Beda Kebencian Bung Karno dan Imelda Marcos pada The Beatles

August 15, 2016
312 Views

JARIBERITA – Siapa tak kenal Presiden Soekarno? Siapa pula yang tak kenal band legendaris asal Inggris, The Beatles? Keduanya merupakan patron dalam bidangnya masing-masing di era 60-an atau pasca Perang Dunia II.

Dunia melihat Soekarno sebagai seorang pemimpin yang paling disegani di wilayah Asia setelah Jepang tak berdaya atas bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Bung Karno begitu ia akrab disapa, pun menjadi simbol anti-imperialisme barat.

Sementara The Beatles adalah sekumpulan anak muda yang paling digandrungi oleh dunia kala itu. Band asal Kota Liverpool itu tidak hanya menjadi kiblat musik modern, tapi juga merupakan simbol kebebasan anak muda yang ingin menjalankan hidup sesuai kehendaknya.

Meski Soekarno dan John lennon Cs merupakan simbol perlawanan, namun keduanya tidak pernah bersentuhan. Bung Karno bahkan secara tegas menolak atau ‘alergi’ dengan The Beatles yang dianggap sebagai sosok penghamba imperialisme kapitalis barat.

Bung Karno pun melarang musik barat. Seniman tanah air yang berkiblat pada The Beatles pun menjadi sasarannya. Termasuk Koes Plus yang dicekal karena dianggap musiknya sangat ‘beraroma’ barat. Sebetulnya, yang dilarang Bung Karno saat itu tidak hanya musiknya, potongan rambut mirip personil The Beatles pun tidak diperbolehkan tampak di negeri Indonesia.

Dalam sebuh pidatonya tahun 1964, Bung Karno bahkan secara tegas meminta aparat kepolisian merazia anak-anak muda yang berpenampilan seperti Beatles. Dan hasilnya, polisi langsung memotong rambut anak muda yang kedapatan bergaya ala Beatles. Selain musik dan potongan rambut, celana jengki ketat juga menjadi sasaran aparat. Ini karena pakaian itu juga dianggap simbol barat.

Penolakan Bung Karno pada musik barat juga pernah terekam dalam foto perjalanannya ke Yunani pada 9 Juli 1965. Ia sempat menunjukkan ketidaksukaannya saat dihibur oleh band setempat, Trio Greco. Bung Karno tampak menutup kedua telinganya saat band itu tampil. Dan surat kabar St Pietersburg Times langsung menulisnya sebagai judul utama ‘However, he indicates that he doesn’t like it after all’.

bung

 

marcos

Selain Bung Karno, pada era 60-an ada juga tokoh Asia yang sangat membenci The Beatles. Yakni Imelda Marcos atau istri  Presiden Filipina, Ferdinan Marcos. Ibu negara ini murka lantaran undangannya pernah ditolak The Beatles. Padahal saat itu, tepatnya pada 4 Juli 1966 anak-anak muda tersebut sedang berada di Manila untuk malakukan konser.

The Beatles menolak karena undangan khusus untuk pertunjukan di istana Imelda di luar jadwal tur mereka. Para pemuda gondrong itu berani-beraninya mengatakan ‘NO’ kepada istri diktaktor yang juga dikenal bertangan besi itu.

Cerita berawal ketika seluruh personil The Beatles sedang beristirahat di hotel setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari negaranya. Tiba-tiba, pintu kamar mereka langsung digedor oleh utusan Imelda yang datang dengan senjata lengkap.

“Cepat! Kalian harus ke istana sekarang juga. Kalian sudah ditunggu ibu negara,” teriak salah saorang petugas seperti dikutip dalam buku ‘Tembak Bung Karno’ yang ditulis Walentina Waluyanti De Jonge.

Tanpa berpikir panjang, seluruh personil kompak menolak permintaan tersebut. “No, no, no,” jawab mereka tegas.

Setelah penolakan tersebut, The Beatles merasakan sangat jelas adanya skenario untuk mengintimidasi mereka selama di Manila. Konser yang direncanakan bakal dihadiri oleh ribuan penonton hanya berlangsung singkat dan cuma ditonton puluhan orang. Dan itu pun Beatles tidak mendapat apapun, promotor musik tidak bersedia membayar.

Perlakukan buruk tidak hanya dirasakan setelah tiba di hotel, saat akan meninggalkan Manila caci maki juga dilontarkan massa sepanjang jalan menuju bandara. Bahkan ketika di pesawat mereka juga sempat dikerjai. Seluruh rombongan anak muda Inggris ini harus membawa sendiri koper dan peralatan mereka.

Kerusuhan juga sempat terjadi di Bandara, sekitar dua ratus orang mengamuk dan coba mencederai seluruh personil Beatles. Ringgo Starr juga bahkan terkena pukul massa hingga jatuh dan kakinya terkilir. Dan setelah bersusah payah, The Beatles akhirya bisa berada dalam pesawat dan pulang ke negaranya.

Setelah persitiwa The Beatles ini, Imelda Marcos langsung menyampaikan pendapatnya tentang musik yang dibawa pemuda asal Liverpool tersebut. Seoalh melecehkan, ia mengaku tidak pernah menyukai The Beatles. “I never liked them anyway, their music is horrible,” kata Imelda Marcos seprti dikisahkan dalam buku berjudul The Beatles Anthology.

 

beatles


Musik yang diusung Beatles kata Imelda sangat mengerikan. Namun hampir semua kalangan saat itu berpendapat bahwa pernyataan Imelda ini merupakan reaksi atas penolakan yang dilakukan The Beatles semata. Bukan masalah yang berarti. Si diktaktor dianggap kekanak-kanakan  karena kemauannya tidak dipenuhi.

Sedangkan Soekarno, urusannya bukan ‘suka’ atau ‘tidak suka’, melainkan masalah ideologi bangsa. Hal yang paling penting bagi Bung Karno saat itu adalah ‘Jangan coba mengganggu ideologi anti-imperialisme’. Dan hal yang ditawarkan Beatles ini bagi Bung Karno sangat tidak sejalan dengan budaya bangsa.

Pada dasarnya yang menjadi masalah bukan soal gondrong, celana jengki, atau musik rock n roll yang diusung oleh Beatles. Melainkan virus imperialisme yang dibawa anak muda itu kepada generasi bangsa yang sedang tumbuh.

Di mata Bung Karno, para imperialis itu hanya ingin masuk ke Indonesia dengan berbagai cara, termasuk melalui budaya.

Jadi kebencian yang ditebarkan Bung Karno jelas sangat jauh berbeda dengan apa yang menjadi alasan Imelda Marcos.

Bung Karno saat itu merupakan arsitek karakter bangsa yang belum lama merdeka, sementara Imelda sedang mengorbankan karakter bangsanya demi kepuasan dendam semata.

tonys-file-357-a

You may be interested

Nadirsyah Hosen, kisah santri menaklukkan Barat
Aneka
shares4 views
Aneka
shares4 views

Nadirsyah Hosen, kisah santri menaklukkan Barat

admin - Jul 16, 2018

Simak wawancara dengan Beritatagar di Hotel Ciputra Grogol 2 Juni 2018 https://beritagar.id/artikel/figur/nadirsyah-hosen-kisah-santri-menaklukkan-barat Share on: WhatsAppPosting Nadirsyah Hosen, kisah santri menaklukkan…

Aneka
shares5 views

Nadirsyah Hosen melawan radikalisme di media sosial

admin - Jul 16, 2018

Nadirsyah Hosen satu-satunya orang Indonesia yang menjadi pengajar di Fakultas Hukum Monash University, Melbourne, Australia. Di media sosial, penyanang dua…

Aneka
shares8 views

NU itu Apa?

admin - Jul 14, 2018

Hari ini aku bertamu ke seorang Kiyai untuk Silaturrahim dan minta doa selamat dalam perjalananku menuju Jawa Timur malam ini,…

Silahkan komen..

%d bloggers like this: