Nadirsyah Hosen melawan radikalisme di media sosial

Nadirsyah Hosen satu-satunya orang Indonesia yang menjadi pengajar di Fakultas Hukum Monash University, Melbourne, Australia. Di media sosial, penyanang dua gelr doktor itu beken lewat akun Twitter @Na_dirs. Baginya, media sosial bisa jadi lahan dakwah sekaligus menjadi aktivitas utama untuk menangkal arus radikalisme.

 

Posting Nadirsyah Hosen melawan radikalisme di media sosial ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

NU itu Apa?

Hari ini aku bertamu ke seorang Kiyai untuk Silaturrahim dan minta doa selamat dalam perjalananku menuju Jawa Timur malam ini, untuk menghadiri acara nikah saudara dan menengok anak di pesantren. Di rumah itu aku melihat banyak tamu. Mungkin untuk keperluan yang sama (silaturrahim) sambil berharap dapat berkah (tambahan kebaikan). Aku disambut tuan rumah dengan hangat. Di tengah obrolan ringan dan acap diselingi canda ria dan humor a la Kiyai, seorang tamu bertanya pendapatku tentang NU dan isu Isnus yang menghebohkan itu?.

Aku menjawab singkat saja. Begini:

NU itu kumpulan orang-orang (jama’ah) dan organisasi (Jam’iyyah) yang kreatif, inovatif, terbuka dan dinamis, serta bersahaja. Pandangan keagamaannya luwes, karena biasa mengaji kitab fiqh plural. Jika kiyai ditanya hukum suatu masalah selalu ada lebih dari satu pendapat. “Fihi Aqwal” (pada masalah ini ada beberapa pendapat)”, atau “fihi Qaulani”, (ada dua pendapat), atau “fihi Tsalatsah Awjuh”, (ada tiga pendapat) dan istilah lain yang sejenis. Oleh karena itu ia, NU, hidup terus dan bersinar. Ia dianut oleh lebih dari separoh jumlah penduduk negara ini. Ia dikagumi banyak negara dan dipuji Al-Syeikh Al-Akbar Universitas Al-Azhar. Ia memiliki puluhan cabang di Luar Negeri, dst.

Ini berlawanan dengan mereka yang mengharamkan dan mensesatkan kreatifitas dan inovasi, yang bersikap tertutup dan anti liyan. Isu yang terus dikembangkan mereka berpuluh tahun berputar-putar hanya “soal-soal” itu. Tak ada yang lain. Jawaban untuk satu masalah hanya satu. “Ini pendapat yang benar. Yang lain salah”. Mereka menolak aforisme dan metafora. Cara dan sikap ini telah dan akan menciptakan dunia yang stagnan dan tertinggal dalam gelap serta ketegangan-ketegangan sosial.

Saat aku bicara suasana ruangan hening. Mereka seperti mendengarkan dengan seksama. Dan begitu aku usai, mereka tersenyum dan mengangguk-angguk. Aku tak tahu apakah mereka, para tamu ini, setuju dengan pandanganku itu.

Mohon maaf jika ada yang setuju.

12.07.18
Di atas Bus Harapan Jaya.

The post NU itu Apa? appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Imam Al-Ghazali dan Tuduhan Sesat-Kafir

Permusuhan antar kelompok di kalangan umat manusia, termasuk dalam masyarakat Islam hampir selalu ada pada setiap zaman dan segala ruang. Banyak alasan mengapa ia terjadi. Ada perebutan kuasa, ada kecemburuan atas kenikmatan, ada karena idelogi yang berbeda, ada karena keterbatasan pengetahuan dan sebagainya. Tokoh-tokoh besar yang menjadi pemimpin komunitas tak luput dari tuduhan sesat, kafir, munafik dan seterusnya. Caci maki dan kata-kata kasar berhamburan ditujukan kepada mereka ini. Para pengikutnya juga mengalami hal yang sama. Pada umumnya atau yang sering terjadi adalah serangan kelompok konservatif tekstualis ketat terhadapk kritis-progresif.

Ini pernyataan Imam al-Ghazali (w.1111 M), dalam bukunya: Faishal al-Tafriqah Baina al-Islam wa al-Zandaqah”.

Sahabat, aku melihatmu sedang dirundung gelisah, berduka dan pikiranmu kacau. Ini gara-gara engkau mendengar caci-maki orang-orang itu terhadap pikiran-pikiranku yang aku tulis dalam sejumlah buku. Mereka menyatakan bahwa pikiran-pikiran dan pendapat-pendapatku bertentangan dengan pandangan al-Salaf al-Shalih (generasi awal yang saleh) dan para guru ilmu Kalam.

Sahabat yang sedang dirundung duka lara. Engkau tak perlu bersedih hati. Bersabarlah atas ucapan-ucapan cemooh mereka yang menyakitkanmu itu. Tinggalkan melayani mereka secara baik-baik. Anggap saja itu angin lalu. Tak usah juga dipusingkan oleh mereka yang tak mengerti tentang apa yang sesungguhnya makna ‘kafir’ dan “bid’ah” (sesat) itu?.

Manusia paling baik dan paling terhormat di muka bumi, Nabi Muhammad saw, utusan Tuhan, tak luput dari caci maki dan tuduhan semacam itu oleh beberapa orang keluarganya, teman-temannya, kaumnya sendiri yang tak paham. Nabi disebutnya sebagai “orang gila” (majnun). Ucapan-ucapan orang paling mulia itu dianggap mereka sebagai “dongeng” dan “mitos” dan cerita legenda belaka. Tak usah engkau menyibukkan diri melayani dan membungkam mulut mereka yang tak paham itu. Tak ada gunanya. Teriakan apapun terhadap mereka tak akan menggoyahkan pendirian mereka. Bukankah anda pernah mendengar puisi ini :

كل العداوات قد ترجى سلامتها
إلا عداوة من عاداك من حسد

“Semua permusuhan dapat diharapkan penyelesaiannya, kecuali permusuhan orang yang dengki kepadamu”.

Cirebon, 10.07.18
HM

The post Imam Al-Ghazali dan Tuduhan Sesat-Kafir appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Memadukan Nilai Universal dan Lokal Islam

Sepanjang sejarah Islam dari masa Nabi Muhammad sampai sekarang, Islam mengandung nilai-nilai universal dan lokalitas sekaligus. Keduanya saling isi mengisi dan tidak bisa terpisahkan sampai akhir jaman kelak. Inilah ciri Islam dimana Muhammad Saw sebagai Rasul terakhir, yaitu menebarkan nilai-nilai universal tapi juga mengadopsi nilai-nilai lokal.

Persaudaran umat Islam adalah nilai universal, namun Nabi Muhammad tetap mengakui lokalitas dengan memberi istilah kaum Muhajirin dan Anshor. Muhajirin berasal dari Mekkah yang hijrah ke Madinah, sedangkan Anshor adalah mereka yang tinggal di Madinah dan menerima serta menolong kaum Muhajirin untuk bisa nyaman dan aman tinggal di Madinah.

Apakah nilai universal persaudaraan Islam menjadi rusak karena pembagian dua kelompok Muhajirin dan Anshor ini? Tentu tidak demikian. Justru mereka dipersaudarakan dalam naungan Islam.

Rasulullah yang berasal dari suku Quraisy juga tetap memelihara jati dirinya dengan mengatakan “pemimpin itu dari suku Quraisy”. Pada saat yang sama turun ayat al-Qur’an semisal surat al-Hasyr:9 dan sekian banyak pernyataan Nabi akan keutamaan kaum Anshor.

Pointnya adalah berbeda tapi tetap bersaudara. Nilai universal persaudaraan Islam dijadikan pijakan, namun perbedaan peran masing-masing pihak tetap diakui. Indah bukan?

Rasulullah juga tidak begitu saja membuang nilai-nilai lokal. Mana yang baik dan masih bisa diiadopsi dalam ajaran Islam, akan Rasul ambil. Yang jelek dan bertentangan dengan aqidah akan Rasul tolak. Misalnya, praktik mengubur anak perempuan hidup-hidup dikecam dan dilarang dengan tegas. Namun dalam hal kewarisan, konsep ashabah yang berasal dari tradisi lokal saat itu diadopsi oleh Rasul ke dalam hukum Islam.

Bahkan untuk mengubah tradisi yang sudah sangat mengakar, yaitu minum minuman  keras, Rasulullah menerapkan metode gradual alias berangsur-angsur.  Jadi tidak semua hal universal diterapkan begitu saja, atau sebaliknya, tidak semua hal lokal di buang seluruhnya. Semua dipilah, dipadukan dan diukur dalam balutan Islam yang rahmatan lil alamin. Indah bukan?

Rasulullah hidup di Madinah, dan para sahabat menyaksikan kesehariaan beliau Saw. Maka tradisi atau amalan penduduk Madinah bisa dipakai untuk menelusuri ulang Sunnah Nabi. Ini karena Sunnah Nabi dianggap sudah menjadi tradisi lokal penduduk Madinah. Itulah sebabnya Imam Malik menjadikan kesepakatan amal dari penduduk Madinah sebagai salah satu sumber hukum Islam. Bahkan jikalau ada hadits ahad bertentangan dengan tradisi lokal penduduk Madinah, maka Imam Malik mendahukukan amal ahli Madinah.

Kalau beliau hidup di jaman medsos, bisa-bisa sudah dikepcer dan diviralkan seolah Imam Malik mengedepankan tradisi lokal ketimbang Hadits Nabi. Bukan itu!

Hadits ahad itu hanya satu orang yang meriwayatkan, sedangkan amal ahli Madinah —yang diasumsilan berasal dari tradisi keseharian Nabi Muhammad— dikerjakan oleh banyak orang atau oleh penduduk sekampung Madinah. Tentu Imam Malik lebih menerima amalan yang dikerjakan lebih banyak orang ketimbang narasi satu orang saja.

Sampai di sini, semakin jelas terlihat kaitan antara keuniversalan Islam dengan tradisi lokal. Indah bukan?

Contoh lain: di masa Nabi hidup penduduk Madinah masih sedikit. Jadi, kalau Bilal Radhiyallah ‘Anhu mengumandangkan suara azan memanggil shalat, suaranya terdengar oleh semua orang saat itu. Namun di masa Khalifah Utsman, penduduk Madinah semakin ramai, dan wilayah kota semakin luas, suara azan tidak lagi bisa didengar oleh semuanya.

Kalau untuk shalat biasa, tentu ada kesempatan untuk mengerjakan shalat dimana saja asalkan masih pada waktunya. Tapi untuk shalat Jum’at yang berjamaah akan sulit kalau banyak pihak yang tidak ngeh sudah mausk waktu Jum’atan. Belum ada jam tangan atau loud speaker seperti saat ini. Maka Khalifah Utsman menambah jumlah azan Jum’at agar orang di pasar bisa bersiap diri untuk ke masjid.

Di tanah air masih banyak Masjid yang azan Jum’atnya dua kali memgikuti tradisi lokal pada masa Khalifah Utsman. Padahal tradisi Nabi azan Jum’at cuma sekali. Para Kiai mengadopsi keduanya: ajaran Nabi Muhammad dan tradisi Khalifah Utsman. Keduanya tidak dipertentangkan tapi diterima dengan baik.

Bukan cuma itu. Sekali lagi karena ketiadaan loud speaker seperti sekarang, dulu para Kiai juga membolehkan untuk menabuh beduk sebelum dikumandangkan azan. Jadi, yang lokasinya berjauhan dari Masjid tidak akan mendengar suara azan, tapi dia akan mendengar suara beduk. Fungsi beduk bukan memggantikan azan, namun sebagai alat membantu umat agar tahu datangnya waktu shalat. Fungsi beduk, tak ubahnya seperti penambahan azan Jum’at oleh Khalifah Utsman.

Sebagian Masjid di tanah air masih memelihara kearifan lokal dengan memukul beduk menjelang azan. Sebagian lagi sudah menggantinya dengan loud speaker sehingga suara azan terdengar dimana-mana. Semuanya indah bukan?

Saat Islam sudah menyebar ke luar wilayah Hijaz, masalah budaya lokal ini kembali mencuat. Imam Abu Hanifah yang tinggal di Kufah tidak mungkin selalu merujuk kepada tradisi lokal Madinah. Komunikasi dan transportasi belum seperti sekarang. Maka kitab-kitab fiqh biasa menyebut berbagai perbedaan pandangan antara Ahlul Hijaz dan Ahlul Kufah. Perbedaan lokasi membuat mereka berbeda menafsirkan dan menerapkan ayat dan sunnah.

Untunglah ada Imam Syafi’i yang belajar melintasi wilayah Hijaz dan Kufah. Beliau belajar di Madinah, tapi juga belajar dan mengajar di Baghdad, lantas pindah pula ke Mesir. Beliau bersentuhan dengan berbagai tradisi lokal. Tidak heran mazhab Syafi’i mengeluarkan teori ‘urf (adat) sebagai salah satu sumber hukum Islam. Beliau pun mengubah sejumlah fatwanya di Baghdad ketika melihat perbedaan situasi lokal di Mesir.

Kitab klasik Ushul al-Fiqh dan Qawa’id Fiqh menjelaskan bagaimana peranan tradisi lokal dalam menetapkan hukum Islam. Contoh: jikalau saat ijab-qabul pernikahan tidak disebutkan jumlah mahar, maka berlakulah mahar mitsil. Mahar mistil adalah ketentuan jumlah mahar yang ditetapkan besarannya oleh pihak wanita berdasarkan adat yang berlaku di lingkungannya atau keluarganya. Adat setempat menjadi solusi yang diterima dalam hukum Islam.

Ulama Nusantara bertindak lebih jauh lagi dengan mengadopsi aturan harta gono-gini. Kalau terjadi perceraian maka harta bersama suami-istri akan dibagi. Ketentuan ini tidak terdapat dengan jelas di fiqh klasik. Tapi karena sudah menjadi tradisi lokal di Nusantara maka para ulama menerimanya dan Kompilasi Hukum Islam secara resmi mengadopsinya. Para hakim di Pengadilan Agama menerapkan ketentuan harta gono-gini ini.

Dasar dari pengadopsian nilai-nilai lokal adalah kaidah yang berasal dari Hadits Nabi riwayat Ibn Mas’ud:

ما رآه المسلمون حسنا فهوعند الله حسن

Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka baik juga di sisi Allah.

Maka para ulama menyodorkan kaidah-kaidah seperti di bawah ini:

العادة محكمة

(adat itu dapat menjadi dasar hukum)

لا ينكر تغير الأحكام بتغيرالزمان والمكان

(tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat)

المعروف عرفا كا المشروطشرطا

(sesuatu yang sudah dikenal sebagai ‘urf, ia akan berlaku sebagaimana yang telah disyaratkan oleh Nash)

الثابت بدلالة العرف كالثابتبدلالة النص

(yang ditetapkan melalui ‘urf sama dengaan yang ditetapkan melalui Nash)

Sampai di sini, sudah jelas bahwa Islam itu mengandung muatan lokal, selain mempertahankan nilai-nilai universal keislaman. Sekali lagi, indah bukan?

Kalau di masa Nabi Muhammad lokalitas dimaknai salah satunya dengan melestarikan tradisi kaum Muhajirin dan Anshar, mengambil tradisi Arab jahiliyah yang baik, dan dimasa para imam mazhab ada istilah ahlul hijaz dan ahlul kufah, maka setelah Islam meluas sampai ke berbagai benua, apakah nilai-nilai lokal ini masih ingin kita pelihara, atau kita hanya ingin yang universal saja?

Para ulama dan cendekiawan di berbagai negeri sudah menjawabnya.

Islam Hadhari muncul secara resmi di Malaysia tahun 2004 oleh Perdana Menteri Abdullah Badawi. Sebelumnya,  European Islam atau Euro-Islam masing-masing dikemukakan oleh Prof Tariq Ramadhan dan Prof Bassam Tibi. Tariq menyampaikan istilah European Islam (Islam Eropa) lewat bukunya pada tahun 1999. Tujuh tahun sebelum Tariq, Bassam Tibi sudah mengenalkan istilah Euro-Islam di tahun 1992.

Syekh al-Albani juga berfatwa bahwa tidak cukup hanya bilang saya Muslim. Syekh al-Albani menegaskan bahwa seorang pengikut Salafi harus mengatakan saya itu islam-nya mengikuti Islam salafi, untuk membedakan dengan Islam kelompok lain. Di tanah air kawan-kawan Muhammadiyah menggunakan istilah Islam Berkemajuan. Sementara itu kawan-kawan PKS banyak yang berkecimpung dalam pendirian Sekolah Islam Terpadu.

Jadi sudah beredar luas ada Islam Hadhari, Islam Eropa, Islam Salafi, Islam Berkemajuan dan Islam Terpadu. Aqidah Islam tetap satu dan universal, namun aplikasi dan ekspresinya bisa berbeda-beda.

Indah bukan?

Kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sejak Muktamar 2015 menggunakan istilah Islam Nusantara. Bermula dari penegasan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan pendiri NU lainnya tentang Indonesia dan Nasionalisme yang berujung pada Resolusi Jihad. Kemudian penerimaan NKRI sebagai bentuk final oleh KH Ahmad Siddiq. Lantas Gus Dur menegaskan keindonesian dan keislaman dengan ide beliau akan pribumisasi Islam. KH Hasyim Muzadi, sebagai pelanjut Gus Dur, menegaskan untuk menolak Islam Transnasional untuk masuk ke tanah air. Semuanya itu menjadi pondasi bagi KH Said Aqil Siradj untuk menegaskan keberadaan Islam Nusantara pada tahun 2015.

Semuanya berasal dari sejarah perjuangan Nabi Muhammad, Imam mazhab dan kaidah yang dirumuskan para ulama klasik untuk menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai nilai-nilai universal, dan mengadopsi kearifan lokal.

Indah bukan?

Tabik,

Nadirsyah Hosen

 

 

Posting Memadukan Nilai Universal dan Lokal Islam ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Ngaji kitab ar-Risalah karya Imam Syafi’i tentang QS an-Nisa ayat 59

Penjelasan saya soal dalil dikomentari oleh salah satu netizen bahwa QS an-Nisa:59 hanya memerintahkan kita untuk merujuk kepada Allah dan RasulNya. Tidak terdapat dalil lain selain al-Qur’an dan Hadits. Benarkah demikian?

Saya hendak menjelaskannya dengan cara ngaji langsung kepada Imam Syafi’i lewat karya beliau yang berjudul ar-Risalah. Kitab karya beliau ini dianggap sebagai tonggak berdirinya disiplin ilmu Ushul al-Fiqh. Beliaulah yang pertama kali menyusun dengan sistematis cara atau metode melakukan ijtihad. Jadi biarlah Imam Syafi’i, lewat kitabnya, yang langsung menjelaskan. Insya Allah tidak akan ada tuduhan liberal, sesat, kecebong (dan cacian lainnya) dari netizen kepada Imam Syafi’i.

Mari kita niatkan ngaji dengan terlebih dahulu mengirimkan bacaan surat al-Fatihah kepada Imam Syafi’i. Lahul fatihah

‎باب: فرض الله طاعة رسول الله مقرونة بطاعة الله، ومذكورة وحدها.

‎قال الله: ” وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم، ومن يعص الله ورسوله، فقد ضل ضلالا مبينا (٣٦) ” [الأحزاب] .
‎وقال: ” ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله، وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم، فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا (٥٩) ” [النساء] .

‎فقال بعض أهل العلم: أولوا الأمر: أمراء سرايا رسول الله – والله أعلم – وهكذا أخبرنا.
‎يشبه ما قال – والله أعلم -، لأن كل من كان حول مكة من العرب لم يكن يعرف إمارة، وكانت تأنف أن يعطي بعضها بعضا طاعة الإمارة.
‎فلما دانت لرسول الله بالطاعة، لم تكن ترى ذلك يصلح لغير رسول الله.
‎فأمروا أن يطيعوا أولي الأمر الذين أمرهم رسول الله، لا طاعة مطلقة، بل طاعة مستثناة، فيما لهم وعليهم، فقال: ” فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله (٥٩) ” [النساء] ، يعني: إن اختلفتم في شيء.

‎وهذا – إن شاء الله – كما قال في أولي الأمر، إلا أنه يقول: ” فإن تنازعتم “، يعني – والله أعلم – هم وأمراؤهم الذين أمروا بطاعتهم، ” فردوه إلى الله والرسول “، يعني – والله اعلم – إلى ما قال الله والرسول إن عرفتموه، فإن لم تعرفوه سألتم الرسول عنه إذا وصلتم، أو من وصل منكم إليه.
‎لأن ذلك الفرض الذي لا منازعة لكم فيه، لقول الله: ” وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم (٣٦) [الأحزاب] .
‎ومن تنازع ممن بعد رسول الله رد الأمر إلى قضاء الله، ثم قضاء رسوله، فإن لم يكن فيما تنازعوا فيه قضاء، نصا فيهما ولا في واحد منهما، ردوه قياسا على أحدهما، كما وصفت من ذكر القبلة والعدل والمثل، مع ما قال الله في غير آية مثل هذا المعنى.
‎وقال: ” ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا (٦٩) [النساء] .
‎[ص: ٨٢] وقال: ” ياأيها الذين آمنوا أطيعوا الله ورسوله (٢٠) ” [الأنفال] .

 

Kitab ar-Risalah karya Imam Syafi’i (halaman 79-82)

Bab Kewajiban Taat Kepada Rasulullah Bersesuaian dengan Ketaatan Kepada Allah dan Hal Lainnya

Allah berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab:36)

Dan juga:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS an-Nisa:59)

Ada sebagian ulama yang berpendapat ulil amri adalah komandan militer di masa Rasulullah. Wa Allahu a’lam. Demikian kabar yang kami terima.

Dan Allah Maha Mengetahui, ini sesuai dengan konteks semua orang Arab di seputaran Mekkah (saat itu) tidak tahu tentang ketaatan kepada pimpinan komando tersebut dan mereka enggan memberi ketaatan kepadanya. Ketika ketaatan telah diberikan kepada Rasulullah, mereka (orang Arab saat itu) tidak berpikir bahwa ketaatan layak diberikan kepada selain Rasulullah.

**
[Komentar saya: Imam Syafi’i kelihatannya merujuk pada asbabun nuzul QS an-Nisa:59 dimana menurut Ibn Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzafah bin Qays as-Samhi ketika Rasul mengangkatnya menjadi pemimpin dalam sariyah (perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah saw.). Sedangkan As-Suddy berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Amr bin Yasir dan Khalid bin Walid ketika keduanya diangkat oleh Rasul sebagai pemimpin dalam sariyah. Yang intinya selain taat kepada Allah dan Rasul, kita pun diminta taat kepada ulil amri].
**

Maka mereka diperintah untuk taat kepada ulil amri yaitu yang sudah ditunjuk oleh Rasul, dengan persyaratan, bukan dengan ketaatan yang mutlak, yaitu tergantung dengan perbuatan mereka.

Allah berfirman pada ayat di atas: “Jika kemudian terjadi perselisihan, maka merujuklah kepada Allah.”

**
[Komentar saya: Imam Syafi’i masih menjelaskan point ini dengan merujuk pada konteks turunnya ayat, yaitu dalam satu riwayat dikisahkan Rasulullah mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata: `Bukankah Rasulullah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?’ Mereka menjawab: ‘Betul.’ Dia berkata lagi: ‘Himpunlah untukku kayu bakar oleh kalian.’ Kemudian ia meminta api, lalu ia membakarnya, dan ia berkata: ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya.’ Maka seorang pemuda di antara mereka berkata: ‘Sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah dari api ini. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasulullah perintahkan kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah.’ Lalu mereka kembali kepada Rasulullah dan mengabarkan tentang hal itu. Maka Rasulullah pun bersabda kepada mereka: ’Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada hal yang baik (yang ma’ruf)”‘.]
**

Yang dimaksud Allah tentang ayat di atas adalah ulil amri. Ketika Allah berfirman “jika kalian berselisih/berbeda pendapat” yang dimaksud itu jika berselisih pendapat dengan mereka ulil amri yang diperintahkan untuk ditaati.

Lalu firmanNya, “kembalikanlah masalah itu kepada Allah dan RasulNya” maksudnya adalah “kembalikan kepada Allah dan RasulNya jika kalian mengetahuinya”. Kalau kalian tidak mengetahuinya, bertanyalah kepada Rasulullah, jika bisa bertanya kepada beliau. Kalau tidak bisa, tanyakan kepada orang yang telah mengetahui penjelasannya dari Rasulullah. Cara Ini adalah kewajiban yang tidak bisa diperdebatkan lagi.

Allah berfirman:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka…” (QS al-Ahzab:36)

**
[Komentar saya: Imam Syafi’i melakukan penafsiran terhadap Qs an-Nisa:59 mengenai cara menyelesaikan perbedaan pandangan dengan ulil amri, yaitu kembalikan kepada Allah dan Rasul kalau umat Islam saat itu mengetahui tentang hukum syara’ di dalam al-Qur’an dan Hadits. Kalau tidak tahu, bertanya langsung ke Rasul agar mendapat penjelasan. Jika karena satu dan lain hal tidak bisa bertanya langsung (mungkin sedang dalam perjalanan di luar Madinah) maka bertanyalah pada yang sudah pernah mendengar penjelasan dari Rasul. Ini untuk umat saat itu yang hidup di masa Rasulullah. Bagaimana dengan kita sekarang? Imam Syafi’i menjelaskan di bawah ini].
**

Mengenai perselisihan pendapat yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah maka mereka harus mengembalikan masalah itu kepada ketentuan Allah, kemudian ketentuan Rasul. Apabila yang mereka perselisihkan itu tidak terdapat teks keputusannya di keduanya atau di salah satunya, maka kembalikan masalah itu kepada Qiyas (analogi) berdasarkan pada Qur’an atau Hadits, sebagaimana telah saya jelaskan saat mengupas masalah kiblat, keadilan (saksi), mitsil, dan firman Allah di dalam ayat yang semakna dengan itu.

