 2018

1. Hari ke-3 puasa, sambil nyantai saya baca ulang kitab tanwirul qulub, dan saya mau sedikit share di sini. Bismillah…

Membantah narasi khilafah ala HTI
Aneka
shares7 views
Aneka
shares7 views

Membantah narasi khilafah ala HTI

admin - May 21, 2018

Membantah berbagai narasi khilafah ala HTI. Tulisan saya di Jawa Pos hari ini 12 Mei 2018 menyikapi putusan PTUN. Thought…

Silahkan komen..

%d bloggers like this: