Dialog Sokratik

Usai Refleksi 30.12.17 aku ditanya seseorang: apakah dialog konstruktif itu?. Ia rupanya tertarik dengan pernyataan ku: “yang harus dikembangkan adalah dialog konstruktif”.

Aku menjawab singkat: “Dialog Sokratik”. Sebuah pertukaran pengetahuan dengan iktikad baik dan tanpa kedengkian guna mencari titik temu atau saling memahami. Atau sepakat untuk tidak sepakat.

Lalu dia bertanya lagi: Mungkinkah? Dan mungkinkah tanpa resiko seperti socrates? Aku menjawab: kemungkinan itu selalu ada, meskipun sangat kecil. Kecenderungan hari ini banyak orang lebih suka dialog yang agresif dan sofistik (safsatah). Tetapi dunia sepakat bahwa dialog adalah kata kunci untuk membuka jalan damai. Wallahu A’lam.

Lembang, 02.01.18

The post Dialog Sokratik appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Refleksi 2017

Dalam acara Refleksi Akhir Tahun Keberagaman dan Toleransi di Wilayah Cirebon yang diselenggarakan oleh Fahmina-Institute, 30.12.17 di hotel Bentani, Cirebon, aku mengatakan; “tahun 2017 masih menjadi tahun Politisasi agama dan Defisit etika Demokrasi. Agama dijadikan alat permainan untuk merebut kekuasaan untuk penguasaan segala. Kohesi sosial mengalami keretakan. Gerakan radikalisme yang bekerja keras untuk menggantikan sistem sosial dan pemerintahan demokrasi mengalami peningkatan dan merasuk ke dalam segala ruang publik dan privat. Kebebasan telah melampaui batas etikanya.

Para pembicara pemantik lalu sepakat mengatakan bahwa kelompok radikal di Indonesia sesungguhnya adalah kecil saja. Jumlah mereka kurang dari 10 % dari seluruh populasi masyarakat muslim Indonesia. Tetapi diakui gerakan mereka masif, militan dan progresif.

Survei Wahid Foundation bersama Lingkar Survei Indonesia pada 2016 mengungkapkan 11 juta dari 150 juta penduduk muslim Indonesia siap melakukan tindakan radikal. Jumlah tersebut mencapai 7,7 persen dari total penduduk muslim Indonesia. Ini berarti mayoritas muslim Indonesia menolak radikalisme. Tetapi jumlah pengikut Radikalisme itu terus meningkat dari tahun ke tahun.

Mayoritas Diam

Muhammad Nuruzzam, dari GP Ansor, merespon temuan ini, seraya mengatakan : “Tetapi karena mayoritas masyarakat tidak peduli dan mengambil sikap diam, maka mereka makin leluasa untuk berkembang pesat untuk memasuki segala ruang dan komunitas, termasuk pejabat publik. Jadi, sekali lagi, merebak, berkembang, meningkat dan merajalelanya gerakan mereka adalah karena silent Majority. Diamnya kelompok mayoritas.

Aku segera juga merespon pandangan itu sambil mengutip pernyataan seorang tokoh legendaris, pemimpin gerakan anti diskriminasi :

المصبية ليست في ظلم الأشرار بل في صمت الأخيار.

Musibah bukan (semata) karena kezaliman orang-orang yang buruk, tetapi karena diamnya orang-orang baik.

Tragedy is not the oppression of the wicked but in the silence of the good guys.

Pertanyaan kita adalah apa yang harus dilakukan oleh mayoritas?.
Apakah akan melakukan perlawanan terhadap mereka dengan cara yang sama?.

Lalu aku menyampaikan pandangan Karen Armstrong yang sangat menarik :

“Sejarah menunjukkan bahwa menyerang setiap gerakan fundamentalis (Radikal), baik secara militer, politik maupun melalui media, adalah kontraproduktif, karena serangan itu hanya akan meyakinkan pengikutnya bahwa musuh mereka benar-benar bertekad untuk menghancurkan mereka”.

“Tak ada gunanya menanggapi ketidakadilan dengan kebencian dan dendam. Karena cara ini hanya akan menginspirasi antagonisme lebih lanjut dan memperburuk keadaan”.

Akhirnya aku mengatakan :

“Tidak ada gunanya penyebaran pikiran secara Indoktrinasi dan pemaksaan dilawan dengan indoktrinasi serupa. Ini metode pembodohan rakyat yang tidak boleh berkembang. Yang harus dikembangkan adalah dialog konstruktif. Sebuah dialog intelektual yang sehat. Ini jalan yang disarankan oleh al-Qur’an dan Nabi Muhammad. (Q.s. an-Nahl, 125).

Hal yang paling penting dari semua itu adalah mengembangkan “Nalar Moderat” (al-‘Aql al-Wasathi).

Crb. 01.01.18
HM

The post Refleksi 2017 appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Jahiliyah

Tak dinyana, kemarin, 05.11.17, dalam perjalanan menuju kantor Fahmina institute, seorang mahasiswa yang mengantarkan aku bertanya tentang arti “Jahiliyah”. Dia mendengar kata itu sesudah menonton via YouTube, diucapkan seorang penceramah di depan publik dengan suaranya yang menggelegar, berapi-api dan sangat emosional. “Kita wajib meninggalkan sistem kehidupan zaman Jahiliyah sekarang ini, yang menyengsarakan kita semua. Kita harus menegakkan hukum Allah”.

Aku mencoba menyampaikan pendapat mengenai kata ini.

Zaman Jahiliyah bukan hanya bermakna zaman menyebarnya kebodohan dalam arti tidak bisa membaca, menulis atau berpikir atau berkebudayaan. Sejarah peradaban pra Islam kaya akan karya-karya kebudayaan yang luar biasa. Ada banyak artefak kebudayaan manusia sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw. Seperti yang ada di Mesir, Siria, Mesopotamia (Irak), Turki Bizantium, Yaman dan sebagainya. Meskipun benar juga bahwa pada zaman itu banyak orang yang tidak bisa membaca dan menulis.

Banyak penafsir yang memaknai kata ini sebagai zaman dimana mayoritas masyarakat menganut keyakinan yang salah. Menuhankan batu, berhala dan lain-lain.

Tetapi terma Jahiliyah bisa dan ini mungkin lebih relevan, dipahami sebagai hilangnya kesadaran diri terhadap hak-hak kemanusiaan orang yang lain. Banyak manusia saat itu yang melakukan penindasan terhadap orang-orang yang lemah. Mereka tidak sadar bahwa setiap orang memiliki hak hidup, hak untuk dihargai, hak untuk mengekspresikan pikirannya, hak untuk memeroleh rasa aman, damai, dan diperlakukan secara adil dan hak-hak kemanusiaan yang lain.

Karen Armstrong mengurai kata itu dengan tafsirnya yang menarik. Katanya : “Jahiliyah” sering dipahami sebagai periode pra Islam di Arabia. Ia dipersepsi sebagai zaman kebodohan, sebagaimana asal makna kata itu. Tetapi meskipun akar JHL memiliki konotasi kebodohan, arti utamanya adalah “sifat lekas marah”, mengagumi diri sendiri dan fanatisme yang tinggi (terhadap kelompoknya), keangkuhan, ekstrim, dan di atas semua itu, kecenderungan kronis kepada kekerasan dan pembalasan dendam”.

Muhammad Abduh, reformis abad 20 menyampaikan pandangan yang serupa. “Aku katakan bahwa “Al-Jahalah”, atau “Al-Juhhal”, adalah

اهل الخشونة والغطرسة

“mereka yang berhati kasar dan sangat arogan”.

Menurut Abduh: “Inilah penyakit paling berbahaya yang merasuk ke dalam jiwa dan pikiran sebagian kaum muslimin dewasa ini”. (Ibn Rusyd wa Filsafatuhu, Dar al-Farabi, Beirut, cet. I, 1988, h. 217-218).

“Lalu siapakah orang-orang Jahiliyah pada zaman ini?. Siapakah mereka itu?”, kata mahasiswa tadi. Aku hanya menjawab singkat: “semua orang juga tahu”. Dan dia tertawa: ha ha ha.

Crb. 06.11.17

The post Jahiliyah appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Laki-laki Juga Memprovokasi (Menggoda)

Ada lagi kisah tentang ketergila-gilaan perempuan kepada laki-laki. Sebuah kisah klasik bernuansa Arabia memperlihatkan kepada kita bagaimana perempuan-perempuan rindu dan “kesengsem” berat kepada seorang laki-laki. Ini terjadi pada zaman Umar bin Khattab, khalifah kedua yang terkenal adil itu. Suatu hari dia berjalan-jalan dalam rangka “incognito” ke desa-desa untuk mengetahui sendiri nasib rakyatnya. Dari sebuah gubug sederhana di sebuah desa dia mendengar nyanyian seorang perempuan dengan suaranya yang menyayat-nyayat hati. Ia sedang tergila-gila kepada seorang laki-laki tampan, cerdas dan simpatik. Namanya Nasr bin Hajjaj.

تَطَا وَلَ هذَا اللَّيْلُ وَاسْوَدَّ جَانِبُه
وَطَالَ عَلَيَّ أَنْ لَا خَلِيْلَ أُلَاعِبُه
فَوَاللهِ لَوْلَا خَشْيَة اللهِ وَالحْيَا
لَحَرَكَ مِنْ هَذاالسَّرِيْرِ جَوَانِبُه

Oh, mengapa malam ini begitu panjang
dan dikepung nuansa hitam kelam
Oh, betapa panjang sepiku
tanpa candaria bersama kekasih
Demi Tuhan, andai saja aku tak takut kepada-Nya
Dan tak punya rasa malu
Ranjang ini pasti akan bergerak-gerak

Lalu dia melanjutkan dengan menyenandungkan puisinya yang begitu manis :

هَلْ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَى الْخَمْـرِ فَأَشْرَبُهَـا؟
أَوْ هَلْ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَى نَصْرِ بْنِ الْحَجَّاجِ

Adakah jalan menuju kedai minuman anggur
Agar aku bisa meminumnya
Atau adakah jalan menuju Nashr bin Hajjaj
Agar aku bisa menatap wajahnya lama-lama?

Setelah mendengar itu esok harinya Umar segera memanggil Nashr bin Hajjaj. Begitu dia tiba di hadapannya, Umar melihat seorang laki-laki tampan dan bersih dengan rambut hitam ikal yang memikat. Sorot matanya begitu tajam. Umar segera memintanya memangkas semua rambut di kepalanya. Begitu kepalanya tak lagi menyisakan rambut (gundul), Umar melihat sisa ketampanannya yang masih tampak saja dan masih membuat kaum perempuan tergila-gila dan ingin mimpi berhari-hari bersamanya. Umar resah karena Hajjaj telah bikin heboh, bikin keresahan sosial. Ia kemudian mengisolasi Hajjaj ke Basrah, Irak, dan membiarkan wajahnya berangsur-angsur menjadi keriput di telan zaman dan tak lagi mampu menggoda perempuan.

Tetapi di negeri ini ternyata banyak perempuan yang juga tergila-gila padanya dan bikin heboh para perempuan. Abu Musa al Asyari, sang gubernur Basrah, kemudian mengusirnya ke Persia. Dan di negeri itu, dia masih juga digandrungi banyak perempuan. Utsman bin Abi al-Ash al-Tsaqafi, gubernur Persia itu, kemudian mengirim surat kepada Umar bin Khattab di Madinah, menceritakan si tampan yang membuat perempuan-perempuan resah dan tak bisa makan-minum-tidur itu. Dalam balasannya, Umar menyuruh sang gubernur membuat SK tentang larangan bagi Nashr bin Hajjaj keluar dari masjid. “Biarkan dia di masjid sampai meninggal”. Ketika pada akhirnya Umar wafat lebih dahulu, karena dibunuh Abu Lulu, Nashr masih segar-bugar-tampan dan kembali lagi ke Madinah.

Nah, lihatlah. Ternyata laki-laki juga menjadi makhluk penggoda yang bisa memprovokasi dan menimbulkan kekacauan masyarakat. Kehadiran Nashr bin al Hajjaj di tengah-tengah masyarakatnya ternyata mengganggu keamanan negara. Laki-laki itu menjadi sumber “fitnah kaum perempuan”.

Nah jika begitu, bagaimana jika laki-laki juga memakai “Niqab”, atau cadar agar tidak menciptakan “fitnah” kaum perempuan?.

Cirebon, 21 April 2011

The post Laki-laki Juga Memprovokasi (Menggoda) appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Urip Mung Mampir Ngombe

Saban hari kita menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong ramai maupun sepi. Tiap hari kita pulang pergi dari rumah ke pasar, sekolah, kantor atau tempat kerja. Siklus hidup kita paling tidak adalah bangun tidur, sarapan, kerja, makan siang, minum, bercakap-cakap, jalan-jalan, pulang, makan malam dan tidur. Entah sampai kapan rutinitas ini akan berakhir. Kita tak tahu. Kita juga tidak tahu apakah hari-hari kita ke depan masih akan panjang atau pendek. Berapa lama lagi kita akan berada di sini. Ya di dunia ini, di atas bumi ini. Semuanya tanpa kepastian. Ini adalah misteri Tuhan. Ia ada di Tangan Tuhan.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,…”. (Q.S. al-An’am, 59).

Lalu apakah hidup itu?

Menurut Nabi Muhammad Saw, hidup adalah sebuah perjalanan atau pengembaraan. Manusia digambarkan bagai pengembara, pelancong atau pengelana atau musafir.

فعن عبد الله بن مسعود – رضي الله تعالى عنه – قال: نام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على حصير، فقام وقد أثَّر في جَنْبه، فقلنا: يا رسول الله! لو اتخذنا لك وِطاء، فقال: “ما لي وللدنيا؟ ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها”، رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما، وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح.

Ibnu Mas’ud mengatakan : “Nabi tidur di atas tikar. Lalu bangun. Tampak di punggungnya bekas tikar itu. Aku menawarkan : “bolehkah aku ambilkan kasur, wahai Nabi?”. Beliau menjawab : “Apalah aku ini. Aku dalam kehidupan di dunia ini bagaikan seorang penunggang kendaraan yang berhenti sejenak untuk istirahat, bernaung di bawah pohon. Sesudah itu berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu”.

Imam al-Ghazali menggambarkan secara lebih detail dan runtut tentang tahapan-tahapan perjalanan hidup manusia. Katanya:

“Dunia ini adalah persinggahan atau (tempat transit), bukan tempat menetap. Manusia adalah pengelana/pengembara. Persinggahan pertamanya adalah di dalam liang lahat (kuburan). Tanah air manusia dan tempat menetapnya adalah ruang dan waktu sesudah itu. Setiap tahun yang dilewatinya bagaikan satu tahapan perjalanan. Setiap bulan yang telah dilewatinya bagaikan istirahat sang musafir di perjalanan. Setiap pekan bagaikan bertemu sebuah desa. Setiap nafas yang berhembus bagaikan langkah-langkah kaki yang terus bergerak mendekati persinggahan terakhir”. (Al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk).

Begitulah. Sesudah itu manusia akan pulang dan kembali ke Asal Yang Menciptakan kehidupan yang tanpa batas.

Seluruh proses hidup itu ditempuh dalam waktu yang begitu pendek, singkat atau amat sangat sebentar saja. Dewasa ini usia rata-rata hidup manusia, sekitar 70 tahun. Sementara perjalanan hidup sesudah itu tak terbatas oleh waktu : “Abadan Abadan”.

Orang Jawa mengumpamakan hidup bagai “mung mampir ngombe”. Mereka mengatakan : “Wong urip iku mung mampir ngombe” . Artinya orang hidup itu hanyalah istirahat sejenak untuk minum.

Dr. Soedjatmoko, Intelektual par excellence, mengungkapkan pandangan hidup ini dalam puisinya yang indah :

Mampir Minum

Hidup hanyalah mampir untuk minum
Dalam sebuah perjalanan spiritual yang lebih panjang.

Dalam pandangan ini,
Semua pengalaman kita,
Cara kita menempuh perjalanan hidup,
Dari kelahiran sampai dewasa, semua komitmen kita,
semua kasih kita,
dan cara kita belajar menghadapi kekeliruan kita,
kekecewaan kita,
Turut berperan dalam pertumbuhan umat manusia
Dalam perjalanan spiritual yang lebih panjang.

Sesudah itu, pertanyaan filosofis dan fundamental kita adalah : Bagaimana seharusnya kita mengisi hari-hari dalam perjalanan hidup kita yang teramat singkat itu?.

Tuhan mengingatkan manusia :

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan berjaga-jagalah (bersiap-siaplah) kalian akan datangnya suatu hari yang pada saat itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.

Crb. 29.19.17

The post Urip Mung Mampir Ngombe appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Dabusi dan Sarakhsi

Ada dua pendekatan dalam merumuskan metode istinbath hukum. Pertama, Imam Abu Hanifah tidak menulis kitab ushul al-fiqh. Beliau berfatwa dulu dengan argumentasi yang sangat detil. Baru belakangan metode beliau berijtihad dituliskan oleh para murid dan pengikutnya. Kasus dulu, baru kemudian prinsip hukum dirumuskan secara induktif.

Corak kedua adalah yang dilakukan oleh Imam Syafi’i. Beliau menulis al-Risalah yang menguraikan prinsip-prinsip hukum dalam berijtihad. Kemudian fatwa yang beliau keluarkan ditulis dalam kitab al-Um. Inilah pendekatan deduktif, yang juga dikenal dengan corak Mutakallimun, Prinsip hukum terlebih dulu yang ditetapkan, baru kemudian diaplikasikan di dalam kasus.

Dalam dunia perbandingan hukum, pendekatan pertama lebih cocok dengan sistem hukum common law yang bertumpu pada case law. Sedangkan pendekatan kedua lebih mirip dengan sisten hukum Eropa kontinental atau civil law.

Rumee Ahmed dalam bukunya Narratives of Islamic Legal Theory (Oxford, 2012) membuktikan bahwa pendekatan pertama ala mazhab Hanafi itu tidak sekedar menjustifikasi fatwa-fatwa Imam Abu Hanifah –seperti kritikan sebagian pihak, tetapi juga membuka ruang terobosan baru dalam membuat prinsip-prinsip hukum untuk lahirnya ijtihad baru.

Rumee Ahmed membandingkan dua kitab Ushul al-Fiqh yang menjadi rujukan utama mazhab Hanafi. Kitab pertama, Taqwim al-Adillah fi Ushul al-Fiqh ditulis oleh Abu Zayd al-Dabusi (wafat tahun 1039). Kitab kedua berjudul Ushul al-Sarakhsi, yang ditulis oleh seorang ulama besar dalam mazhab Hanafi yang digelari Syamsul A’immah, yaitu Abu Sahl al-Sarakhsi (wafat tahun 1090)

Al-Dabusi bukan saja dianggap peletak dasar dari ʿilm al-khilāf, cikal bakal ilmu fiqh perbandingan (fiqh muqarin), tapi juga seorang ulama yang sangat progresif. Ibn Khaldun mengemukakan kekagumannya akan al-Dabusi yang mengembangkan lebih jauh teori qiyas dalam mazhab Hanafi. Imam al-Ghazali dalam al-Mustasfa juga memuji gaya penulisan al-Dabusi.

Rumee Ahmed bercerita bagaimana para gurunya di India terkejut saat mengupas kitab Taqwim al-Adillah karya al-Dabusi. Hari pertama, gurunya protes bahwa jangan-jangan kitab ini bukan ditulis al-Dabusi yang ulama hebat itu. Hari kedua, gurunya protes bahwa pandangan al-Dabusi banyak berbeda dari mazhab Hanafi yang dia kenal. Hari ketiga, gurunya tidak tahan lagi dan mengatakan jangan membaca kitab ini, karena isinya sudah menyimpang dari Islam.

Begitulah ustaz jaman now, banyak yang terkaget-kaget ketika membaca pemikiran klasik para ulama yang luar biasa progresifnya bahkan untuk ukuran jaman sekarang, padahal ulama klasik semisal Ibn Khaldun dan al-Ghazali memuji karya al-Dabusi. Al-Dabusi juga menulis kitab al-Amad al-Aqsa yang bercorak sufi. Dia ahli ushul al-fiqh dan tasawuf sekaligus –spesies yang langka saat ini.

Adapun Sarakhsi dikenal sebagai pemuka mazhab Hanafi yang bukan saja alim dalam bidang metodologi tapi juga menulis 30 jilid kitab fiqh yang berjudul al-Mabsut. Abah saya dulu berpesan, “mereka yang belum membaca kitab al-Mabsut maka pandangannya dalam fiqh belum luas”. Dia dipenjara 15 tahun karena mengkritik Khalifah dan dengan memorinya yang luar biasa mendiktekan isi kitab al-Mabsut selama dalam penjara itu.

Upaya Rumee Ahmed, saat ini Professor di University British Columbia, Canada, dalam membandingkan dan mendiskusikan isi kedua kitab di atas sangatlah menarik. Perdebatan Ushul al-Fiqh (metodologi hukum islam) sangatlah kompleks dan dinamis. Masing-masing mazhab memiliki metodologi yang berbeda yang akhirnya berujung pada perbedaan hasil ijtihad mereka.

Belakangan ini banyak orang yang seenaknya mengeluarkan fatwa. Parahnya lagi fatwa itu mereka keluarkan hanya untuk menyerang pihak lain. Mereka yang berani berfatwa tanpa menguasai ilmu Ushul al-Fiqh ada baiknya merenung apa sudah siap terkena ancaman Rasulullah SAW: “Orang yang paling berani di antara kalian dalam berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka” (HR. Ad-Darimi).

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Penulis buku Tafsir al-Quran di Medsos

Posting Dabusi dan Sarakhsi ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Adakah Bidadara di Surga untuk Perempuan?

Begitu pertanyaan sejumlah ibu-ibu kepada saya dalam berbagai kesempatan. “Rasanya tidak adil, kalau para lelaki dijanjikan mendapat bidadari di surga, sementara al-Qur’an diam saja soal bidadara untuk kami, kalangan perempuan,” gugat mereka.

Begini penjelasan saya:

Lelaki di masa Arab jahiliyah itu punya istri banyak – tak terbilang jumlahnya. Islam datang dan mengatur maksimal empat dalam satu waktu. “Rasanya jadi rugi dong kalau memeluk Islam?” Begitu tanya para pria.

Maka sebagai iming-iming diceritakanlah dalam al-Qur’an: kalau kalian patuh pada aturan Islam di dunia, kalian akan mendapatkan apa yang kalian sukses menahan diri di dunia. Di surga kelak kalian akan dapat puluhan bidadari cantik (lengkap dengan penggambaran kemolekan dan kesucian mereka).

Jadi, dengan kata lain, lelaki itu makhluk “rendahan” yang takluk dengan syahwat dan karenanya perlu dimingi-imingi kenikmatan bidadari di surga kelak.

Bagaimana dengan perempuan?

Para perempuan mahkluk terhormat. Kualitas keimanan mereka tidak berdasarkan iming-iming syahwat. Tanpa ada bidadara pun perempuan rela memeluk Islam dan mematuhi ajaranNya.

Wahai para perempuan, tidakkah anda merasa Allah sedang memperlakukan anda dengan terhormat? Tentu aneh kalau anda merasa Allah tidak adil dan karenanya anda meminta ada bidadara di surga. Sudah diperlakukan dengan terhormat —keimanan yang tidak bisa ditukar dengan iming-iming syahwat di akhirat, lha kok mau-maunya anda turun kelas seperti kami para lelaki?

Berbahagialah para perempuan. Anda makhluk terhormat.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Adakah Bidadara di Surga untuk Perempuan? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Murni

Kaisar Leo III yang berkuasa pada pertengahan abad kedelapan Masehi di Byzantium murka besar. Kekalahan pihak Kristen terhadap Islam, menurutnya, karena umat Kristiani tidak lagi menyembah Tuhan secara murni.

Alih-alih beribadah secara murni, mereka telah menaruh wajah Yesus dalam bentuk gambar, patung, dan kreasi seni lainnya. Sang Kaisar juga menuduh bahwa umat Kristiani telah menyembah selain Yesus seperti para Wali (Saint) yang juga menjdi objek karya seni pada masa itu. Menurut Leo ini berbeda dengan kelompok Islam yang mengharamkan segala macam bentuk gambar dan patung. Ketidakmurnian Kristen kalah oleh kemurnian Islam. Mulailah Kaisar Leo III memerintahkan untuk menghancurkan segala macam bentuk gambar dan patung. Inilah periode yang dinamai oleh sejarawan sebagai Iconoclasm di Byzantium.

Pangkal muasalnya memang soal ekspresi keberagamaan. Sejauhmana gambar dan patung memiliki atribut keilahian. Salah satu perintah dalam Ten Commandments jelas melarang untuk menyembah berhala. Ada pesan Tauhid yang kokoh dalam tradisi 3 agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam). Namun sekali lagi, sejauhmana ekspresi keberagamaan dalam bentuk seni dan patung diharamkan?

Dalam tradisi Islam, Tuhan disembah tanpa perantara. Tidak ada ‘penampakan’ dalam bentuk apapun karena kekhawatiran akan penyimpangan tauhid. Wajah Nabi Muhammad pun menjadi sesuatu yang sakral untuk bisa dituangkan dalam karya seni. Tapi bagaimana dengan objek lainnya selain Allah dan Nabi? Bolehkah? Ketika Islam tersebar di luar jazirah arabia, Islam mulai bersentuhan dengan budaya non-arab seperti Parsi di Iran, Hindu di India serta Kristen-Eropa di Spanyol dan Italia. Bukan saja mulai terjadi pemisahan antara mana budaya Arab dan mana inti ajaran Islam, tapi lambat laun juga mulai terjadi dialog antar peradaban. Ekspresi Islam menjadi warna-warni, meski tauhid tetaplah sama dan menjadi harga mati.

Beberapa abad selanjutnya sejarah mengungkapkan bagaimana kerajaan Islam mulai tumbang, dan perlahan pengaruh Islam mulai menyusut. Di penghujung abad delapan belas para pemimpin umat Islam bertanya-tanya: “kenapa kami sekarang kalah oleh Kristen?” Muhammad bin Abdul Wahab punya jawaban yang mirip dengan Kaisar Leo III di abad kedelapan: “kita kalah karena kita tidak lagi murni dalam menyembah Tuhan”.

Maka gerakan pemurnian Tauhid dalam tubuh umat Islam dimulai di awal abad ke-19. Gerakan ini hendak mengembalikan kejayaan Islam dengan melakukan pemurnian ibadah seperti kaum terdahulu (salaf). Mereka menyebut diri mereka dengan Salafi –pihak luar menyebut mereka Wahabi.

Wahabi inilah yang kemudian, persis seperti gerakan Iconoclasm Kaisar Leo III, menghancurkan semua ekspresi keagamaaan yang dianggap tidak murni Islam, dari mulai makam Wali yang dihancurkan, patung bercitarasa seni tinggi dirubuhkan, melarang gambar yang bernyawa, sampai semua praktek keislaman yang dianggap bid’ah. Wahabi menghancurkan 3/4 sejarah peradaban Islam, yang tersisa cuma Quran dan Hadis plus tentu saja minyak di gurun Arab sana. Meskipun mereka naik Toyota, tapi mereka sangat senang dengan Onta, hingga ke urin Onta.

Namun seperti Iconoclasm yang terjadi pada abad kedelapan di Gereja Timur yang kemudian mendapat perlawanan dari Gereja Barat, gerakan pemurnian ala Wahabi juga serentak menimbulkan resistensi dari berbagai penjuru dunia Islam. Alih-alih hendak memajukan Islam, Wahabi dianggap telah memundurkan Islam empat belas abad ke belakang.

Gejala yang sama terjadi di tubuh Kristen dan Islam saat ini: gerakan pemurnian berubah menjadi gerakan fundamentalis. Mereka yang merasa dirinya murni, tentu saja akan menganggap orang yang tidak sepaham sudah kotor alias tidak murni lagi. Mereka sibuk hendak memurnikan orang lain. Mereka terus menakut-nakuti bahwa yang tidak murni akan masuk neraka. Bagi mereka, Tuhan itu pemarah dan gampang tersinggung lantas gemar menghukum –persis seperti kelakuan mereka.

Di pihak lain, mereka yang dianggap sudah tidak murni malah bisa bersikap akomodatif terhadap budaya dan tradisi orang lain. Bagi mereka, keimanan dan Tauhid tidak akan tergerus hanya karena mengeskpresikannya dalam bentuk nyanyian, syair, gambar, foto, lukisan, patung atau drama. Tuhan itu Indah. Menikmati keindahan karya seni justru semakin mendekatkan diri kita pada Tuhan. Tuhan itu ramah dan ampunanNya melampaui amarahNya.

Di era sosial media saat ini, berlaku kaidah “No Picture = Hoax”. Buktikan kebenaran itu dengan gambar. Tanpa menunjukkan gambar, info yang anda berikan akan dianggap sampah. Saya merenung, jangan-jangan di era sosial media ini paham yang melarang ekespresi keagamaan dalam bentuk Ikon/gambar (baik foto, patung atau lukisan) akan dianggap paham yang hoax. Alih-alih dianggap murni, mereka boleh jadi dianggap pantas masuk ke dalam folder spam. Entahlah.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Murni ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Al-Musta’in: Khalifah Keduabelas Yang Dipaksa Lengser

Korupsi di masa Khalifah al-Musta’in begitu nyata. Jadi, kalau zaman now ada yang teriak-teriak “jualan” bahwa satu-satunya solusi terhadap persoalan korupsi adalah ditegakkannya kembali khilafah, ya cukup kita kasih senyum manis dan kita tinggal masuk kamar untuk bobo cantik.

Simak yuk lanjutan ngaji sejarah politik Islam.

Posting Al-Musta’in: Khalifah Keduabelas Yang Dipaksa Lengser ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Proyek Perumahan Gantari Land IPB Mangkrak, Pihak Pengembang Melakukan Penipuan?

Jakarta- Hingga saat ini proyek pembangunan perumahaan khusus karyawan IPB belum jelas kapan dibangun. Usut diusut kabarnya alasan tersendat perumahan Proyek Gantari Land IPB yang beralokasi di Desa Cibanteng dan Desa Benteng Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang dikelola oleh PT. Gantari Bawana masih mempunyai kendala permasalahan dengan salah satu jasa penyelenggara yakni CV. Putra Berkarya, diantaranya dana komitmen fee dan hutang piutang yang belum terselesaikan.

Sebelumnya pihak CV. Putra Berkarya akan dipercaya dalam peletakan batu pertama peremuhan tersebut, yang akan dilaksanakan pada Juli tahun ini. Namun hingga saat ini pelatakan batu pertema belum juga dilaksanakan. Bahkan yang terjadi pihak Gantari telah melanggar kontrak perjanjian kepada CV. Putra Berkarya.

Surya Dharma Selaku Direktur Gantari Bawana

Ketika jariberita menghubungi pihak CV. Putra Berkarya Wawan Setiawan membenarkan perihal tersebut. Menurutnya ada beberapa perjanjian kontrak yang tidak dipenuhi oleh pihak PT. Gantari Bawana salah satunya down payment yang seharusnya dibayarkan pada tanggal 26 Mei 2017 kemarin tidak terealisasikan dengan baik. “Harusnya tanggal 26 Mei 2017 kemarin sudah membayar, dan bulan Juli ini sudah selesai pekerjaan. Tidak ada kabar kejelasan kami CV. Putra Berkarya melakukan teguran 1 dan teguran kedua, sehingga kita meminta dana komitmen fee yang sudah masuk sebesar Rp. 25 juta kembali dua kali lipat menjadi Rp. 50 juta,” tegas Wawan Setiawan selaku Direktur Utama CV. Putra Berkarya.

“Anehnya pihak Gantari yaitu Surya Dharma selaku Direktur Utama juga tidak memenuhi surat perjanjian yang akan bayar pada tanggal 20 Juli kemarin, apalagi ditanda tangan matrai. Karena itu pula kami melaporkan ke Polres Bogor dengan modus penipuan dan meminta ganti Rugi Rp. 250 juta. Dan semua proses hukum biar Pengcara kami yaitu Krisna Murti, SH yang mengurus,” jelasnya.

Kembali dikatakan Wawan pihak Gantari yaitu Surya Darma dianggap tidak kooperatif dan selalu janji-janji untuk membayar dana masuk dan kerugian. “Jadi biarkan proses hukum saja, karena pihak kami sudah melakukan alur yang benar bahkan sudah dikasih toleransi,” paparnya.

Surya Dharma Direktur Utama PT. Gantari Buat Surat Perjanjian

Menurutnya dana yang sudah masuk Rp. 25 Juta yang dikirim melalui rekening Rudi rekanan Andri salah satu karyawan Gantari adalah dana untuk mempercepat Surat Perintah Kerja (SPK) dan Surat Kontrak Kerjasama. Namun hingga saat ini SPK dan Surat Kerjasama sudah diterima dana tidak ada kejelasan. “Jelas bukti-bukti kwitansi penerimaan sudah ada, jadi silahkan saja biar kepolisian nanti yang berkerja,” katanya.

Sementara Krisna Murti, SH mengatakan selaku kuasa hukum CV. Putra Berkarya akan mendampingi proses hukum agar pihak Gantari bertanggung jawab atas yang dilakukannya. “Kita akan kawal terus bagaimana proses hukum di kepolisian, pastinya kita akan cari awal mulanya pihak CV. Putra Berkarya bisa kerjasama dengan Gantari. Awal mulanya pekerjaan tersebut dari saudara Anjar rekanan klain kami, dari saudara Anjar dipercayakan kepada saudara Rudi. Dan saudara Rudi ini yang mnerima uang, yang katanya sudah diserahkan kepada Surya,” beber mantan Pengacara Sanusi kasus Reklamasi ini.

“Klain kamu sudah kuat bukti bagaimana perjanjian kerja yang dihiraukan oleh Gantari, seperti SPK, Surat Kerjasama, Kwitansi dan terakhis Surat Perjanjian pada tanggal 20 Juli kemarin,” katanya.

Sayangnya hingga berita ini ditutunkan pihak Gantari belum ada yang komentar. Bahkan ketika di datangkan ke kantornya yang berlamat di  Komplek Perumahan Menteng Asri Blok AD 11/12Kota Bogor terlihat sepit. Bahkan ketika dihubungi telepon kantor bernomor 0251-8571112 tidak aktif.

 

Pengacara Krisna Murti, SH Siap Benahi Pengembang Perumahan Nakal Di Bogor, Termasuk Gantari?

Jakarta- Pengcara ternama yang juga salah satu calon Bupati Kabupaten Bogor Krisna Murti SH, ditunjuk oleh CV. PUTRA BERKARYA salah satu perusahan yang bergerak dibidang jasa penyelenggara kegiatan untuk mengugat PT. GANTARI BAWANA Corp selaku perusahaan pengembang perusahaan di wilayah Kabupaten Bogor. Hal tersebut dikatakan Wawan Setiawan selaku Direktur Utama CV. Putra Berkarya kepada wartawan, […]

Pengembang Perumahan IPB Bogor Digugat Rekanan Kerja

Jakarta- Salah satu penyelengara kegiatan Event Organizer CV. PUTRA BERKARYA tengah siap melaporkan pengembang perumahan PT. GANTARI BAWANA Corp yang beralamat di Komplek Perumahan Bumi Menteng Asri Blok AD 11/12 Kota Bogor ke Polres Bogor. PT. GANTARI BAWANA Corp ini dianggap tidak konsisten dengan perjanjian dengan CV. PUTRA BERKARYA, diantaranya perihal terbitnya Surat Perintah Kerja (SPK)  No : 0035/SPK-PBP/KPIPB/GB-PB/IV/2017 dan Perjanjian Kontrak Kerjasama Nomor: 0252/IPB/GB-PB/V/2017 sudah ditanda tangan kedua belah pihak dalam pekerjaaan Event Peletakan Batu Pertama Pada Proyek Gantari Land IPB yang beralokasi di Desa Cibanteng dan Desa Benteng Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Surat Perintah Kerja PT. GANTARI BAWANA

“Sekarang kita sedang melengkapi berkas-berkas bagaimana bukti-bukti pelanggaran kontrak kerja yang dilakukan PT. Gantari, termasuk bukti transferan dari kami ke saudara Rudi rekanan pihak PT. GANTARI. Ini sudah kengkap kami lanjutkan laporan ke Polres Bogor. Dan kami juga sudah menunjuk Krisna Murti, SH sebagai pendamping dari CV. PUTRA BEKARYA, “ tegas Wawan Setiawan saat dihubungi jariberita.com.

Menurut Wawan banyak pelanggaran yang dilakukan PT. GANTARI BAWANA yakni Direktur Utamanya Surya Dharma. “Yang perjanjian pembayaran pada tanggal 20 Juli 2017 kemarin, tapi hingga saat ini tidak ditepati. Bahkan hanya janji-janji saja. Padahal kami sudah kasih toleransi dan koorperatif,” jelas Wawan kembali.

Alasan CV. PUTRA BERKARYA memperkarakan jalur hukum dikarenakan tidak komitmen PT. GANTARI BAWANA, diantaranya bermula Down Payment (Dana Pertama) yang seharunya dibayar tanggal 26 Mei 2017 namun tidak pernah terlaksana. Bahkan surat teguran juga sudah disampaikan. “Bayangkan sampai hari pelaksanaan Juli saat ini juga belum ada kabar kelanjutnya. Teguran sudah kami sampaikan, bahkan perjanjian juga sudah dibuat lengkap dengan tanda tangan dan matrai atasnama Surya Darma. Jadi sudah jelas ada bukti transaksi Surya Dharma menerima dana dari CV. PUTRA BERKARYA,” katanya.

‘Uang yang diterima Surya Dharma adalah uang untuk dikeluarkannya dana fee pertama agar proses admitrasi SPK dan Kontrak Perjanjian cepat keluar. Dana tersebut diserahkan melalui saudara Rudi rekanan dariAndri salah satu karyawan PT. GANTARI BAWANA,” jelasnya.

Perihal pelaporannya ke polisi CV. PUTRA BERKARYA meminta ganit rugi sebesar Rp. 250 juta dan permintaam PT. GANTARI BAWANA di media lokal dan nasional. “Awalnya kami CV. PUTRA BERKARYA hanya meminta pengemabalian dana sebesar Rp. 25 juta dan kompensasi Rp. 25 juga menjadi Rp.50 juta. Namun kompensasi dan dana kami tersebut tidak urung diselesaikan. Yang ada hanya janjidan janji saja dari Surya,” paparnya.

“Untuk proses hukum biar pengcara saya yang menangani, pastinya tidak ada toleransi dari PT. GANTARI. Dan kami berharap polisi agar mengusutnya karena sudah dianggap peniupuan,” tegasnya.

Seperti diketahui bahwa CV. PUTRA BERKARYA salah rekanan kerja yang tengah menjalin kerjsama dengan PT. GANTARI BAWANA salah satu perusahaan pengembang di wilayah Bogor. Sedangkan acara peletakan batu pertama yang seyogyanya diselenggarakan Tanggal 08/07/2017 sesuai dengan Surat Petintah Kerja yang dikeluarkan oleh PT. Gantari Bawana hingga berita ini diturunkan tidak terrealisasi.

“Semua kerjasama sudah tertuang dalam SPK dan Kontrak Perjanjian. Jadi sudah jelas melanggar kontrak kerja,” ujarnya kembali.

Sementara itu kuasa hukum CV. PUTRA BERKARYA Krisna Murti SH menegaskan bahwa akan terus menunut pertangungjawaban pihak PT. GANTARI BAWANA. ” Ada beberapa poin yang sudah dilanggar mereka, karena kita lakukan delik aduan pasal penipuan yang merugikan seseorang,” tegasnya.

Lanjut Krisna bukti  kuat dari pihak CV. PUTRA BERKARYA transferan Rudi melalui Rekening Bank Mandiri Dan BCA (Pasal Penipuan) dan juga komunikasi Andri dan SPK serta Kontrak Kerjasama Gantari Bawana yang ditanda tangani oleh suadara Surya Darma. “Pastinya bukti transferan rekening saudara Rudi nelalui Rekening BCA DAN MANDIRI. Komunikasi melalui telepon, whastup dan sms dan Video Call dari Rudi dan Andri yang mewarning klien saya.Siapa saudara Rudi yaitu kawan dari Anjar yang berkerja disalah satu tv  nasional,”katanya.

“Dalam tuntutan awal hanya pengembalian dana  yang sudahmasuk Rp. 25 juta menjadi Rp. 50 juta. Tapi semua itu tidak dipenuhi, yang ada hanya janji-janji saja . Karena itu kami menuntut kompenasisebesar Rp. 250 juta,” kata Krinas..(asp)

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Gelar Lomba Jurnalistik Berhadiah Ratusan Juta

Jakarta-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat, Direktorat Pendidikan Keluarga, mengadakan Lomba Jurnalistik berhadiah total Rp 226 juta. Adapun tema yang dilombakan adalah ‘Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak’.

Hal  tersebut dikatakan Staf Khusus Mendikbud Nasrullah kepada wartawan di Jakarta. ”Lomba Jurnalistik ini dimaksudkan untuk mengajak keterlibatan masyarakat dalam memberikan gagasan inspiratif tentang penguatan pendidikan keluarga,” kata Nasrullah.

Dijelaskan Nasrullah, lomba diperuntukkan bagi masyarakat umum yang terbagi menjadi 3 kategori. Yaitu feature, opini, dan berita. Hanya saja, lomba tidak boleh diikuti oleh PNS Kemendikbud. Dan bagi mereka yang ingin mengikuti lomba, tambah Nasrullah, para peserta harus mengikuti beberapa ketentuan umum. Di antaranya tulisan asli (bukan plagiat), aktual, bernilai, inovatif, dan bermanfaat. Kemudian, tulisan belum pernah atau sedang diikutsertakan dalam lomba atau kompetisi media jurnalistik lain.

Disamping itu pula tulisan yang dilombakan juga bisa diterbitkan di media massa. Baik di media cetak (koran, tabloid, majalah) serta media online (portal berita yang direkomendasikan oleh dewan pers) dalam periode 6 Februari sampai dengan 19 Juli 2017. “Khusus untuk feature, panjang tulisan maksimal adalah 1.200.
“Total hadiah yang telah disiapkan oleh pihak panitia mencapai Rp 226 Juta untuk tiga kategori yang diperlombakan,”kata,” jelas Nasrullah.

Untuk kategori Feature dan Opini, Panitia menyiapkan hadiah masing-masing  Rp 15 juta untuk Pemenang I, Rp 12 Juta untuk pemenang II, serta Rp 10 juta untuk pemenang II. “Selain itu, juga Rp 5 juta untuk 10 pemenang harapan untuk 2 kategori itu,” terang Nasrullah.

Sementara untuk kategori Berita, hadiah yang disiapkan adalah Rp 10 juta untuk Pemenang I, Rp 8 juta untuk pemenang II, Rp 6 juta untuk pemenang III, serta 7 pemenang harapan yang masing-masing mendapatkan Rp 4 juta. “Setiap peserta dapat mengirimkan tulisan sebanyak-banyaknya tanpa dipungut biaya sepeserpun,” jelas Nasrullah.

Untuk bisa mengikuti lomba itu, terdapat 5 prosedur penting yang harus diperhatikan bagi peserta. Prosedur pertama, peserta mengirimkan tulisan yang telah dimuat di media cetak maupun online dengan 4 ketentuan:

a. Scan/foto tulisan yang dimuat di media (file harus terbaca dengan jelas) dan/atau berupa kliping tulisan. Sertakan pula tulisan dalam format word yang dikirim melalui alamat suart elektronik: lombajurnalistik.keluarga@kemdikbud.go.id.

b. Cantumkan nama media, tanggal pemuatan, dan halaman saat tulisan dimuat di media.

c. Lengkapi identitas pengirim yaitu nama, alamat, surat elektronik/email, dan nomor telphon yang dapat dihubungi

d. Salinan/scan kartu identitas (KTP/SIM) harus terbaca dengan jelas, khusus jurnalis melengkapi kartu Pers.

Prosedur kedua, tulisan diterima Panitia paling lambat tanggal 21 Juli 2017 melalui alamat surat elektronik: lombajurnalistik.keluarga@kemdikbud.go.id atau kliping tulisan ke Panitia Lomba Jurnalistik, Subdit Kemitraan, Direktorat Pendidikan Keluarga, Gedung C lantai 13, Jln Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta kode pos 10270.

Prosedur ketiga, cantumkan kategori tulisan dengan huruf kapital dalam subjek surat elektronik atau amplop surat, diikuti nama lengkap – nama media yang memuat tulisan – tanggal tulisan dimuat.

Prosedur keempat, bagi peserta yang mengirim softcopy tulisan melalui surat elektronik, apabila terpilih sebagai pemenang, wajib menunjukkan tulisan asli yang telah dimuat di media.

Prosedur kelima, pemenang akan diumumkan pada acara Apresiasi Pendidikan Keluarga di minggu pertama bulan Agustus 2017, dan dapat dilihat melalui laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.