Allah berfirman:

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (AS an-Nisa:69)

Dan juga:

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya…” (QS al-Anfal:20)

**
[Komentar saya: Imam Syafi’i telah mengupas cara melakukan istinbath hukum berdasarkan QS an-Nisa:59. Selain merujuk kepada ketentuan Allah (al-Qur’an) dan ketentuan Rasul (Hadits), ayat di atas juga dipahami Imam Syafi’i berkenaan dengan dua golongan yaitu orang yang tahu dan orang yang tidak tahu (awam). Orang yang memiliki ilmu bisa langsung memahami ketentuan Allah dan RasulNya. Orang yang tidak tahu (awam) bisa meminta penjelasan dari Rasul atau dari orang yang paham (sahabat Nabi) tentang penjelasan Rasul. Kemudian, ayat di atas juga menjadi dasar berlakunya Qiyas, yaitu dengan melakukan analogi kasus baru dengan kasus hukum atau ketentuan yang sudah terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadits. Maka Qiyas itu sebenarnya juga merujuk kepada al-Qur’an dan Hadits sesuai yang dimaksud dalam QS an-Nisa:59. Kembali kepada al-Qur’an dan Hadits bisa melalui bertanya kepada ulama yang paham al-Qur’an dan Hadits, maupun dengan melakukan ijtihad yang salah satunya berupa Qiyas]
**

Demikian penjelasan Imam Syafi’i. Jadi, jelaslah sudah peranan ulama dan juga penggunaan dalil selain al-Qur’an dan Hadits. Di masa Imam Syafi’i hidup saja begitu banyak persoalan yang sebelumnya tidak terjadi atau tidak ditemui pada masa turunnya al-Qur’an dan masa hidup Nabi, apalagi pada era kita sekarang hidup di abad 21. Maka penjelasan Imam Syafi’i telah menjadi dasar bagi para ulama untuk melakukan ijtihad.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

 

Posting Ngaji kitab ar-Risalah karya Imam Syafi’i tentang QS an-Nisa ayat 59 ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

KH A. AZIZ MASYHURI: Nara Sumber Penelitian Fatwa NU

[Beliau wafat pada 15 April 2017. Tempo hari, Panitia Haul beliau meminta saya ikut menyumbang tulisan mengenang beliau. Ini saya share catatan saya tersebut, semoga ada manfaatnya dan mari kita kirimkan al-fatihah untuk beliau, pengasuh Ponpes al-Aziziyah Denanyar, semoga Allah merahmati dan mengangkat derajat beliau. Lahul fatihah…]

Saya mengenal KH A. Aziz Masyhuri itu sekitar tahun 1998 sewaktu saya sedang melakukan penelitian untuk tesis saya tentang Fatwa MUI, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Di kalangan para peneliti Australia, dan saya kira juga peneliti di manca negara, nama KH A. Aziz Masyhuri itu terkenal menjadi rujukan dalam urusan fatwa NU. Karena beliaulah yang mula-mula mengumpulkan semua hasil Bahtsul Masail dari muktamar pertama saat itu sehingga menjadi dokumen yang sangat berharga.

Saya ingat juga, kebetulan saya sudah mempunyai buku tersebut. Prof MB Hooker dari Australia National University (ANU) ketika bertemu saya, beliau bertanya mengenai buku itu dan akhirnya minta saya foto-kopikan. Jadi saya foto-kopikan dan kemudian saya kirim lewat pos dari tempat saya waktu itu di University New England kepada Barry (panggilan Prof MB Hooker) untuk jadi bahan penelitian beliau tentang fatwa di tanah air. Jadi, nama Kiai Aziz itu masyhur di kalangan para peneliti Luar Negeri tentang fatwa NU.

Tahun 1998 saya sempat datang ke Denanyar, bertamu ke rumah beliau (waktu itu masih di ndalem yang lama). Berdiskusi langsung tentang manhaj fatwa NU. Saat itu saya diterima dengan baik lalu kami berdiskusi panjang lebar. Saya cukup terkejut saat itu, ketika Kiai Aziz bercerita mengenai Syeikh Wahbah al-Zuhaili. Beliau mengatakan bahwa beliau memiliki buku al Fiqh al Islam wa Adillatuhu karya syaikh Wahbah al-Zuhaili.

Tetapi kemudian ketika beliau juga membaca Tafsir al-Munir terus melihat bagaimana pendekatan dan corak penyampaian yang disampaikan oleh syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Munir, meski beliau sebelumnya tidak melihat nama pengarangnya. Beliau mengatakan: “Lha kok ini gaya-gayanya kayak sama buku al Fiqh al Islam wa Adillatuhu ketika membahas tentang masalah-masalah hukum.” Kemudian beliau baru ngeh kalau tafsir tersebut ternyata ditulis oleh Wahbah al-Zuhaili.

Buat saya cerita singkat ini menarik, karena karya al-Zuhaili ini termasuk kitab modern. Masalah definisi kitab-kitab yang mu’tabarah di dalam Bahtsul Masail NU itu belum termasuk kepada kitab-kitab yang modern. Jadi yang disebut dengan kitab-kitab yang mu’tabarah itu waktu itu adalah kitab-kitab klasik. Tetapi fakta bahwa seorang Kiai di Denanyar Jombang ternyata dengan lancar menceritakan mengenai isi dua kitab karangan Syaikh Wahbah al-Zuhaili. Ini menandakan bahwa para Kiai NU itu mengikuti perkembangan kitab-kitab modern tersebut. Meskipun pada saat itu tidak secara tegas diakui kitab tersebut sebagai bagian dari kitab-kitab yang mu’tabarah.

Ini sebuah fakta yang menarik, karena ternyata para Kiai tradisional NU telah melampaui batasan dari apa yang disebut dengan kitab-kitab yang mu’tabarah itu tadi.

Kesan saya, bahwa KH A. Aziz Masyhuri ini adalah seorang Kiai tradisional, tetapi juga mempunyai wawasan yang selalu di-up date. Kesan saya yang selanjutnya adalah saat itu diskusi dengan beliau di rumahnya mengenai metode fatwa NU berdasarkan hasil Munas NU di Lampung pada tahun 1992. Yaitu mengenai mengeluarkan fatwa dengan metode manhaji dan ilhaq.

Kedua hal ini saya tanyakan kepada KH Aziz Masyhuri. Beliau mengatakan: “masalahnya belum ada juklak dan juknisnya yang diturunkan dari keputusan Munas Lampung yang menjadi pegangan para ulama NU khususnya di lajnah Bahtsul Masail.”

Bagaimana sebetulnya bermazhab secara manhaji itu dan kemudian juga cara ilhaq itu seperti apa? Karena belajar dalam kitab-kitab klasik itu masalah qiyas. Sementara para ulama di Munas Lampung itu juga meng-introduce atau memperkenalkan hal baru yaitu ilhaq. Seperti apa juklak dan juknisnya?

Saat itu menurut KIai Aziz Masyhuri memang belum ada. Bahkan beliau sempat menanyakan langsung kepada KH Sahal Mahfudz (selaku Rais Am NU pada waktu itu). KH Sahal Mahfudz lalu menjawab, “kalau begitu dibuat saja juklak dan juknisnya,” jawab Kiai Sahal sambil tersenyum.

Hasil diskusi dengan Kiai Azis Masyhuri tentang NU saya tuliskan dalam sebuah artikel yang berjudul “Nahdlatul Ulama and Collective Ijtihad” yang berhasil diterbitkan di New Zealand Journal of Asian Studies tahun 2004.

Saya kira konsen dan kepedulian Kiai Aziz Masyhuri terhadap Bahtsul Masail itu sudah melegenda. Di muktamar-muktamar NU beliau selalu hadir dan selalu ikut mewarnai diskusi di Bahtsul Masail. Hanya mungkin kalangan di luar NU tidak terlalu mengenali beliau, karena beliau bukan politisi NU atau bukan orang yang berada di puncak struktural PBNU. Tapi saya kira sumbangsih beliau pada dunia NU dan Bahtsul Masail di kalangan NU tidak bisa dipungkiri dan kita berterima kasih pada beliau. Mungkin itu yang bisa saya kenang dari KH A. Aziz Masyhuri.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting KH A. AZIZ MASYHURI: Nara Sumber Penelitian Fatwa NU ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Jangan Taqlid: beneran nih?

Ba’da sholat zuhur berjamaah di masjid jami’, Ujang merasa kehausan. Kakinya lantas melangkah ke warung Mpok Ruqayah. Ujang memesan es kelapa muda.

Pada saat yang bersamaan, seorang anak muda yang berjenggot tipis dan memakai celana cungkring (sekitar 10-15 senti di atas mata kaki) duduk disamping Ujang. Sambil tersenyum pada Ujang, anak muda yang bernama Jundi ini bertanya kepada Ujang, “Tadi malam akhi Ujang ikutan ratiban di kediaman Haji Yunus yah?”

“Iyah alhamdulillah saya ikutan bareng-bareng baca Ratib al-Haddad bersama Wak Haji”, jawab Ujang sebelum menyeruput es kelapa muda.

“Apa akhi Ujang tahu apa dalilnya ikut ratiban semacam itu?” Jundi bertanya sambil tersenyum.

“wah itu sih urusan Wak Haji…kata beliau ratiban ini kumpulan doa yang tentu saja ada dalilnya. Lha dalilnya itu apa dan bagaimana yah…tolong aja kang Jundi tanya langsung sama Wak haji Yunus”. Ujang nyerocos sambil tangannya mencomot pisang goreng di depannya.

“Itu namanya taqlid alias fanatisme buta. Agama melarang kita untuk taqlid semacam itu. Bukankah Pak Yunus itu manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Kok akhi Ujang mau saja ikut-ikutan sama beliau. Itu namanya menyembah Pak Yunus. Haram itu hukumnya!” suara Jundi mulai meninggi.

“wah…udara udah panas begini, kang Jundi kok malah bikin saya jadi gerah nih.” Ujang mengipas-ngipaskan pecinya ke arah tubuhnya.

“bukan begitu akhi…saya sekedar mengingatkan saja. Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnahku’. Jadi segala persoalan harus berdasarkan kepada Qur’an dan Sunnah. Nggak boleh hanya kata kiyai anu atau ulama sana atau cuma kata Pak Yunus.”

“bentar kang….” Ujang merubah posisi kakinya sambil kemudian mengangkat sedikit kain sarungnya. Ujang terus meneruskan, “Hadis yang tadi kang Jundi baca itu shahih atau dha’if?”

“Hadis-nya shahih ya akhi Ujang” jawab Jundi sambil memegang jenggotnya.

“O, ya? Akang tahu dari mana kalau itu hadisnya shahih?”

“Dari Syekh al-Albany. Beliau ini ulama besar…dalam kitab Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, beliau bilang hadis ini shahih.” Jundi lantas membuka catatannya. “Ya betul akhi…ini disebutkan dalam buku Syekh al-Albany juz 4, halaman 330”

Sambil membetulkan peci hitam yg sudah lusuh, Ujang bertanya lagi:

“sudah akang periksa argumennya al-Albany sampai beliau bilang hadis ini shahih? Misalnya dicek ulang gitu semua argumen beliau”

“Belum. Tapi Syekh al-Albany menyebutkan sumber-sumber rujukannya kok”

“Terus darimana akang bisa yakin kalau yang dilakukan Syekh al-Albany dalam mengatakan Hadis ini shahih itu benar?”

“Lho al-Albany kan ahli hadis, dia punya kualifikasi untuk itu,
masak dia bohong?” suara Jundi mulai meninggi. Dalam hatinya dia bilang, “ini orang kok ngeyel banget sih. Susah banget menerima sebuah kebenaran!”

“Ehmm…akang sudah taqlid dong sama Syekh al-Albany. Yang akang lakukan sama saja dengan kawan-kawan saya tadi malam yang mengikuti Wak Haji Yunus utk ratiban bareng tanpa mengkaji terlebih dahulu dalil dan argumen wak Haji Yunus. Kami melakukannya karena “percaya”
bahwa wak Haji Yunus itu ahli dalam bidangnya”

Sambil nyengir meniru gaya film james Bond yang ditontonnya saat layar tancep, Ujang meneruskan:

“Sama saja dengan saya kalau sakit pergi ke dokter. Apa yang dikatakan dokter saya percaya. Disuruh minum obat A atau B saya ikuti. Soalnya saya “percaya” akan otoritas dokter tsb. Saya nggak mau bilang begini, ‘Maaf dokter, saya butuh waktu untuk menguji apakah obat yg anda kasih itu benar atau tidak, saya harus cek dulu argumentasi anda utk mengatakan penyakit saya ini A dan bukan penyakit B”

Muka Jundi langsung memerah. Dia tidak menyangka Ujang yang sarung dan pecinya sudah lusuh dan wajahnya ndeso banget itu dengan telak menohok argumentasi Jundi.

Mpok Ruqayah, yang dari tadi cuma mendengarkan sambil menggoreng pisang, tiba-tiba ikutan nimbrung.

“Perasaan ane hadis yang tadi bang Jundi bacakan ada versi lainnya deh. Dulu Wak haji Yunus udah pernah menjelaskan saat ane ikutan pengajian di rumahnya”

“Enggak ada Mpok…hadisnya ya cuma ini. kalau ada versi lain, ya itu dha’if” jawab Jundi sambil membolak-balik buku catatannya.

“ah urusan dha’if apa kagak itu sih urusan orang sekolahan…bukan urusan ane…urusan ane sih dagang aja” Mpok Ruqayah tertawa sambil membetulkan posisi sendal jepitnya.

“Iya nih akang masih doyan aja sembarangan mendha’ifkan hadis”

“Soalnya kata murabbi saya begitu akhi”

“Tuh kan…ente taqlid lagi” Ujang kembali nyengir.

“Bukan…ini bukan taqlid. Ini namanya tsiqah pada qiyadah”

“ya sama aja dong…intinya kan tunduk dan patuh serta percaya pada pemimpin dan panutan kita. Saya taqlid sama Wak haji Yunus. Akang Jundi tsiqah sama murabbi. Intinya kan sama aja. Artinya sama-sama baik. Karena Wak Haji Yunus orang baik, dan Murabbi akang juga orang baik. Begitu kang…”

Di saat itu datanglah Haji Yunus sambil mengucapkan salam. Ujang dan Mpok Ruqayah lantas menceritakan dialog dengan Jundi tersebut. Jundi yang duduknya menjadi gelisah, ditepuk-tepuk bahunya oleh Haji Yunus. “Bagus…bagus…inilah pemuda harapan kita. Selalu bersemangat dalam menjalankan Din Allah ini”

“Nak Jundi kuliah dimana? tanya Haji Yunus dengan lembut.

“Di Universitas Prabu Siliwangi, jurusan akunting. Saya lagi buat skripsi Pak Yunus”

“Oh bagus…bagus…apa saat menulis skripsi itu Nak Jundi mencantumkan footnote yang isinya pendapat para pakar dan juga mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pembimbing skripsi?”

“Tentu saja Pak. Dunia akademik memang seperti itu”

“Mungkin Nak Jundi belum tahu, ttulah tradisi ilmiah dalam Islam yang diadopsi oleh dunia intelektual modern saat ini. Tradisi merefer dan merujuk itu bisa dilacak dalam khazanah Islam.” Haji Yunus menjelaskan sambil memberi kode kepada Mpok Ruqayah utk membuatkan kopi.

“Wah jangan-jangan akang Jundi ini taqlid juga sama pembimbing dan para pakar yg dicantumkan dalam footnote skripsinya nih” Ujang nyeletuk sambil megang perutnya yang buncit.

Jundi tersenyum masam.

Haji Yunus melotot pada Ujang, tanda beliau kurang suka dengan Ujang yang menggoda Jundi. Lalu beliau menoleh kembali pada Jundi:

“Tadi hadis yang dibacakan oleh Nak Jundi itu bagaimana bunyinya dan bagaimana terjemahnya?” tanya Haji Yunus.

“Maaf Pak Yunus…saya hanya mencatat dari kumpulan materi pengajian. Kebetulan hadisnya ini sudah diterjemahkan.”

Ujang nyeletuk lagi:

“itu namanya akang bukan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah…tapi kembali ke terjemahan al-Qur’an dan terjemahan Sunnah. Lha yang nerjemahin itu siapa? Kok akang percaya saja sama terjemahannya. Itu namanya akang taqlid sama terjemahan tersebut. Terjemahan Qur’an dan Hadis kan banyak macamnya. Cari aja di-google. Otong yang kawan saya aja bisa. Betul kan Wak Haji?”

Muka Jundi memerah kembali.

“Iya betul”, kata Haji Yunus, “tapi kamu jangan biasakan memojokkan saudara sendiri seperti itu. Kita semua kan sama-sama belajar.” tegur Haji Yunus.

“Maaf Wak Haji…” Ujang menundukkan pandangan matanya, sebagai tanda ia menerima teguran Haji Yunus. Lantas mata ujang melirik ke lantai. Tiba-tiba ia berseru panik.

“Lho Mpok Ruqayah…kok sendal saya hilang. Tadi kan masih di sini.” Ujang celingukan mencari sendal jepitnya.

“wah jangan-jangan sendal jepit saya hilang akibat adanya konspirasi Yahudi dan CIA untuk mencuri harta ummat Islam nih….” Ujang nyerocos sambil garuk-garuk kepala.

Mpok Ruqayah langsung nyengir….”masak Yahudi sama CIA ngurusin sendal jepit kamu yang jelek itu…Ujang…ujang…ada-ada aja sih!”

Haji Yunus pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk menikmati kopinya. Jundi masih tersenyum kecut sambil melirik catatan pengajian yang berjudul, “ghazwul fikri antara yahudi-barat versus ummat Islam”

(reposting tulisan sekitar 11 tahun yang lalu)

Posting Jangan Taqlid: beneran nih? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Salah Kaprah Saat Bertanya “Dalilnya Mana?”

Sering ada yang bertanya: ini mana dalilnya? Di balik pertanyaan ini kerap kali terjadi kesalahpahaman tentang dalil. Dengan merujuk pada kitab Ushul al-Fiqh al-Islamiy karya Syekh Wahbah az-Zuhaili (jilid 1, halaman 417-419) seperti yang saya skrinsut di sini, mari kita kaji ulang dimana letak salah pahamnya.

Para ulama biasanya membahas masalah dalil ini dalam topik mashadir al-ahkam (sumber-sumber hukum) atau al-adillah asy-syar’iyyah (dalil-dalil syara’). Secara umum yang disebut sebagai dalil itu tidak hanya terbatas pada al-Qur’an dan Hadits saja. Dengan demikian, Inilah kesalahan pertama dibalik pertanyaan mana dalilnya, yaitu menganggap seolah dalil itu hanya ayat al-Qur’an dan Hadits.

Syekh Wahbah mengutip Hadits riwayat Sayidina Muaz bin Jabbal. Ketika Muaz Radhiyallah ‘Anhu akan berangkat ke Yaman sebagai utusan Nabi, Nabi bertanya kepada Muaz: “Hai Muaz, jika umat bertanya padamu tentang sesuatu masalah, dalil apa yang engkau gunakan?
Maka Muaz menjawab: “dengan al-Qur’an”
Nabi bertanya:”Jika tidak terdapat dalam al-Qur’an, bagaimana?”
Maka Muaz menjawab:”dengan sunnahmu”
Nabi bertanya:”Jika tak ada dalam sunnahku dan al-Qur’an?”
Maka Muaz menjawab: “dengan ijithadku”
Nabi menyetujui dan memuji jawaban ini.

Syekh Wahbah juga menjelaskan bagaimana Sayidina Abu Bakar mencari petunjuk di dalam al-Qur’an dan Hadits, tapi begitu tidak diperolehnya maka beliau mengumpulkan para sahabat Nabi lainnya untuk bermusyawarah. Kemudian beliau kumpulkan pendapat para sahabat dan lantas memutuskan perkara berdasarkan hal tersebut. Metode ini juga dilakukan oleh Sayidina Umar dan para sahabat lainnya.

Nah, kesalahpahaman yang kedua adalah cepat-cepat menolak suatu perkara hanya karena tidak terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadits. Padahal para sahabat utama seperti Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar akan mengajak berdiskusi dulu dan bertukar pikiran. Di sinilah peranan ijtihad.

Kesalahan ketiga adalah menolak menghukumi sesuatu perkara berdasarkan akal. Seolah akal itu sesuatu yang tercela. Padahal sekian banyak ayat al-Qur’an meminta kita untuk menggunakan akal pikiran. Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan ada pembagian dalil naqli dan dalil aqli. Contoh dalil aqli yang sah digunakan untuk memutus perkara itu qiyas (analogi), pertimbangan kemaslahatan, dan lainnya. Dalil naqli seperti al-Qur’an dan Hadits tidak bisa dipahami kecuali melalui pertimbangan akal, perenungan dan pandangan yang sahih.

Jadi, keliru besar kalau serta-merta menolak penggunaan akal dalam urusan dalil. Ambil contoh, penggunaan qiyas (analogi) jelas bertumpu pada logika. Meski demikian qiyas juga harus bersandar pada petunjuk dalam al-Qur’an atau Hadits karena kita tidak bisa melalukan analogi tanpa ada pokok (ashal) perkaranya terlebih dahulu.

Artinya, dalam kajian metodologi hukum Islam, peranan akal bukannya dilarang digunakan, tapi justru diatur dan dibahas dengan jelas aturan mainnya. Bukan sekadar akal-akalan, bukan pula untuk mengakali, tapi justru digunakan sesuai kaidah yang telah digariskan para ulama.

Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas adalah empat dalil yang disepakati penggunaannya. Sedangkan dalil lainnya seperti mashalih mursalah, istihsan, istishan, qaulus shahabi, ‘urf (adat), dan lainnya itu diperdebatkan penggunaannya oleh para ulama.

Saya hendak tambahkan bahwa selain dalil, ada juga namanya analisa terhadap dalil. Dalam bahasa ushul al-fiqh, ini disebut sebagai istidlal. Contohnya: ayat al-Qur’an memerintahkan kita untuk mengusap kepala saat berwudhu (wamsahu bi ru’usikum). Timbul pertanyaan, berapa banyak yang harus kita basuh. Apa semuanya? Atau sebagian saja?

Ayat al-Qur’an tidak menjelaskan dengan pasti batasanya, maka para ulama menganalisa dalil ini. Ditemukanlah huruf “bi” pada ayat tersebut. Ada ulama yang menganalisa bahwa fungsi “bi” pada ayat di atas bermakna sebagian (li tab’id). Ulama lain memberikan analisanya bahwa huruf “bi” bergungsi lil iltishaq (keseluruhan).

Akibat perbedaan analisa terhadap wajh istidlal maka kesimpulannya bisa berbeda-beda meski dalilnya sama. Mazhab Syafi’i dan Hanafi mengatakan cukup sebagian saja kepala yang dibasuh. Sedangkan Maliki dan Hanbali mengatakan harus seluruhnya.

Nah, kesalahan terakhir adalah seringkali dianggap kalau sudah ada dalilnya maka kemudian tidak akan lagi ada perbedaan pendapat. Faktanya, para ulama justru berbeda pendapat akibat menganalisa dalil tersebut. Perbedaan pendapat bukan disebabkan ketiadaan dalil. Dalil ada, analisa berbeda, kesimpulan pun bisa jadi berbeda-beda.

Ringkasnya, salah kaprah soal dalil itu karena gagal memahami bahwa:

1. Dalil itu tidak hanya al-Qur’an dan Hadits.
2. Kalau tidak terdapat petunjuk di dalam al-Qur’an dan Hadits, maka gunakan ijtihad
3. Akal itu juga diakui sebagai dalil. Namanya dalil aqli. Contohnya mayoritas ulama sepakat memakai Qiyas (analogi)
4. Para ulama berbeda pendapat bukan karena tidak ada dalil tapi karena berbeda menganalisa dalil, sehingga kesimpulannya pun bisa berbeda-beda.

Jadi, sebelum kita bertanya, “mana dalilnya?”, pahami terlebih dahulu, paling tidak, keempat point di atas. Biar gak salah kaprah.

Wa Allahu a’lam bis shawab.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

 

Posting Salah Kaprah Saat Bertanya “Dalilnya Mana?” ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Benarkah semua perbuatan Nabi itu sunnah yang wajib kita ikuti?

Sekarang kita bahas soal Sunnah. Kita tahu Sunnah Nabi itu defisininya adalah perkataan (aqwal), perbuatan (af’al) dan penetapan (taqrir) dari Nabi Muhammad. Kita fokus pada perbuatan Nabi, sebagaimana diulas dalam kitab karya Syekh Wahbah az-Zuhaili yang berjudul Ushul al-Fiqh al-Islamiy (jilid 1, halaman 478-440). Saya skrinsut isi kitabnya untuk kawan-kawan yang mau menelaah lebih lanjut.

Mari kita ngaji sama-sama

Perbuatan Nabi itu ada tiga macam. Kita akan simak mana yang merupakan perbuatan yang berimplikasi syar’i kepada kita selaku umatnya.

Pertama, perbuatan jibliyah yang dilakukan beliau SAW dalam kapasitas sebagai manusia biasa, seperti duduk, berdiri, makan-minum.

Jumhur atau mayoritas ulama mengatakan tidak wajib mengikuti perbuatan Nabi yang dilakukan secara fitrah kemanusiannya. Namun ada yang berpendapat hal itu tetap dianjurkan untuk mengikuti Nabi seperti yang dicontohkan oleh sahabat Nabi, Abdullah bin Umar RA.

Nah, sampean mau ikut jumhur ulama gak? Kalau ikut jumhur, berarti perbuatan Nabi kategori pertama ini tidak wajib kita ikuti. Namun kalau sampean ingin mengikutinya silakan saja, karena hal itu juga sudah dicontohkan oleh Abdullah bin Umar RA. Hanya jangan memaksa orang lain untuk mengikuti pemahaman sampean atau menganggap orang lain tidak nyunnah karena tidak ikut cara duduk, berdiri, tidur, makan-minumnya Nabi Muhammad SAW. Boleh jadi kawan sampean itu justru mengikuti pendapat mayoritas ulama.

Kedua, perbuatan khusus yang dilakukan oleh Nabi saja dan bukan kewajiban untuk umatnya. Misalnya Nabi puasa terus menerus, wajib shalat tahajud, boleh menikah lebih dari 4, dan seterusnya. Perbuatan itu hanya khusus bagi Rasul SAW dan tidak disyariatkan untuk kita sebagai perkara yang wajib diikuti.

Perbuatan Rasul selain kedua jenis di atas menjadi tasyri’ yg berlaku bagi kita. Kita dituntut untuk mengikuti dan meneladaninya. Untuk itu harus diketahui status perbuatan itu bagi kita apakah wajib, sunnah atau mubah. Ketetuannya adalah sebagai berikut. Ini artinya perbuatan Nabi dalam kategori ketiga ini punya konsekuensi hukum, namun tetap harus dipilah lagi.

(a) perbuatan yang menjadi bayan (penjelas) atas kemujmalan ayat Qur’an; atau yang menjadi taqyid (pengait) atas kemutlaqan dan sebagai takhsis (pengkhusus) atas keumumannya. Ini sudah masuk istilah teknis yg dibahas para pakar Ushul al-Fiqh. Sampean mesti cek sendiri istilah mubayan-mujmal, mutlaq-muqayyad, dan ‘am-khas dalam kitab-kitab Ushul al-Fiqh. Gak mungkin tuntas semuanya dijelaskan dalam catatan saya ini. Harus ngaji di pondok untuk menelaahnya

Ayo kita lanjutttt, yang bisa kita jelaskan di sini:

Status hukum perbuatan ini mengikuti status seruan yang dijelaskan (al-mubayyan). Jika yang dijelaskan oleh perbuatan Nabi itu wajib maka hukum perbuatan itu wajib. Jika yang dijelaskan sunnah maka sunnah melakukannya. Jika yang dijelaskan mubah maka mubah pula melakukannya.

Ini artinya tidak semua hal yang dilakukan Nabi itu wajib kita ikuti, terkadang hukumnya hanya sunnah (dianjurkan), atau mubah (boleh mengikutinya-boleh pula tidak).

Contoh, perbuatan Nabi SAW dalam bentuk shalat merupakan bayan atas perintah shalat dlm al-Qur’an. Hal itu dinyatakan secara tegas (sharih) dalam sabda Rasul saw.:

‎«صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّى»

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.

Maka shalat mengikuti tata cara yang dilakukan Nabi itu sebuah keharusan. Namun bagaimana tata caranya, para ulama bisa berbeda-beda lagi memahaminya tergantung berbagai narasi yang mereka terima hasil laporan pandangan mata para Sahabat dalam melihat Nabi shalat.

Perbuatan Rasulullah SAW dalam melaksanakan haji merupakan bayan atas seruan berhaji. Hal itu dinyatakan secara sharih dalam sabda Rasul saw.:

‎«خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ»

‎Ambillah dariku tata cara haji kalian.

‎Begitu juga contoh soal batas potong tangan dan batas berwudhu sampai siku, meski ayat al-Qur’an tidak menjelaskannya dengan rinci. Sunnah Nabi-lah yang menjelaskan batasannya.

Dalam perbuatan ini bayan mengikuti apa yg dijelaskan (al-mubayan) sehingga kemungkinan hukumnya bisa wajib, sunnah atau mubah. Sampai di sini, menentukan hukum mengikuti perbuatan Nabi tergantung qarinah (indikasinya) apakah wajib, sunnah atau mubah.

(b) Perbuatan Rasulullah SAW juga ada yang dilakukan tanpa ada tujuan untuk menerangkan, atau menjelaskan sesuatu seperti di atas. Ini membutuhkan penelaahan. Kadang ada perbuatan Rasul yang tidak diketahui sifatnya apa mengandung hukum syara’ atau tidak. Maka para ulama mengkajinya dengan detil dan mendalam sebelum sampai pada kesimpulan.

Jadi, analisa terhadap dalil itu sebuah keniscayaan. Bukan langsung “dikunyah” begitu saja hanya berdasarkan terjemahan hadits yang diviralkan di medsos.

Kalau diketahui sifat perbuatan Nabi itu mengandung hukum syara’ baik wajib, mandub atau mubah maka kita sebagai umatnya mengamalkannya juga. Ini pendapat yang lebih pas menurut Imam Syawkani berdasarkan dalil Qur’an dan tradisi sahabat Nabi.

Tetapi jika perbuatan tersebut tidak diketahui hukumnya maka ada dua kemungkinan, yaitu: terdapat sifat pendekatan diri kepada Allah (qurbah) atau tidak. Jika iya, maka hukum mengikutinya adalah sunnah, seperti shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan oleh Rasul tidak secara terus menerus (kadang dikerjakan, kadang tidak). Maka ini indikasi mengikutinya itu hukumnya mandub (dianjurkan). Hal ini karena dalam shalat dua rakaat itu ada unsur taqarub ilallah.

Namun menurut Imam Malik perintah (amr) mengikuti Nabi itu wajib. Perbuatan Nabi SAW (yang kadang mengerjakan, kadang tidak) semata menunjukkan adanya thalab al-fi’li (tuntutan agar dilaksanakan). Di sini para ulama berbeda pandangan.

Jadi biasa aja lagiiii kalau ulama beda pendapat. Paham yahh. Gak usah marah-marah terus

Akan tetapi, jika tidak ditemukan sifat qurbah (karena berada dalam wilayah mu’amalah, bukan ibadah) seperti contohnya jual beli, dan akad muzara’ah yg dilakukan oleh Nabi, maka hukum mengikutinya hanya mubah menurut Imam Malik. Ini pendapat yang dipilih oleh Ibn al-Hajib. Namun, lagi-lagi ulama berbeda pandangan, karena menurut Imam Syafi’i itu masuk kategori dianjurkan (mandub). Ini juga merupakan pendapat dari kebanyakan ulama Hanafiyah.

Baik, sampai di sini ternyata perkara perbuatan (af’al) Nabi mana yang harus diikuti, dan mana yang tidak punya konsekuensi hukum panjang diskusinya. Tidak semudah sebagian kalangan yang dengan enteng mengklaim ini dan itu sebagai sunnah Nabi yang harus kita ikuti. Ternyata para ulama mengajarkan kita untuk memilah dan menelaahnya terlebih dahulu.

Sebagai bahan perbandingan kajian dari kitab Ushul al-Fiqh al-Islamiy karya Syekh Wahbah az-Zuhaili ini bisa kita compare dg apa yang dibahas oleh Imam al-Amidi, dalam kitabnya al-Ihkam fi Usul al-Ahkam, seperti pernah saya ulas di sini:

Demikian ngaji kita hari ini. Semoga bermanfaat, bi idznillah

Subhanak la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana innaka antal alimul hakim (Maha Suci Englau Ya Allah, sungguh kami tidak punya ilmu apapun kecuali apa-apa yg telah Engkau ajarkan kepada kami)

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Benarkah semua perbuatan Nabi itu sunnah yang wajib kita ikuti? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Klaim Terjadinya Ijma’: Benarkah?

Kebenaran ilmiah harus ditegakkan. Jangan mudah mengklaim terjadinya ijma’, jika memang masih terdapat perselisihan atau perbedaan pandangan diantara ulama. Kita harus fair dan jujur. Kalau ada perbedaan pendapat, sebutkan, jangan disembunyikan. Kalaupun kita tidak setuju dengan pendapat yang berbeda itu, tetaplah keberadaan pendapat itu harus kita hargai dan karenanya tidak bisa kita mengklaim telah terjadi Ijma’ (konsensus).

Mari kita ngaji Bab Ijma’ seperti terdapat dalam kitab Ushul al-Fiqh al-Islamiy karya Syekh Wahbah az-Zuhaili (jilid 1, halaman 486-491).

Syekh Wahbah az-Zuhaili mengutip klaim Abu Ishaq yg mengatakan telah terjadi ijma’ lebih dari 20 ribu kasus hukum. Benarkah klaim ini? Apakah ijma’ yang dimaksud ini merupakan ijma sebagai sumber hukum ketiga, yang bersifat qat’i dan sesiapa penentangnya dianggap keluar dari Islam?

Nah, Syekh Wahbah mengajak kita utk berhati-hati dlm memverifikasi klaim ijma’ ini. Banyak ternyata yang diklaim itu bukan ijma’ (konsesus semua ulama) tapi hanya ittifaq (kesepakatan) diantara para imam mazhab, atau satu mazhab, atau karena tidak diketahui ada yang menyelisihi pendapat itu.

Pangkal perdebatan ini dikarenakan mengenai definisi ijma’ itu sendiri yang belum disepakati. Syekh Wahbah menyodorkan 2 definisi, satu dari Imam al-Ghazali, dan satu lagi dari jumhur ulama. Imam al-Ghazali berpendapat bahwa ijma’ itu kesepakatan umat Muhammad secara khusus tentang masalah agama.

Sementara itu jumhur ulama berpendapat: ijma’ itu kesepakatan mujtahid umat Muhammad pasca wafatnya beliau di suatu masa tentang hukum syar’i.

Kedua definisi yang berbeda ini menimbulkan perbedaan konsekuensi dalam aplikasi ijma’ sebagai sumber hukum ketiga dalam Islam.

Dalam definisi Imam al-Ghazali, ijma’ melibatkan semua umat, tidak hanya para mujtahid. Ini sesuai bunyi hadits Nabi bahwa umatku tidak akan bersepakat atas kesalahan atau kesesatan. Dan juga tidak disyaratkan kesepakatan itu terjadi hanya di masa setelah Nabi.

Syekh Wahbah memandang definisi ijma’ menurut Imam al-Ghazali itu problematik. Misalnya pada masa hidup Nabi kita tidak butuh ijma’ karena Nabi tempat bertanya dan menjadi sumber hukum. Jadi definsi jumhur lebih kuat dan pas.

Selesai kutipan dari kitab Syekh Wahbah az-Zuhaili. Masih banyak bahasan beliau yang sangat menarik, namun kita beralih ke kitab lain agar semakin kaya referensi kita.

Dawud Zhahiri dan Ibn Hibban berpendapat bahwa ijma’ hanyalah berlaku untuk sahabat Nabi, tidak untuk yang lain. Imam Ahmad –dalam satu riwayat– mengatakan bahwa ijma’ itu adalah kesepakatan khulafa al-rasyidin saja. Imam Malik malah merujuk pada ijma’ penduduk madinah.

Ulama lain merujuk pada ijma’ ahlul haramain (penduduk Mekkah dan Madinah). Sedangkan ulama yang lain menganggap ijma’ adalah kesepakatan penduduk Basrah dan Kufah saja; ada yang bilang kufah saja, bahkan ada juga yang bilang bahwa kesepakatan penduduk Basrah saja sudah cukup dipandang sebagai ijma’ [Lihat Ibn Hazm, “al-Ihkam fi Usul al-Ahkam,” juz 4, h. 128; al-Amidi, “al-Ihkam fi Usul al-Ahkam,” juz 1, h. 286, 380-381, dan 404-405; al-Syaukani, “Irsyad al-Fuhul,” h. 70, dan 79-80.]

Para ulama ada yang menyusun kriteria terwujudnya ijma’, yaitu ijma’ tersebut diikuti oleh mereka yang memenuhi persyaratan berijtihad, kesepakatan itu muncul dari para mujtahid yang bersifat adil dan para mujtahid itu berusaha menghindarkan diri dari ucapan atau perbuatan bid’ah. Ada pula yang menambah syarat lain yaitu yang dimaksud dengan mujtahid adalah sahabat Nabi saja, ada lagi yang menganggap mujtahid yang dimaksud hanyalah keluarga Nabi saja; sementara itu ada yang berpendapat –seperti telah disinggung sebelumnya– mujtahid itu hanya ulama Madinah saja.

Ada pula yang berpendapat bahwa hukum yang disepakati itu tidak ada yang membantahnya sampai wafatnya seluruh mujtahid yang telah menyepakatinya serta tidak terdapat hukum ijma’ sebelumnya yang berkaitan dengan masalah yang sama. Ada pula yang berpendapat ijma’ yang terbaru bisa menghapus ijma’ yang lalu, dengan berbagai persyaratan yang ketat. Pendek kata, seru deh perdebatan para ulama.

Sekadar menyebut contoh yang kontroversial, kitab al-Mughni (2/243) dan Nail al-Awthar (3/223) menyebutkan telah terjadi ijma’ dalam hal fardhu ‘ain-nya sholat jum’at. Padahal Ibn Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid (1/126) menyebutkan itu hanya pendapat jumhur ulama; bukan ijma’. Kitab fiqh yang terakhir ini menyebutkan adanya sekelompok ulama yang berpendapat bahwa sholat jum’at itu fardhu kifayah; bahkan ada satu riwayat syadz dari Imam Malik mengatakan sholat jum’at itu sunnah.

Bukanlah menjadi tujuan tulisan ini membahas soal kewajiban sholat jum’at. Namun dari contoh soal sholat jum’at ini kita bisa menangkap adanya ketidaksepakatan dalam menentukan apakah satu masalah sudah di-ijma’-kan atau belum.

Dengan kita luaskan bacaan kita (tidak hanya merujuk pada satu atau dua kitab fiqh), boleh jadi masalah-masalah yang selama ini kita anggap merupakan ijma’ ternyata belum merupakan ijma’ atau sebuah kesepakatan yang mengikat.

Sejarah juga mencatat bahwa kegagalan mencapai kesepakatan tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk “kompromi”. Misalnya, andaikata semua ulama telah sepakat pada satu hal, maka ini dipandang cukup mewakili kesepakatan ummat Islam secara total. Hal ini kemudian bergeser lagi karena ternyata cukup sulit menyatukan pendapat para ulama itu. Kebenaran bukan lagi dilihat berdasarkan kesepakatan total ummat Islam atau kesepakatan ulama, melainkan suara mayoritas di antara para ulama.

Jikalau kitab-kitab fiqh sudah menyebut bahwa pendapat A dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama, jarang para santri atau ulama berani membantah atau, setidak-tidaknya, bersikap kritis. Mayoritas telah memegang otoritas kebenaran. Kebenaran bukan lagi ditentukan oleh kekuatan dalil dan logika, namun mengikuti jumlah pemegang pendapat tersebut.

Berbeda dengan istilah Ijma’, lahir istilah baru untuk menggambarkan pergeseran ini, yaitu ittifaq. Sehinga kalau ditemukan kalimat bahwa para ulama sudah ittifaq untuk berpendapat A, boleh jadi yang dimaksud sebenarnya adalah hanya kesepakatan para ulama dari mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), padahal jumlah mazhab dalam Islam konon pernah mencapai bilangan lima ratus.

Masalahnya ternyata tidak mudah menentukan apakah satu pendapat itu didukung oleh mayoritas atau minoritas. Boleh jadi pendapat A didukung oleh mayoritas pada suatu masa di suatu tempat tertentu. Namun di masa lain atau di tempat lain, boleh jadi yang mayoritas adalah B.

Problem kedua, Bagaimana cara menghitung “kursi” mayoritas tersebut? Karena belum pernah dihitung lewat pemilu, maka kitab-kitab fiqh diduga kuat hanya melakukan perhitungan secara umum saja. Boleh jadi, problem ini menimbulkan saling klaim di antara mereka.

Yang penting, sebagai santri dan pelajar, selain kita harus jujur untuk menampilkan pendapat yang berbeda, kita juga harus berlapang dada terhadap perbedaan pendapat. Keragaman itu indah. Jangan memaksa semua orang harus seragam pada masalah-masalah yang para ulama masih berbeda pandangan. Jangan mudah mengklaim terjadinya ijma’.

Umat Islam harus terus diajarkan bahwa perbedaan pendapat itu hal biasa. Gak usah marah-marah apalagi sampai hilang adab dengan mengeluarkan kata cacian. Hanya dengan cara seperti ini kita akan bertambah dewasa dan tidak gampang menyalahkan pihak lain, apalagi sampai mengintimidasi mereka yang berpegang pada pendapat yang berbeda.

Ingat yah: berbeda itu hal biasa saja. Gitu aja kok repot

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Ps.
Skrinsut dari kitab Ushul al-Fiqh al-Islamiy karya Syekh Wahbah az-Zuhaili pada pokok bahasan ini saya sertakan untuk mereka yang hendak menelaah lebih lanjut.

Posting Klaim Terjadinya Ijma’: Benarkah? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Klarifikasi soal postingan Riba

Banyak yang gagal paham dg postingan saya yg lalu soal Riba. Tuduhan dan caci-makinya sudah sampai taraf menggelikan dan keluar dari pokok bahasan. Tak ada ilmu, tak ada pula adab. Yang ada cuma caci-maki. Menggelikan sekaligus menyedihkan!

1. Saya dituduh menghalalkan riba. Artikel saya di kalimat pertama sudah jelas mengatakan semua ulama sepakat akan keharaman riba. Masih kurang tegaskah apa yg saya tulis di kalimat awal artikel tersebut. Mohon dibaca tanpa emosi. Nyantai aja kenapa sih

2. Saya dituduh artikel saya mengatakan bunga bank itu halal. Tidak! Yang saya tulis adalah adanya perbedaan pendapat ulama apakah bunga bank termasuk riba atau bukan. Pendapat yg mengharamkan saya cantumkan. Pendapat yg membolehkan juga saya cantumkan. Fair kan? Terus masalahnya apa? Perbedaan pendapat di kalangan ulama kan hal biasa? Kok anda jadi mencaci-maki saya hanya karena memaparkan adanya perbedaan pendapat. Saya sendiri tidak menyatakan pendapat saya apakah bunga bank itu halal atau haram. Sekali lagi saya hanya menyatakan ini masalah khilafiyah. Dan mau anda marah sambil meraung-raung di lantai sekalipun, faktanya para ulama berbeda pendapat dalam masalah bunga bank.

3. Kenapa sesuatu yg berbeda mau kita seragamkan? Kita saling toleran dan menghormati perbedaan pilihan mau ikut ulama yg mengharamkan atau membolehkan. Gak usah memaksa apalagi mengintimidasi agar semua orang mengikuti pendapat anda.

4. MUI mengharamkan bunga bank, kita hormati fatwa ini. Tetapi ulama lain seperti Sayyid Thanthawi dan Mufti Nasr Farid Wasil juga bukan ulama sembarangan. Mereka bukan JIL, Syi’ah dan segala macam tuduhan yg kalian sematkan kepada saya hanya karena mengutip pendapat mereka. Sekali lagi, perbedaan pendapat itu hal biasa. Belajarlah mengakui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama dan belajar berlapang dada terhadap pendapat ulama yang tidak kita setujui.

5. Di bawah ini saya kutipkan dari sebuah blog rangkuman nama-nama ulama besar kelas dunia yang membolehkan bunga bank. Semoga jadi jelas sekarang bahwa bukan saya yang membolehkan atau mengharamkan. Saya cuma mengutip pandangan ulama dengan fair.

Buat yang ingin mempelajari pandangan ulama yang membolehkan bunga bank monggo disimak rangkuman di bawah ini (maaf sengaja tdk saya terjemahkan. Masih asli saya kutip teks arabnya biar kalau ada yg mau maki-maki saya mohon mencacinya pakai bahasa Arab saja hahhaha).

Sekali lagi saya tidak memaksa anda utk mengikuti pendapat yg mana. Silakan gunakan kecerdasan dan kebijaksanaan anda untuk memilih pendapat ulama yg mana. Gak usah dipaksa-paksa untuk seragam. Berbeda pendapat itu indah!

Tabik,

Nadirsyah Hosen

أسماء العلماء الذين أجازوا فوائد البنوك

1- الشيخ علي جمعة
مفتي الديار المصرية و أستاذ أصول الفقه
أكد الشيخ علي جمعة مفتي الديار المصرية أنه يجوز اخذ الفائدة، فائدة الارباح، على الاموال المودعة لدى البنوك، لأن الواقع النقدي تغير، وغطاء العملات لم يصبح كالسابق بالذهب والفضة، وأنه مع فتوى مجمع البحوث الإسلامية بالأزهر، التي تجيز تحديد قيمة الأرباح مقدماً على الأموال المستثمرة في البنوك، مع تأكيده على أن هذه المسألة خلافية بين العلماء وليست نهائية‪.‬
ـ نعم لقد حسم مجمع البحوث الإسلامية بالأزهر الجدل حول هذه المسألة وأصدر فتوى تجيز تحديد قيمة الأرباح مقدماً على الأموال المستثمرة في البنوك، لأنه منذ عام 1973 حدث في اقتصاديات المصارف ما يسمى بتقويم العملة وتغيير قيمة الجنيه، فالمسألة البنكية قد تغيرت كثيرا بعد هذا التاريخ، فضلا عن تغير البيئات، ونظرا لحدوث هذه الظروف فإنني أرى أنه يجوز تحديد قيمة الأرباح أو ما يسمونه بلغة البنوك (فائدة) مقدماً على الأموال المستثمرة في البنوك، وعموماً فهذه مسألة خلافية بين العلماء‪.‬
‏‪http://www.aawsat.com/details.asp…

‫بتاريخ 14/12/2010‬

‫هل البنوك كلها إسلامية أو غير إسلامية في التعاملات، والفرق في المسمّيات فقط، مع العلم أنني مسافر، وأودع أموالي في بنك فيصل؛ فهل هناك مجرّد شك أم لا؟‬
‫البنوك هي مؤسسات للتمويل، ارتبطت ارتباطاً شديداً في عصرنا الحاضر بالنقود، ولذلك المادة التي تُدرَّس في كليات الاقتصاد أو كليات التجارة أو نحو ذلك، اسمها “البنوك والنقود” أو “النقود والبنوك”؛ لأن النقود التي تسري بين الناس بهذه الأوراق هي الوجه الآخر للبنوك، والبنوك هي الوجه الآخر للنقود، إذا أراد أحدهم أن يحرّم البنوك فليحرم النقود، يبقى النقود اللي بنتعامل بها دي حرام!! ولذلك لا بد عليه أن يفهم أن النقود والبنوك وجهان لعملة واحدة.‬
‫كان أساتذتنا الذين يُدرّسون لنا مادة “النقود والبنوك” يقولون: العنوان غلط، عنوان المادة “النقود والبنوك”، نقولهم طب العنوان الصح إيه ده من أوّلها كده؟!! يقولون العنوان الأدق “النقود هي البنوك”، وعلى ذلك فالبنوك هي النقود؛ ما قصة ذلك؟‬
‫قصة ذلك أن التعامل قديماً أيام ما حرّم الله سبحانه وتعالى -باتفاق المسلمين- الربا، إنما حرمه في الذهب والفضة، فلما نشأت هذه الأوراق تطوّرت بأن لها رصيدا، ثم لم يعد لها رصيد، ثم في سنة 71 قام نيكسون -رئيس أمريكا- بقطع العلاقة ما بين الدولار وبين الذهب؛ حتى يهرب من مديونية كبيرة في ذمة الولايات المتحدة لفرنسا، وفي إثر هذا التعويم -يُسمّونه تعويم الدولار- عوّمت كل الدول عملاتها، فلم تعد العملة الورقية لها أي علاقة مع الذهب أو الفضة، وكانت من أول من بادر بهذا التعويم الكويت ومصر وغيرهما من الدول، وكان آخر دولة فعلت هذا لبنان.‬
‫بعد ذلك أصبحت هذه النقود تَصدر من المطبعة، والمطبعة التي تتبع البنك المركزي هنا في شارع فيصل موجودة، بتطبع النقود، لما نشوف المائة جنيه بتكلّف الدولة 16 قرشا -تمن الورق وتمن الحبر وتمن الطباعة- إذن هناك فرق ما بين ما معي من قيمة 100 جنيه تشتري بها قميص، لكن الـ16 قرشا ما تعملش حاجة ما تشتريش ساندويتش طعمية، يبقى إذن هناك فارق كبير، هذا الفارق الكبير كيف يُقاد، نقوده إزاي في المجتمع؟‬
‫وهذا الفارق الكبير يجعل هناك ما يُسمّى بـ”التضخم”، عندما نحتاج إلى أموال من أجل تسيير الحياة نطبع، ولكن الطبع هذا لا يكون في مقابل إنتاج؛ فيحدث زيادة في الأسعار، فبدلاً من خراب البيوت هكذا، فلا بد من وجود البنك الذي يسحب هذه الأوراق من السوق في صورة مدخرات، ويدفعها مرة ثانية إلى السوق في صورة استثمارات، فيُدوّر كما معينا من معروض النقود (البنكنوت)، ولا يطبع فلا يحدث التضخم، إذن فالبنوك حلال، وكلها بتقوم بالتمويل، لكن يخطئ مَن يُسمّيها “قرض”، ففي قانون 2004 الضابط للجهاز المصرفي سمّاها “تمويل” ولم يُسمِّها “قرض”.‬
‫هل هو بالاسم؟ لا بحقيقة العملية، هذه ليست قروضاً، القرض في الإسلام لا بد أن يكون حسناً بغير زيادة ولا نقصان، لكن هذه فيها استثمار، البنوك لا تفتح من أجل أن تعطي قروضاً حسنة كجمعية خيرية، البنوك تفتح حتى يتم التوازن في طريقة تدوير البنكنوت.‬
‫ولذلك فالإجابة هي أن البنوك كلها؛ سواء كانت إسلامية أو كانت تقليدية، هي على موجب الشرع الشريف؛ حيث إن هذه الأوراق ليست محلاً للربا، وحيث إن عقود التمويل التي يحدثها البنك ليست قروضاً، والله تعالى أعلى وأعلم.‬

http://alimamalallama.com/faqs.php?id=119‬

2- الشيخ محمد عبده
‪ ولا يدخل فيه أيضا من يعطي آخر مالا يستغله ويجعل له من كسبه حظا معينا ; لأن مخالفة قواعد الفقهاء في جعل الحظ معينا – قل الربح أو كثر – لا يدخل ذلك في الربا الجلي المركب المخرب للبيوت ; لأن هذه المعاملة نافعة للعامل ولصاحب المال معا ، وذلك الربا ضار بواحد بلا ذنب غير الاضطرار ، ونافع لآخر بلا عمل سوى القسوة والطمع ، فلا يمكن أن يكون حكمهما في عدل الله واحدا ، بل لا يقول عادل ولا عاقل من البشر : إن النافع يقاس على الضار ويكون حكمهما واحدا .‬
تفسير المنار
http://quran.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…

3- الدكتور محمد سيد طنطاوي
أستاذ التفسير بجامعة الأزهر، وشيخ الأزهر الراحل
ولا مانع في الشرع من أن يقوم البنك المستثمر للمال بتحديد ربح معين مقدما في عقد المضاربة الذي يكون بينه وبين صاحب المال الذي يضعه في البنك بنية ويقصد الاستثمار.
وان البنك لم يحدد الربح مقدما إلا بعد دراسة مستفيضة ودقيقة لأحوال السوق العالمية وبتعليمات وتوجيهات من البنك المركزي الذي يعد بمنزلة الحكم بين البنوك والمتعاملين معها.
وتحديد الربح مقدما فيه منفعة لصاحب المال ولصاحب العمل لأنه يعرف حقه معرفة خالية من الجهالة ولصاحب العمل لأنه يحمله على أن يجد ويجتهد في عمله.
وأن هذا التحديد للربح مقدما لا يتعارض مع احتمال الخسارة من جانب المستثمر وهو البنك أو غيره لأنه من المعروف أن الأعمال التجارية المتنوعة إن خسر صاحبها في جانب ربح من جوانب أخرى.
وأشار إلى خراب الذمم مما يجعل صاحب المال تحت رحمة صاحب العمل المستثمر للمال وهو البنك أو وغيره والذي قد يكون غير أمين فيقول مثلا: ما ربحت شيئا وقد ربح الكثير مما يوقع في الظلم الذي نهت عنه الشريعة.
ولم يقل أحد من الأئمة أن تحديد الربح مقدما في عقود المضاربة يجعله معاملة ربوية يحرم فيها الربح الناشئ عن العمل في المال المستثمر.
‪”إننا لا نرى نصا شرعيا ولا قياساً نطمئن إليه يمنع من تحديد الربح مقدماً، ما دام هذا التحديد قد تم باختيار الطرفين ورضاهما المشروع، ومع هذا من أراد أن يتعامل مع البنوك التي تحدد الأرباح مقدماً فله ذلك، ولا حرج عليه شرعا، إذ المقياس في الحرمة والحل ليس التحديد أو عدم التحديد للربح، وإنما المقياس هو خلو المعاملات من الغش والخداع والربا والظلم والاستغلال وما يشبه ذلك من الرذائل التي حرمتها شريعة الإسلام”.‬

4- الدكتور أحمد الطيب، أستاذ ‪ ‬العقيدة والفلسفة و شيخ الأزهر الحالي

5- الدكتور محمد الراوي، أستاذ التفسير والحديث‪.‬

6- الدكتور عبدالرحمن العدوي أستاذ الفقه , عميد كلية أصول الدين سابقا
الدكتور عبد الرحمن العدوي أستاذ الشريعة الإسلامية بجامعة الأزهر عضو مجمع البحوث الإسلامية حيث يرى أن استثمار الأموال في البنوك التي تحدد الربح مقدما جائز.
وأضاف أن كثيرا من الناس تكون لديهم مدخرات لا يحتاجون إليها وليست لديهم الخبرة لاستثمار هذه المدخرات أو تمنعهم مكانتهم في المجتمع ووجاهتهم عند الناس أن يباشروا بأنفسهم عملا من أعمال التجارة أو الصناعة لاستثمار هذه الأموال فيه.
ويضيف د. العدوي لقد صار استثمار الأموال في البنوك من المصالح الضرورية فليس من الحكمة أو المعقول تعطيل هذه المصالح وتضييعها على أصحاب الأموال وعلى المجتمع وضرورة التنمية فيه وتشغيل أفراد مما يعود عليهم وعلى أسرهم بالنفع والخير وأشار إلى أنه بعد أن كثرت تساؤلات الناس عن حكم استثمار البنوك الإسلامية بالأزهر منذ أكثر من ثلاثة أعوام وبعد مناقشات الأعضاء ودراستهم قرر المجمع الموافقة على أن استثمار الأموال في البنوك التي تحدد الربح مقدما حلال شرعا ولا بأس به.

7- الشيخ عبد الوهاب خلاف أستاذ الشريعة
يقول الشيخ عبد الوهاب خلاف ما نصه ( إذا أعطى إنسان الف جنيه لتاجر او مقاول ليعمل بها في تجارته او أعماله على أن يتجر بها ويعمل فيها ويعطيه كل سنة خمسين جنيها أرى أن هذه مضاربة وشركة بين اثنين فأحدهما شريك بمال والآخر شريك بعمله او بعمله وماله والربح الذي يربحه التاجر او المقاول هو ربح المال والعمل معاً والخمسون جنيها التي يأخذها صاحب المال هي من ربح ماله وليس في أخذها ظلم للتاجر او المقاول بل هو مشاركة له في نماء ربحه بالمال والعمل معاً ، وكل ما يُعترض به على هذا أن المضاربة يُشترط لصحتها أن يكون الربح نسبياً لا قدراً معيناً وأرد هذا الإعتراض بوجوه‪ :‬
أولها / أن هذا الإشتراط لا دليل من القرآن والسنة عليه والمضاربات تكون حسب اتفاق الشركاء ونحن الآن في زمان ضعفت فيه ذمم الناس ولو لم يكن لرب المال نصيب معين من الربح لأكله شريكه‪ .‬
” لا ضرر ولا ضرار‪ “‬ وثانيها / أن الفقهاء نصوا على أن المضاربة إذا فسدت لفقد شرط من شروطها صار العامل بمنزلة أجير لرب العمل وصار ما يأخذه ــ أي العامل ــ من الربح بمنزلة أجرة فليكن هذا وسيان أن يكون مضاربة او يكون إجارة فهذا تعامل صحيح فيه نفع لرب المال الذي لا خبرة له على استثمار ماله بنفسه وفيه نفع للتاجر الماهر او المقاول الناجح على أن يكون له رأسمال يعمل به ويربح فهو تعامل نافع للجانبين وليس فيه ظلم لأحدهما ولا لأحد من الناس والله سبحانه لا يحرم على الناس ما فيه مصلحة لهم وليس فيه إضرار ولا ظلم لأي أحد وسد هذا الباب من التعاون فيه إضرار وقد قال ‪” ‬لا ضرر ولا ضرار‪ “.‬

8- الدكتور نصر فريد واصل – أستاذ الفقه المقارن – و مفتي الديار المصرية الأسبق
فإن دار الإفتاء المصرية مراعاة منها لتغير الظروف المالية والإقتصادية والتعاملات التجارية محليا ودولياً وللحاجة الشديدة الى التعامل مع المصارف أخذاً وعطاءً نرى أن الفوائد والأرباح المصرفية جائزة شرعاً ولاغبار عليها مادام القصد من التعامل مع المصرف هو الإستثمار والتجارة فيما أحله الله‪ …‬

9 – الشيخ محمود شلتوت رحمه الله (شيخ الأزهر)
رأيه في شأن أرباح صندوق التوفير . فقال في (كتابه الفتاوى) ص 323، مطبعة الأزهر: (والذي نراه تطبيقًا للأحكام الشرعية والقواعد الفقهية السليمة أن أرباح صندوق التوفير حلال، ولا حرمة فيها، وذلك لأن المال المودع لم يكن دينا لصاحبه على صندوق التوفير، ولم يقترضه صندوق البريد منه، وإنما تقدم به صاحبه إلى مصلحة البريد من تلقاء نفسه طائعًا مختارًا، ملتمسًا منها أن تقبله منه، وهو يعرف أن المصلحة تستغل الأموال المودعة لديها في معاملات تجارية، يندر فيها – إن لم يعدم – الكساد أو الخسران‪ ..).‬

10 – الشيخ يس سويلم – المالكي المذهب –
قال فضيلة الشيخ يس سويلم: لقد كونت رأيًا في الموضوع، ملتزمًا بخطة مجمع البحوث الإسلامية في البحث الفقهي وخلاصته‪:. ‬
أن المعاملة في شهادات الاستثمار معاملة حديثة لم تكن موجودة عند الفقهاء السابقين‪.‬
أن المعاملة في شهادات الاستثمار يقوم الأفراد فيها بدفع الأموال، وتقوم الدولة باستثمارها‪.‬
كل معاملة استثمارية هذا شأنها يطبق عليها الأصل التشريعي العام وهو: أن الأصل في المنافع الإباحة، وفي المضار التحريم‪.‬
وجه تطبيق الأصل التشريعي السابق على المعاملة في شهادات الاستثمار: أنها معاملة نافعة للأفراد الذين يدفعون الأموال، ونافعة للدولة أيضًا التي تقوم باستثمار هذه الأموال، وليس فيها ضرر أو استغلال من أحد الطرفين للآخر‪.‬
بناء على ذلك تكون المعاملة في شهادات الاستثمار بأنواعها الثلاثة مباحة شرعًا‪.‬

11- الشيخ عبد العظيم بركة – الحنبلي –
وقال فضيلة الشيخ عبد العظيم بركة: إن الشهادة ذات الجوائز(حرف ج) المال المدفوع فيها قرض، حيث انتقل المال المدفوع فيها إلى ملك البنك، وأنها جائزة شرعًا، بل مندوبة، وأن الجائزة لمن تخرج له القرعة يعتبر أخذها حلالاً، لأنها هبة من البنك أو الدولة، لصاحب رأس المال، وقبول الهبة مندوب، وردها مكروه‪.‬
وأما الشهادات (حرف أ، ب)فالتعامل فيها من باب المضاربة الصحيحة، لأن العائد في كل منهما مشترك بين صاحب المال والعامل، والتعامل في هذين النوعين حلال وجائز شرعًا، حيث إن المصالح فيه متحققة، والمفسدة متوهمة، والأحكام لا تبنى على الأوهام، وأن ما اشترطه الفقهاء لصحة المضاربة من أن يكون الجزء المخصص من الربح لكلا الطرفين مشاعًا كالنصف أو الثلث – مثلاً – كان من أجل ألا يحرم أحد الطرفين من الربح إذا تحدد الجزء الذي يأخذه أحدهما بخمسة أو عشرة – مثلاً – فقد لا يربح المال غيره فيحرم الطرف الآخر‪.‬
والأمر هنا يختلف عن ذلك، لأن هذه المشروعات، مبنية على قواعد اقتصادية مضمونة النتائج، وما يأخذه صاحب المال من الربح بنسبة معينة من رأس المال قدر ضئيل بالنسبة لمجموع الربح الذي تدره المشروعات التي استثمرت فيها هذه الأموال، فكلا الطرفين استفاد وانتفى الاستغلال والحرمان‪.‬

12 – الدكتور محمد سلام مدكور – الحنفي – أستاذ الشريعة الإسلامية بكلية الحقوق والشريعة بجامعتي القاهرة والكويت
وقال فضيلة الدكتور محمد سلام مدكور ما خلاصته : إن التعامل في شهادات الاستثمار بأنواعها الثلاثة، معاملة حديثة ولا تخضع لأي نوع من العقود المسماة، وهي معاملة نافعة للأفراد والمجتمعات، وليس فيها استغلال من أحد الطرفين للطرف الآخر، والأرباح التي يمنحها البنك ليست من قبيل الربا، لانتفاء جانب الاستغلال، وانتفاء احتمال الخسارة‪.‬

13- الشيخ عبد الله المشد
إنني أرى أن المعاملة في شهادات الاستثمار من باب المضاربة الشرعية، لأن صاحب المال يدفعه إلى إدارة البنك ويوكلها في التعامل على أن يكون له جزء من الربح، وللبنك جزء آخر، والمشروع مضمون الربح لأنه مبنيٌّ على أصول سليمة، وموازنة دقيقة معروفة لدى القائمين على الأعمال المصرفية وأن اشتراط الـ 4 0/0 لرب المال من الربح لا يضر بالمضاربة، لأنه من الربح وإنما نسب إلى رأس المال لمعرفة ما يخصه من الربح العام للأموال المستثمرة، ولدفع النـزاع بين رب المال والمضارب، ولا يوجد نص صريح يحرم هذا التعامل، وعلى هذا فلا مانع من شرعية هذا التعامل‪. ‬

14- الدكتور محمد الشحات الجندي – رئيس قسم الشريعة، ووكيل كلية الحقوق بجامعة طنطا – فقد كتب بحثاً مطولاً عن شهادات الاستثمار وقال في نهايته‪:‬

وتأسيساً على ذلك، فإننا نعتقد أن شهادات الاستثمار عقد جائز في الشرع، لعدم خروجه على القواعد المعروفة في المعاملات الشرعية، ففيه التراضي، والنفع للمتعاقدين، ولا يتضمن استغلالاً ولا غبناً، ولا أكلاً للمال بالباطل، وأنه يختلف عن الصور المعروفة للعقود الفقهية، والأولى اعتباره عقداً غير مسمى، اقتضته المعاملات الحديثة‪.‬

وبخصوص تحديد الربح مقدماً بنسبة معلومة من رأس المال 5 0/0 أو 10 0/0 فلا بأس لما يترتب عليه من المصلحة العامة وكفى بها مطلباً، وسداً لحاجة حيوية تحتاجها الأمة، وهي تنمية مواردها، وتوفير الكفاية لأفرادها، فإن الحاجة تبيح ما كانت حرمته وسيلة لغيره، وسداً لذريعة التورط في المحرم لذاته، فإن تلمس مصلحة الأمة غاية للتشريع الإسلامي، متى كانت هذه المصلحة متحققة لا موهومة، وهذا ما نرجحه في شهادات الاستثمار‪.‬

15- الدكتور إسماعيل الدفتار أستاذ الحديث بكلية أصول الدين جامعة الأزهر

‪ ويختلف معه الدكتور اسماعيل الدفتار أستاذ الحديث بكلية أصول الدين, فيقول: أن الذين يقترضون من البنوك بفائدة محددة لغير مشروع أو دراسة جدوى فإن مثل هذا القرض يعد من الربا ولا نستطيع القول بأنه حلال حتى لو كان صاحبه بحاجة إليه لشراء شقة أو شيء من هذا القبيل, مشددا على ان هذا النوع تتحقق فيه عناصر الربا حرمة الشرع المسمى (القرض أو القروض الفورية‬
http://www.albayan.ae/one-world/2000-03-30-1.1082636

بعد مناقشات مطولة ومثيرة حول قرض قدمه البنك الإسلامي للتنمية لمصر لتمويل مشروع تطوير المجرى الملاحي لنهر النيل وافق مجلس الشورى المصري على قبول القرض رافضاً اتهامات بعض الأعضاء بان البنك يتعامل بفوائد ربوية،
وحسم الدكتور اسماعيل الدفتار عضو المجلس وأحد اساتذة الشريعة في جامعة الأزهر الجدل الذي أثير حول طلب البنك فائدة سنوية ثابتة على القرض بنسبة 6 في المائة، وأكد ألا يتضمن سعر الفائدة فائدة مركبة اضافة إلى سلامة الاشتراطات التي تضمنها القرض وعدم تضمينها اية شبهات تخالف أحكام الشريعة، يوضح ان الفائدة لا تعدو ان تكون مصروفات ادارية واجبة السداد طوال فترة القرض فقط.
واشار الدفتار الى ضرورة الاكثار من التعامل مع البنك الإسلامي للتنمية وكافة البنوك التي تتبع تعاليم الإسلام باعتبارها عنوان التعاون بين الدول الإسلامية وهى الكفيلة بتوفير متطلبات التنمية دون ايةمشوهات ربوية تحول دون تطبيق الشريعة.

‏‪http://webcache.googleusercontent.com/search…

أما الدكتور اسماعيل الدفتاراستاذ علم الحديث بجامعة‪ ‬الازهر وخطيب مسجد عمرو بن العاص بالقاهرة فيقول في مقابلة مع موقع (محيط ) أن الودائع فى داخل البنوك والتى تثبت فيها أسعار الفائدة ليست من الربا المحرم وقال أن الأمام ابن تيميه حين تكلم عن الربا ذكر صورة الربا التى كانت فى الجاهلية ونزلت الآيات فى تحريمها وقال هذه هي الصورة التى اتفق العلماء أنها من الربا المحرم واختلفوا فيما عدا ذلك من الصور، ويضيف: لا أرى بأسا من التعامل مع البنوك بالودائع وأخذ هذه الفائدة وبالتالي فهى إن شاء الله من المال الحلال، أما عمليات الإقراض بفائدة التي يقوم بها البنك لعملائه فهي من الربا المحرم إذا لم يكن لمشروع متفق عليه
‏‪http://helmialasmar.maktoobblog.com/…/%D9%81%D9%88%D8%A7%…/‬

Mengenai Hadits “dosa riba lebih besar dari dosa perbuatan zina” yg saya kritisi dalam postingan sebelumnya, biar jelas ini saya kutip dari hasil kajian Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadis di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia, yang berjudul: أحَاديثُ تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا دِرَاسةٌ نَقْديةٌ

‎أنّ ضعف أحَاديث تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا ناشيء من جهتين:
‎1- من جهة الإسناد فجميع الطرق تدور على المتروكين، والوضّاعين، ومن ضعفه شديد، وفيها طرق معلولة وغرائب تستنكر، وجميعها لا تصلح للشواهد والمتابعات.
‎وممن ضعف الحديث بجميع طرقه المعلمي اليماني، فَقَالَ بعد نقده بعض طرق الحديثِ:((والذي يظهر لي أنّ الخبر لا يصح عن النبيّ صلى الله عليه وسلم ألبته)).

‎2- من جهة المتن وقد قرره ابنُ الجوزي رحمه الله وقد أطال النّفس في بيان طرق الحديث ونقدها في كتاب “الموضوعات من الأحاديث المرفوعات” وهو أوسعُ من تكلم على الحديثِ وطرقه مجتمعةً -حَسَب علمي-، وضَعَّفه سنداً ثم قال مبيناً ضعفه مِنْ جهةِ المتن :((واعلم أنّ مما يردّ صحة هذه الأحاديث، أنّ المعاصي إنما تُعلم مقاديرها بتأثيراتها، والزنى يُفسد الأنساب، ويصرف الميراث إلى غير مستحقه، ويؤثّر في القبائح ما لا يؤثره أكل لُقمة لا يتعدّى ارتكاب نهي، فلا وجه لصحة هذا)).

‎وما قاله ابن الجوزي ظاهر ففي الزنا من فساد الدين والدنيا ما لا يعلمه إلاّ الله؛ وقد سماه الله – تعالى – فاحشة وساء سبيلا، ونهى عن الاقتراب منه كما قال – تعالى -: وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً (الإسراء: 32)، وحرمت الشريعة الطرق المفضية إليه، وسدت الذرائع الموصلة له، وفيه خيانة كبرى لزوج المزني بها ووالديها وأسرتها، ويؤدي إلى فساد الأخلاق وارتفاع الحياء، واختلاط الأنساب، وفشو الأمراض، وحصول الشكوك، وتبرؤ الزوج من نسبة ابن زوجته الزانية وملاعنتها على ذلك، وربما حصل عنده شك في أولاده من زوجته قبل زناها إلى غير ذلك من المفاسد العظيمة التي استوجبت أن يكون حد الزناة المحصنين الرجم بالحجارة حتى الموت، وحد غير المحصنين الجلد والتغريب، ورد شهادتهم ووصفهم بالفسق إلا أن يتوبوا، ومصيرهم في البرزخ إلى تنور مسجور تشوي فيه أجسادهم. فهل يعقل بعد ذلك أن يكون درهم واحد أعظم من ست وثلاثين زنية!، وأشدّ من ذلك نكارةً تعظيم الربا على الزنا بالأم.

‎وعلى ما تقدم – من ضعف جميع الأحاديث الواردة في هذا الباب – أرى أنه لا ينبغي أبداً التكلف بتقرير تَعْظيمِ الرّبا على الزنا، فالآيات الكريمة، والسنة الصحيحة موضحةٌ أنّ الزنا أشدّ خطراً وأعظم مفسدة من الربا.

‎والله أعلم, وصلى الله وسلم على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Posting Klarifikasi soal postingan Riba ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Dalam diriku ada Diri-Mu

Saat aku melepas anak-anak ku kembali ke rumah masing-masing dan mencari dirinya sendiri, aku merasa kehilangan. Lalu aku menyenandungkan puisi al Hallaj, sufi martir ini:

و الله ما طلعت شمس و لا غربت
إلا وحبك مقرون بأنفاسي

Sungguh
Pada setiap matahari terbit dan tenggelam
Cintaku kepada-Mu menyertai tiap embusan nafasku

ولا جلست إلى قوم أحدثهم
إلا وأنت حديثي بين جلاسي

Pada setiap saat aku berbicara dengan orang lain
Sesungguhnya Engkaulah teman bicaraku

ولا ذكرتك محزونا ولا فرحا
إلا وأنت بقلبي بين وسواسي

Saat aku menyebut-Mu dalam suka dan dalam duka
Tak ada dalam relung hatiku kecuali Engkau.

ولا هممت بشرب الماء من عطش
إلا رأيت خيالا منك في الكاسِ

Saat aku haus
Tak ada yang aku lihat air dalam gelas itu
Kecuali bayangan Diri-Mu

26.06.18
HM

The post Dalam diriku ada Diri-Mu appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Frustasi?

Pertanyaan yang masih terus mengganggu pikiran masyarakat adalah mengapa ada orang-orang beragama yang melakukan penghinaan, kekejaman dan teror terhadap orang lain seagama, bahkan dengan mendasarkan diri pada teks-teks agama?

Agama manakah yang melegalkan dan menyuruh menyakiti orang yang tak berdosa, termasuk Character Assassination? Tuhan manakah yang menyakiti dan bertindak kejam terhadap ciptaan-Nya sendiri? Akal sehat manakah yang membenarkan aksi-aksi perendahan martabat manusia, ciptaan Tuhan tersebut? Begitu pertanyaan-pertanyaan mereka.

Beragam jawaban atas hal ini. Ada orang yang berpendapat bahwa hal itu terjadi karena pemahaman agama mereka yang dangkal, tekstual, ultra konservatif, tidak utuh dalam memahami teks-teks agama.

Ada yang bilang: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan logika bahkan anti logika. Padahal logika (akal) adalah khas manusia. Hanya karena makhluk Tuhan berpikir maka ia manusia.

“Pengetahuan mereka sangat terbatas. Mereka “jahil murakkab”, kebodohan yang berlapis. Bodoh atas orang lain, bodoh atas dirinya sendiri dan bodoh bahwa dirinya tak paham”, jawab yang lain.

Ada pula yang menjawab: mereka terindoktrinasi oleh ideologi keagamaan radikal. Otak mereka telah dicuci lalu dimasukan ke dalamnya ideologi radikal, sebuah ideologi yang ingin. Menghancurkan tatanan sosial yang sedang berjalan, sampai ke akar-akarnya, lalu menggantinya dengan ideologi yang mereka anggap paling benar.

“Pikiran mereka dikuasai oleh hasrat-hasrat diri untuk berkuasa, kesombongan dan keangkuhan. Untuk tujuan ini mereka menghalalkan segala cara. Ini jawaban yang lain.

Sambil mengapresiasi kemungkinan-kemungkinan di atas aku ingin menambahkan dengan pertama-tama mengatakan begini:

“Mereka yang merasa diri hebat tetapi teralienasi, termarjinalisasi dari panggung sejarah dan tersubordinasi oleh sistem kekuasaan publik, akan selalu berada dalam situasi gelisah, stress dan depresi. Situasi kejiwaan ini pada gilirannya bisa melahirkan frustasi dan putus harapan”.

Nah, boleh jadi aksi-aksi kekerasan verbal dan fisik, praktik-praktik dehumanisasi, aksi-aksi teror dan bom bunuh diri adalah puncak dari situasi kejiwaan tersebut. Ia merupakan ledakan dari magma panas yang terpendam lama di dalam relung-relung jiwa dan pikiran mereka. Mereka terperangkap dalam jaring jemaring kekecewaan berat menyaksikan dan menghadapi perubahan dunia yang tak bisa dihentikan dan ketertinggalan yang amat jauh dan semakin jauh. Mereka frustasi.

Sebagian mereka sangat tak senang atas perubahan dunia itu. Sebab perubahan itu meniscayakan inovasi dan kreativitas. Dalam pandangan mereka inovasi dan kreativitas adalah “Bid’ah” yang nyata. Dan setiap Bid’ah itu, menurut mereka adalah “Dholal”, kesesatan, dan ini jelas menjerumuskan manusia ke jurang neraka.

Dalam keadaan dunia seperti ini mereka tak memiliki kemampuan dan kapasitas intelektual untuk mengalahkannya dengan dialog dan beradu argumentasi secara sehat, sebuah mekanisme yang menjadi cara bangsa-bangsa beradab.
Pikiran mereka sangat terbatas.

Akhirnya aku ingin selalu menyampaikan :

“Agama selalu hadir untuk menciptakan perdamaian, keadilan, keselamatan dan kasih sayang untuk seluruh umat manusia dan alam semesta”.

24.06.18
HM

The post Frustasi? appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico