Blusukan Jokowi Versus Incognito Pak Harto, Mana Lebih Baik?

August 15, 2016
184 Views

Tren ‘Blusukan’ atau terjun langsung ke pusat masalah rupanya menjadi bagian penting bagi Joko Widodo mencapai puncak kariernya sebagai Presiden Indonesia ke-7.

jokowi-dan-pm-australia_663_382

JariBerita.com – Joko Widodo yang melakukan blusukan sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga saat menjadi Gubernur Jakarta ini seakan menjadi pejabat pertama yang mau terjun ke masyarakat dan memberikan solusi atas masalah yang terjadi.

Gaya kepemimpinan pria yang kemudian akrab disapa Jokowi ini dianggap sebagai antitesis dari perilaku pejabat yang selama ini berada di balik tembok besar kekuasaan.

Jokowi berhasil dengan caranya. Ia seakan sedang mendobrak budaya penguasa dan berada di barisan rakyat jelata. Jokowi terpilih jadi Presiden RI.

Sebelumnya, saat terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia langsung menghentak publik dengan masuk ke gorong-gorong untuk memeriksa saluran pembuangan yang berada di Jalan MH THamrin di sekitar Bundaran Hotel Indonesia.

Kala itu tak ada pejabat yang menemani Jokowi turun ke dalam gorong-gorong. Dan hasilnya, Jokowi baru mengetahui bahwa diameter gorong-gorong Bundaran HI hanya 60 sentimeter.

“Bayangan saya, di bawah jalan-jalan di Jakarta gorong-gorongnya besar, bisa untuk sepak bola, tetapi kenyataannya cuma 60 sentimeter,” kata Jokowi saat itu.

Tidak berhenti sampai di situ, Jokowi juga tetap mempertahankan gayanya meski telah menduduki istana negara. Yang paling membuat heboh adalah ketika ia blusukan menangani kebakaran hutan dan menemui warga Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

Jokowi tanpa didampingi protokoler kepresidenan yang ketat rela duduk jongkok di kebun sawit dan berbicara sambil dikelilingi laki-laki Suku Anak Dalam yang sebagian hanya mengenakan kain untuk menutup aurat.

Begitu pula dengan caranya memperlakukan tamu negara, Jokowi kerap melakukan cara-cara yang tak biasa.

Contohnya ketika dia membawa PM Australia Malcolm Turnbull ke Blok A, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada 12 November 2015.

Jokowi dan Malcolm langsung menjadi pusat perhatian warga yang berbaris di belakang Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Kedua kepala negara itu bahkan sempat selfie dengan telepon genggam yang dikeluarkan Malcolm dari saku celananya.
Ratusan masyarakat menjadi latar foto tersebut. Seketika, suasana menjadi lebih gaduh dari sebelumnya.

Sambal Teri dan Tempe Kering Bekal Pak Harto

berbekal-sambal-teri-dan-kering-tempe-ibu-tien

Tak bermaksud mengolok atau mendiskreditkan siapa pun. Tapi yang pasti, kini, kata ‘dekat’ dengan rakyat semacam pepesan kosong. Mengawang dan terawang-awang lantaran kesejahteraan masih jauh dari harapan.

Jauh sebelum ‘Blusukan’ menjadi tren pejabat akibat Jokowi effect, Presiden Soeharto pada dasarnya sudah ‘menyelam’ bersama rakyat.

Pak Harto bahkan melakukan penyamaran atau Incognito untuk mencari solusi atas masalah yang terjadi.

Bukan bermaksud membela penguasa Orde Baru itu, faktanya menyamar ke kampung-kampung dilakukan Pak Harto dengan persiapan lebih sederhana.

Sampai hembusan nafas terakhirnya, tidak banyak yang tahu soal penyamaran Pak Harto hingga didengungkan oleh mantan Wakil Presiden Try Sutrisno pada saat peluncuran buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’ di TMII, Jakarta, Rabu 8 Juni 2011.

Try yang pada tahun 70-an merupakan ajudan dan kerap menemani Pak Harto itu menyamar mengatakan bahwa tidak banyak yang tahu soal aktivitas atasannya termasuk pejabat-pejabat di wilayah yang mereka hampiri.

“Pesannya satu, tidak boleh ada yang tahu Pak Harto melakukan incognito,” kenang Try Sutrisno.

Ia menuturkan, jika sedang melakukan penyamaran, Soeharto biasanya hanya diiringi tiga mobil yang berisi dokter kepresidenan, pengawal, Pak Harto dan Try Soetrisno sendiri. “Tidak ada protokoler, seadanya saja,” imbuhnya.

Yang paling menarik soal makanan. Selain membawa beras khusus dari Jakarta, Soeharto juga selalu bawa bekal khusus dari Ibu Tien Soeharto.

“Bekalnya sambal teri dan kering tempe. Kalau sedang menyamar, kami betul-betul prihatin. Tapi Pak Harto sangat menikmati perjalanan itu,” tuturnya.

“Sebagai kepala negara Pak Harto merasa harus turun langsung, melihat sendiri bagaimana program-program pemerintah dilaksanakan, dan apa sudah langsung dirasakan masyarakat. Karenanya kami tidak pernah makan di restoran, tidur pun di rumah kepala desa atau penduduk,” kenang mantan Panglima ABRI tersebut.

Dalam setiap kunjungannya, Pak Harto juga berbaur dengan masyarakat sekitar, membantu petani turun ke sawah, mengetam padi dan memberi pupuk.

Tidak jarang Pak Harto memberi pengetahuan tentang katarak. Setelah itu dia biasanya menginstruksikan ajudan untuk berkoordinasi dengn Yayasan Darmais untuk melakukan operasi gratis.

“Pak Harto juga sering berbincang-bincang dengan ibu rumah tangga, nanya soal sandang pangan, memastikan cukup atau nggak, harga murah atau nggak. Kalau kepada petani tanya panennya bagaimana. Ke pedagang tanya pasokan barang bagaimana,” kata Try.

Penguasa Orde Baru yang wafat dengan semat bintang lima itu lanjut Try, tidak pernah memperkenalkan identitas sebagai presiden.

Bahkan pernah suatu hari, para pedagang tidak tahu kalau mereka sedang berbicara dengan seorang presiden karena penampilan Soeharto memakai topi dan baju batik, mereka menyangka beliau adalah seorang mantri pasar.

Meski demikian, Pak Harto mendapat informasi langsung dari lapangan seputar permasalah seperti penggarapan tanah, pemakaian pupuk dan hal-hal yang menjadi kesulitan para petani.

Ada pula cerita Pak Harto menyambangi penampungan pengungsi korban banjir di kecamatan Pasirian kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Ia langsung menengok dapur umum dan merasakan masakan yang akan dikirim kepada para korban. Pak Harto juga sempat memberikan pidato sejenak untuk membesarkan hati para korban banjir yang sedang kesusahan.

Dia juga menganjurkan kepada para korban untuk bertransmigrasi ke luar Jawa, karena dengan bertransmigrasi akan lebih menyejahterakan para petani sebab lahan pertanian lebih luas daripada di pulau Jawa.

“Presiden mencatat semuanya. Secara objektif diketahui daerah mana yang telah berhasil dan daerah mana yang perlu ditingkatkan. Semua dicek ulang di dalam rapat kabinet. Dengan begitu menteri tidak bisa berbohong. Kalau jelek ya harus dibilang jelek, kalau bagus ya dibilang bagus karena Pak Harto mengetahuinya,” kata Try.

Dalam sebuah foto di buku tadi, Soeharto juga tampak kelelahan di tengah penyamarannya. Namun, ia seakan tidak merasakan.  Pak Harto tetap semangat dan rela duduk di tanah bersandarkan pagar yang terbuat dari bambu atau menyantap pisang goreng dan segelas kopi di sebuah gubuk dengan tatapan optimistis akan kemakmuran negeri yang dipimpinnya.

soeharto-menyamar-lagi-ngupi

You may be interested

Aneka
shares3 views

Warisan

admin - May 24, 2018

Di Konya, Anatolia, Turki, 2013, usai ziarah di Maulana Rumi, dengan jalan kaki aku menyusuri jalan cahaya menuju Syamsi Tabrizi, Darwish…

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub
Aneka
shares4 views
Aneka
shares4 views

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub

admin - May 21, 2018

1. Hari ke-3 puasa, sambil nyantai saya baca ulang kitab tanwirul qulub, dan saya mau sedikit share di sini. Bismillah…

Membantah narasi khilafah ala HTI
Aneka
shares7 views
Aneka
shares7 views

Membantah narasi khilafah ala HTI

admin - May 21, 2018

Membantah berbagai narasi khilafah ala HTI. Tulisan saya di Jawa Pos hari ini 12 Mei 2018 menyikapi putusan PTUN. Thought…

Silahkan komen..

%d bloggers like this: