Bagaimana Memahami Hukum Allah?

Tadi pagi aku diskusi dengan beberapa mahasiswa tentang situasi mutakhir Indonesia yang centang perenang, karut bin marut, saling dendam kesumat dan saling menghancurkan karakter. Perbincangan terjadi dan berlangsung damai, saling mendengar dan saling merespon tanpa emosi.

Lalu salah seorang dari mereka bilang dengan percaya diri: “Kita ini tidak berhukum dengan hukum Allah dan tidak mengikuti Allah. Kita hanya mengandalkan akal saja. Inilah jadinya. Kacau balau”.

Aku bilang : “Anda benar. Saya sepakat bahwa kita harus taat kepada Allah dan berhukum dengan hukum Allah. Semua orang yang beriman niscaya setuju dengan pernyataan itu. Tapi persoalannya tidaklah sesederhana itu. Bagaimana kita dapat mengetahui hukum Allah itu, yang manakah ia?.

“Itu ada dalam Al-Qur’an”, katanya lagi.

“Ya. Tapi bukankah al-Quran itu adalah susunan huruf-huruf?. Huruf-huruf itu bicara atau mengatakan apa?. Ia adalah simbol-simbol dari kehendak-kehendak-Nya. Bagaimana kita memaknai simbol-simbol itu?.

Dalam sejarah kaum muslimin sampai hari ini selalu terjadi perbedaan pendapat hukum di kalangan para ahli. Mengapa kaum muslim sering tidak sepakat atas maksud suatu ayat, sehingga melahirkan kesimpulan yang berbeda-beda? Mengapa ada ribuan tafsir yang berbeda-beda dan beragam? Mengapa ada banyak aliran hukum (Mazhab) di kalangan kaum muslimin, padahal sumber hukum mereka sama: al-Qur’an dan Hadits (al-Sunnah)?. Yang pasti dari Allah itu yang mana di antara banyak pendapat itu, atau bagaimana dan seperti apa?. Belum lagi jika bicara tentang “Qiroat Sab’ah”, 7 model bacaan. Perbedaan Qiroat itu, bisa menimbulkan perbedaan hukum.

Lalu saya segera menanyakan lagi : “Siapakah yang menafsirkan, memaknai atau memahami ayat-ayat Al-Qur’an itu?. Dan dengan apakah ia menafsirkan, memaknai atau memahaminya?.”

Demikian pula halnya dengan hadits Nabi saw. Bukankah semuanya kini sudah dalam bentuk tulisan, hasil kumpulan atau kompilasi para ahli. Dan kita melihat penilaian tentang autentisitas atau validitas suatu hadits dari sisi transmisi beragam. Meskipun ada kesepakan tentang autentisitas atau validitas (kesahihan) sebuah hadits dari sisi “sanad” (transmisi), tetapi apakah sahih pula dari aspek matan (isi/konten). Banyak ahli hadits mengatakan :

ليس كل ما صح سنده صح متنه

“Tidak semua hadits yang valid sanad (transmisi) nya, sahih mantannya”.

Dalam redaksi Imam Nawawi, ahli hadits besar dalam kitab “al-Taqrib”, disebutkan :

أن صحة الإسناد لا تقتضي صحة المتن

“kesahihan sanad (rangkaian Nara sumber) tidak serta merta berarti sahih matan (konten) nya.

Para mahasiswa itu diam saja. Ada yang mengangguk-angguk. Lalu saya menulis di white board :

وهذا القرآن إنما هو خط مسطور بين دفتين لا ينطق إنما يتكلم به الرجال. (الطبرى: تاريخ الأمم والملوك)

“Al-Qur’an ini adalah tulisan yang ditulis di antara dua tepi. Ia tidak berkata-kata (berpikir), sesungguhnya yang berkata adalah orang”.(Imam al-Thabari dalam “Tarikh al-Umam wa al-Muluk”).

Itu adalah kata-kata Ali bin Abi Thalib dalam perdebatannya dengan orang-orang khawarij pada peristiwa “Tahkim” di Daumah al-Jandal, tahun 37 H, usai perang saudara di Shiffin, di hulu sungai Eufrat (First), Irak.

Imam Ali bin Abi Thalib juga pernah mengatakan :

القران حمال أوجه

“al-Qur’an itu mengandung berbagai dimensi makna”.

The post Bagaimana Memahami Hukum Allah? appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Egoisme

Ada firman Allah dalam Al-Qur’an yang selalu aktual :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa derita dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan derita itu, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) derita yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(Q.s. Yunus 12).

Pernyataan Tuhan ini memberi pengetahuan/pelajaran kepada kita bahwa manakala seseorang mengalami kesusahan, kesulitan, menderita dan tak berdaya, dia baru meminta tolong kepada Allah, sambil menangis-nangis, rajin ibadah dan kembali mengikuti ritual-ritual keagamaaan, termasuk “hijrah”. Tetapi manakala kesusahan itu hilang, kepentingan diri telah terpenuhi, Tuhan dia tinggalkan. Tuhan tak diperlukan lagi. Mungkin juga mendurhakai-Nya. Ini karakter orang-orang yang zalim dan tak bersyukur kepada Tuhan.

Belakangan model begitu digunakan sebagian orang, tetapi dalam bentuk dan cara lain. “Dan bila seseorang atau sekelompok orang sedang menderita atau merasa kepentingannya dirugikan atau kawatir dirugikan atau terancam ia akan meminta orang lain untuk menolongnya atau mengajak mereka melawan orang-orang yang membuatnya menderita atau merugi. Dan bila tak lagi merasa demikian, ia akan diam saja, bahkan mengingkari bahwa dirinya pernah meminta tolong orang lain atau mengajak rame-rame membela dirinya. Untuk menarik hati mereka yang diajak itu dan agar dianggap benar maka disampaikan lah dalil-dalil agama yang mereka interpretasikan sendiri yang sesuai dengan kepentingannya, serta digunakanlah simbol-simbol yang dianggap oleh dirinya dianjurkan agama”.

Mengapa begitu?. Sikap seperti itu berakar dari karakter utama manusia : mencintai diri (hubb dzatih). Dari sini berkembang menjadi ingin selamat, lalu ingin lebih nikmat dan akhirnya ingin hidup selama-lamanya.

16.04.18
HM

The post Egoisme appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Kiyai dan Ayam

Selepas Isya’, setelah merasa cukup memberikan pengajian selama bertahun-tahun pada santrinya, seorang Kiyai memberikan santrinya masing-masing seekor ayam. Kiyai berpesan, “terimalah ayam ini, lalu sembelihlah ditempat, dimana tidak ada yang bisa melihat apa yang kamu lakukan.”

Subuh itu udara cukup dingin, namun Kiyai dan para santrinya sudah berkumpul di Langgar. Selepas shalat subuh berjama’ah, Kiyai bertanya perihal ayam yang diberikannya itu. Seorang santri senior meminta ijin berbicara, “Kiyai, saya sudah jalankan pesan Kiyai untuk menyemblih ayam itu di tempat yang tak bisa ada yang melihat saya menyemblih ayam itu.”

Kiyai tersenyum, “Dimana kamu sembelih?”

Santri menjawab, “Di belakang sumur, malam tadi tepat jam 12.00”

“Kamu yakin tak ada yg melihat perbuatan itu?,” tanya Kiyai lagi.

“Yakin…a’inul yakin, Kiyai, saya sudah periksa berulang kali tempat itu dan sudah sangat berhati-hati” jawab santri dengan takzimnya.

Kiyai menghela nafas. Dia tatap seluruh santrinya. Lalu dengan perlahan dia bertanya, “Bagaimana dengan yang lain?” Satu-satu melaporkan “tempat rahasia” mereka saat menyemblih ayam tersebut.

Kiyai sekali lagi menghela nafas. Dengan suara berat, Kiyai berkata, “Kalian semua tidak lulus…. berbulan-bulan aku mengajarkan Islam kepada kalian, sayang, kalian tak mampu menangkapnya dengan baik. Ketika kalian merasa telah menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat perbuatan kalian, kalian lupa, wahai anak-anakku, bahwa sungguh tak ada tempat di dunia ini yang lepas dari pengamatan Allah!” “Ketika kalian sembelih ayam itu, tak sadarkah kalian bahwa Allah melihat perbuatan itu.”

Saya menghela nafas mengingat kembali kisah di atas. Betapa sering kita lupa bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui perbuatan kita. Ketika kita “sembelih” nasib bawahan kita, kita lupa bahwa Allah melihat perbuatan kita. Ketika kita berhasil meloloskan diri dari kecurigaan isteri untuk berdua-duaan saja dengan wanita yang bukan hak kita di sebuah motel selama berjam-jam, kita lupa bahwa Allah tak bisa kita kelabui.

Saat kita sukses merubah laporan keuangan sehingga di akhir tahun anggaran, terdapat banyak dana sisa yang bisa kita “hanguskan”, kita juga lupa bahwa Allah akan “meng-audit” laporan keuangan tersebut di akherat nanti. Manakala kita tunjuk pihak-pihak lain sebagai kambing hitam dari persoalan moneter di negara kita, dan melupakan bahwa kitapun memiliki “saham” dari persoalan ini, kita lupa bahwa Allah bisa membedakan dengan jelas mana kambing yang “hitam” dan mana yang “putih”.

Ah…bisakah kita melepaskan diri dari “mata” Allah, bisakah kita menemukan suatu tempat rahasia, dimana tak ada yang bisa melihat apa yang kita lakukan…???

Ya Allah, ampuni kami…

 

Armidale, 22 Februari 1998.

Posting Kiyai dan Ayam ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Lebih Panas Mana?

Seorang Raja mengumumkan sayembara:”Barangsiapa yang sanggup berendam di kolam kerajaan sepanjang malam akan dihadiahi pundi-pundi emas.” Sayembara ini sepintas terlihat mudah, namun berendam di kolam pada saat musim dingin tentu bukan perkara mudah. Walhasil, tak ada yang berani mencobanya.

Seorang miksin dari pelosok pedesaan, karena tak tahan dengan tangisan kelaparan anaknya, memberanikan diri mengikuti sayembara itu. Pundi-pundi emas membayang di pelupuk matanya. Bayangan itulah yang mendorong dia akhirnya berangkat ke istana. Raja mempersilahkan dia masuk ke kolam istana. Sekejap saja orang miskin ini masuk ke dalamnya, ia langsung menggigil kedinginan. Giginya saling beradu, mukanya mendadak pucat dan tubuhnya perlahan meringkuk.

Tiba-tiba ia melihat nyala api dari salah satu ruang istana. Segera saja ia bayangkan dirinya berada dekat perapian itu; ia bayangkan betapa nikmatnya duduk di ruangan itu. Mendadak rasa dingin di tubuhnya, menjadi hilang. Kekuatan imajinasi membuatnya mampu bertahan. Perlahan bayang-bayang pundi emas kembali melintas. Harapannya kembali tumbuh.

Keesokan harinya, Raja dengan takjub mendapati si miskin masih berada di kolam istana. Si miskin telah memenangkan sayembara itu. Raja penasaran dan bertanya “rahasia” kekuatan si miskin. Dengan mantap si miskin bercerita bahwa ia mampu bertahan karena membayangkan nikmatnya berada di dekat perapian yang ia lihat di sebuah ruangan istana.

Lama sudah waktu berjalan sejak saya baca kisah di atas sewaktu masih di Sekolah Dasar. Namun baru belakangan saya menyadari kiasan dari cerita itu. Imajinasi dan harapan akan kehidupan yang lebih baik telah menjadi semacam stimulus untuk kita bisa bertahan.

Ketika krisis ekonomi menghadang negara kita, sekelompok orang menjadi panik tak karuan. Apa saja dilakukan mereka untuk mempertahankan kenikmatan hidup. Mulai dari menjadi spekulan mata uang, menimbun barang, menjilat penguasa dan meniupkan isu kemana-mana. Norma agama telah dilanggar untuk kepentingan duniawi belaka. Akan tetapi, segelintir orang tetap tenang karena sudah lama badan mereka di “bumi” namun jiwa mereka di “langit”.

Kelompok terakhir ini membayangkan bagaimana nikmatnya hidup di “kampung akherat” nanti, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah. “Pundi-pundi kasih sayang ilahi” membayang dipelupuk mata mereka.

Bagaikan si miskin yang tubuhnya berada di dasar kolam, namun jiwanya berada di dekat perapian; bayangan “kampung akherat” membuat mereka tenang dan tidak mau melanggar norma agama. Bagaikan kisah si miskin di atas, boleh jadi Raja akan takjub mendapati mereka yang bisa bertahan di tengah krisis ini, tanpa harus menjilat kepada istana (apalagi bila jilatan itu dibumbui sejumput ayat dan hadis)

Ada seorang muslim yang tengah berpuasa, rekan bulenya yang tinggal satu flat berulang kali mengetok pintu kamar hanya untuk memastikan apakah si muslim masih hidup atau tidak. Orang bule itu tak habis pikir bagaimana si muslim bisa bertahan hidup dan tetap beraktifitas tanpa makan-minum selama lebih dari 12 jam. Rindu “kampung akherat” menjadi jawabannya.

Sama dengan herannya seorang rekan mendapati seorang muslimah di tengah musim panas (summer) tetap beraktifitas sambil memakai jilbab. Ketika ada yang bertanya, “apa tidak kepanasan?” Muslimah tersebut menjawab sambil tersenyum, “lebih panas mana dengan api neraka?”

Kenikmatan “kampung akherat” rupanya jauh lebih menarik buat seorang muslim/muslimah.

Armidale, 13 Februari 1998.

Posting Lebih Panas Mana? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Ketika Tirai Tertutup

Ketika mendengar sebuah berita “miring” tentang saudara kita, apa reaksi kita pertama kali? Kebanyakan dari kita dengan sadarnya akan menelan berita itu, bahkan ada juga yang dengan semangat meneruskannya kemana-mana.

Kita ceritakan aib saudara kita, sambil berbisik, “sst! ini rahasia lho!”. Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut ke yg lainnya, juga sambil berpesan, “ini rahasia lho!”

Kahlil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam kalimatnya, “jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan angin bila ia kabarkan pada pepohonan.”

Inilah yang sering terjadi. Saya memiliki seorang rekan muslimah yang terpuji akhlaknya. Ketika dia menikah saya menghadiri acaranya. Beberapa minggu kemudian, seorang sahabat mengatakan, “saya dengar dari si A tentang “malam pertamanya” si B.” Saya kaget dan saya tanya, “darimana si A tahu?” Dengan enteng rekan saya menjawab, “ya dari si B sendiri! Bukankah mereka kawan akrab…”

Masya Allah! rupanya bukan saja “rahasia” orang lain yang kita umbar kemana-mana, bahkan “rahasia kamar” pun kita ceritakan pada sahabat kita, yang sayangnya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya sahabat.

Saya ngeri mendengar hadis Nabi: “Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.”

Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, “Maha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”

Jangan bongkar aib saudara kita, supaya Allah tidak membongkar aib kita.

“Ya Allah tutupilah aib dan segala kekurangan kami di mata penduduk bumi dan langit dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah”

Armidale, 25 September 1997.

Posting Ketika Tirai Tertutup ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Dusta Yang Mana Lagi…?

Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi “fabiayyi alai rabbikuma tukadziban” (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?

Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: “Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata “dusta”; bukan kata “ingkari”, “tolak” dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya. Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!

Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.

Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan!

Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah–baik anda dustakan atau tidak–semua ni’mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!

“Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini” (QS 102: 8)

Armidale, 1 September 1997.

Posting Dusta Yang Mana Lagi…? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Akan Datang Penghuni Surga

Di suatu hari Nabi sedang duduk di Masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba Nabi berseru, “akan datang penghuni surga.” Serentak para sahabat memandang ke arah pintu. Ternyata datanglah seorang sahabat yang memberi salam pada mejelis Nabi lalu shalat.

Keesokan harinya lagi, pada sitausi yang sama, Rasul berseru, “Akan datang penghuni surga.” Tiba-tiba hadir dari arah pintu sahabat yang kemaren juga digelari Rasul penghuni surga.

Selepas bubarnya mejelis Nabi, seorang sahabat mengejar “penghuni surga” tersebut. Ia berkata, “maafkan saya wahai saudaraku. Aku bertengkar dengan keluargaku bolehkah aku barang satu-dua hari menginap di rumahmu?”

“Penghuni surga” ini lalu berkata, “baiklah…” Satu hari berlalu, dua hari berlalu dan tiga hari pun berlalu. Akhirnya sahabat ini tak tahan dan berkata pada “penghuni surga”. “Wahai saudaraku sebenarnya aku telah berbohon padamu. Aku tak bertengkar dengan keluargaku. Aku bermalam di rumahmu untuk melihat apa amalanmu karena aku mendengar rasul menyebutmu penghuni surga. Tapi setelah aku perhatikan amalan mu sama dengan apa yang aku kerjakan. Aku jadi tak mengerti…..”

“Penghuni surga” itu menjawab, “maafkan aku, memang inilah aku! Ibadah yang aku jalankan tidak kurang- tidak lebih sebagaimana yang engkau saksikan selama tiga hari ini. Aku tak tahu mengapa Rasul menyebutku “penghuni surga”.

Sahabat itu lalu pergi meninggalkan “penghuni surga”. Tiba-tiba “penghuni surga” itu memanggil sahabat tersebut. “Saudaraku, aku jadi teringat sesuatu. Aku tak pernah dengki pada sesama muslim. Mungkin ini……”

Sahabat tersebut langsung berseru, “ini dia yang membedakan engkau dengan kami. Ini dia rahasianya mengapa Rasul menyebutmu penghuni surga. Ini yang tak dapat kami lakukan.”

Ternyata, soal dengki ini bukan persoalan sepele. Ada seorang tukang sate di tempat saya. Alhamdulillah satenya yang memang empuk itu laris bukan main. Tetangganya mulai mencibir dan menuduh si Tukang sate memelihara tuyul. Ketika anak si Tukang Sate kecelakaan, lagi-lagi tetangganya mencibir, “rasakan! itulah tumbal akibat main tuyul!”

Lihatlah kita. Apakah kita bertingkah laku persis tetangga Tukang Sate tersebut? Kita tak rela kalau saudara kita memiliki nilai “lebih” di mata kita. Repotnya, rumput tetangga itu biasanya terlihat lebih “hijau” dibanding rumput kita. Kita dengki dengan keberhasilan saudara kita.

Ada seorang wanita karir yang berhasil. Karena beban kerjanya dia sering kerja lembur sampai baru pulang saat larut malam. Tetangganya menuduh ia wanita jalang. Ketika dari hasil jerih payahnya ia mampu membeli mobil, tetangganya ribut lagi, kali ini ia disebut “simpanan seorang bos”.

Masya Allah! Bukannya belajar dari keberhasilan saudara kita tersebut, kita malah mencibir dan menuduhnya yang bukan-bukan.

Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki biasanya lahir buruk sangka, kemudian dari buruk sangka biasanya lahir fitnah dan tuduhan, untuk menyebarkan fitnah ini kita bergosip kemana-mana sambil menggunjingkan perilaku orang tersebut.

Lihatlah, bermula dari dengki kemudian menyusul perbuatan dosa yang lain!

Sulit sekali menghilangkan rasa dengki tersebut. Untuk itu marilah kita minta perlindungan-Nya:

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan KEDENGKIAN dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS 59:10)

Armidale, 2 September 1997

Posting Akan Datang Penghuni Surga ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Anda Melakukan Tiga Kesalahan

Umar bin Khatab terkenal sebagai khalifah yang suka berjalan di tengah malam untuk mengontrol keadaan rakyatnya. Di suatu malam, Umar mendengar suara seorang laki-laki dalam sebuah rumah yang sedang tertawa asyik ditingkahi gelegak tawa wanita.

Umar mengintip, lalu memanjat jendela dan masuk ke rumah tersebut seraya menghardik, “hai hamba Allah! apakah kamu mengira Allah akan menutup aibmu padahal kamu berbuat maksiat!!!”

Orang tua itu menjawab dengan tenang, “Jangan terburu-buru ya Umar, saya boleh jadi melakukan satu kesalahan tapi anda telah melakukan tiga kesalahan. Pertama, Allah berfirman, Wa la tajassasu…”jangan kamu (mengintip) mencari-cari kesalahan orang lain” (al-Hujurat: 12). Wa qad tajassasta (dan Anda telah melakukan tajasus).

Kedua, “Masuklah ke rumah-rumah dari pintunya” (Al-Baqarah 189) dan Anda sudah menyelinap masuk.   Ketiga, anda sudah masuk rumah tanpa izin, sedangkan Allah telah berfirman, “Janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin…” (An-Nur 27) Umar berkata, “apakah lebih baik disisimu kalau aku memaafkanmu?” Lelaki tersebut menjawab, “ya”. Lalu Umar pun memaafkannya dan pergi dari rumah tersebut.

Sekarang tengoklah tingkah laku kita. Bukankah Kita lebih suka mencari kesalahan saudara kita. Bila kita tak jumpai rekan kita di pengajian, kita tuduh dia sebagai orang yang melalaikan diri dari mengingat Allah. Ketika kali kedua, kita tak menemui saudara kita saat sholat jum’at, kita cap dia sebagai orang yang lebih mementingkan urusan dunia daripada urusan akherat. Ketika kali ketiga kita lihat dia duduk bersenda gurau dengan lawan jenisnya, mulai kita berpikir bahwa saudara kita tersebut telah terkunci mata hatinya.

Dengan tuduhan dan prasangka seperti itu, boleh jadi kita telah melakukan beberapa kali kesalahan yang lebih banyak dibanding saudara kita tersebut.

Mengapa tidak kita dekati dia dan kita tanyakan sebab ia tak muncul di pengajian, siapa tahu isteri atau anaknya sakit saat itu. Tanyakanlah secara baik-baik mengapa ia juga tak hadir di saat sholat jum’at, siapa tahu saudara kita tersebut terserang penyakit atau sedang ditimpa musibah. Ajak ia bercerita mengapa ia bersenda gurau berlebihan dengan lawan jenisnya, siapa tahu itu adalah keponakannya sendiri yang sudah bertahun lamanya tak bertemu dengan dia.

Pendek kata, berpikir positif dan menghilangkan praduga itu jauh lebih mulia dibanding hanya mencari-cari kesalahan orang lain. Siapa tahu justru saudara kita tersebut lebih mulia di sisi Allah dibanding kita….

Abah saya pernah bercerita tentang Abu Yazid al-Busthami. Konon, ketika Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi besar, hendak berangkat memancing, putrinya bertanya, “bukankah Allah akan menyediakan rezeki pada kita? mengapa kita harus memancing?” Abu Yazid berkata, “engkau benar”. Ketika ia masuk kembali ke dalam rumah ditemuinya makanan telah tersedia di meja. Begitulah seterusnya bertahun-tahun, entah dari mana datangnya makanan itu. Kemudian, putrinya wafat. Sejak saat itu tak lagi didapati makanan di rumah tersebut. Abu Yazid terkejut, semula dia menduga makanan itu datang karena kealiman dan kedekatan ia pada Allah, ternyata makanan itu diberikan Allah karena kedekatan putrinya pada Allah. Ternyata putrinya lebih tinggi kedudukannya dibanding dirinya. Sejak saat itu, mulailah Abu Yazid memancing lagi….

Subhanallah! Maha Suci Allah…Kami tak tahu siapa yang lebih mulia dan tinggi kedudukannya di sisi-Mu.

Armidale, 9 September 1997

Posting Anda Melakukan Tiga Kesalahan ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Dialog Dengan Tuhan?

Di zaman ini, mungkinkah kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan? Bukankah Nabi terakhir telah lama wafat, dan kitab suci terakhir telah diturunkan lima belas abad yang lampau serta Tuhan telah menyatakan sempurnanya agama kita. Masihkah terjadi dialog antara hamba dengan Tuhan?

Neale Donald Walsch percaya akan hal itu. Walsch mengaku masih bisa berdialog dengan Tuhan. Ia kemudian menuliskan hasil dialog dengan Tuhan itu dalam bukunya “Conversations with God: an uncommon dialogue”, sebuah buku yang telah berulang kali dicetak ulang.

“Aku tidak berkomunikasi semata dengan kata. Bentuk komunikasi yang Kupilih lebih melalui “perasaan” (feeling). Perasaan adalah bahasa jiwa. Jika kamu ingin tahu apa yang benar tentang sesuatu, lihatlah bagaimana perasaanmu terhadap sesuatu itu.

Aku juga berkomunikasi lewat “pikiran” (thought). Pikiran dan perasaan tidaklah sama, meskipun keduanya dapat berlangsung pada saat yang sama. Dalam komunikasi lewat pikiran, Aku menggunakan media imajinasi dan gambaran. Karenanya, pikiran lebih efektif daripada menggunakan “kata” sebagai alat komunikasi.

Sebagai tambahan, Aku juga menggunakan kendaraan “pengalaman” sebagai media komunikasi. Dan akhirnya, ketika perasaan, pikiran dan pengalaman semuanya gagal, Aku menggunakan “kata-kata”. Kata-kata adalah media komunikasi yang paling tidak efektif. Kata-kata lebih sering dikelirutafsirkan dan disalahpahami. Dan mengapa itu terjadi? Karena demikianlah kata-kata itu. Mereka hanya simbol dan tanda. Kata-kata bukanlah kebenaran; juga bukan sesuatu yang hakiki.” (Walsch:1997, h. 3-4)

Inilah “jawaban” Tuhan, ketika Walsch bertanya tentang cara Tuhan berkomunikasi dengan kita. Anda boleh tak setuju dengan pengakuan Walsch. Tak ada larangan kalau anda bersedia menggelari dia dengan “pendusta”.

Tapi, buat saya, yang menarik adalah kutipan di atas. Bahkan seorang non-Muslim seperti Walsch pun percaya bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan kita. Sayang, terkadang kita lupa akan hal ini, bahwa Tuhan masih berkomunikasi dengan hamba-Nya.

Ketika Walsch –atau “Tuhan”– menyebutkan perasaan, pikiran, pengalaman dan kata-kata sebagai bentuk komunikasi dari Tuhan, saya teringat, Syaikh Terbesar, Ibn Arabi yang mengatakan bahwa alam semesta merupakan bentuk tajalli dari Allah. Karena itu kemana saja kita arahkan pandangan mata kita, sebenarnya kita menangkap “tanda” Tuhan di sana.

Sayang, kita suka enggan berkomunikasi dengan Tuhan. Shalat pun menjadi berat. Beban kerja yang menumpuk menjadi alasan. Saat kita menzalimi saudara kita, kita sering lupa bahwa saudara kita masih bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan mengadukan kelakuan kita. Ketika duka datang menerpa kita, kita lebih percaya untuk berkomunikasi dengan “orang pintar” dibanding kita adukan derita kita langsung kepada Tuhan. Alih-alih melihat “tanda” dari Tuhan, hambatan ekonomis malah menjadi pembenar ketika kita menerima uang yang bukan hak kita.

Anda boleh tak setuju bahwa buku Walsch merupakan hasil komunikasinya dengan Tuhan. Anda boleh tak setuju ketika Ibn Arabi mengaku “didiktekan” Malaikat ketika menulis Futuhat al-Makkiyah, namun tak ada salahnya saya mengutip lagi isi buku Walsch, ketika “Tuhan” berkata: “Aku bicara kepada setiap orang. Pada setiap waktu. Masalahnya bukan kepada siapa Aku bicara, tetapi siapa yang mau mendengarkan?”

Armidale, 10 Februari 1998.

Posting Dialog Dengan Tuhan? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Dan Sulaiman pun Tertawa…

Siapa yang tak tahu semut? Binatang ini kecil dan suka yang manis-manis. Tapi Allah mengangkat derajat mereka begitu tinggi sampai-sampai Allah menamakan salah satu surat dalam al-Qur’an dengan nama mereka: an-naml (semut).

Ada kisah menarik antara semut dengan Nabi Sulaiman a.s. Alkisah, ketika Sulaiman dan tentaranya (terdiri dari manusia, jin dan burung) berjalan sampai di suatu lembah, sekumpulan semut khawatir terinjak oleh bala tentara Sulaiman. Berkatalah seekor semut kepada kawannya:

“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman, dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.(QS 27: 18)

Nabi Sulaiman yang diberi kemampuan mendengar percakapan semut itu tersenyum dan tertawa karenanya. Tapi berbeda dengan kita yang menjadi sombong ketika orang-orang kecil minggir ketakutan melihat kita, Nabi Sulaiman segera berdo’a:

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Tengoklah kisah di atas dengan teliti. Bahkan seorang Nabi seperti Sulaiman pun mampu mensyukuri ni’mat hanya karena sekumpulan semut. Sekarang tengoklah diri kita, berapa banyak sepatu yang kita punya, berapa banyak pakaian yang tersimpan di lemari, berapa kali sehari kita membuka internet, berapa banyak tabungan kita di Bank, betapa empuknya kursi di ruangan kita, dan masih banyak lagi ni’mat dari Allah disekeliling kita.

Sudahkah kita mampu menjadikan benda-benda tersebut sebagai alat untuk membuat kita bersyukur pada ilahi? Lalu bagaimana caranya mensyukuri ni’mat tersebut?

Gampang saja! Anda memiliki ruang tamu yang luas, undang tetangga anda dan buatlah pengajian di rumah anda seminggu sekali. Anda memiliki mobil, ajaklah rekan sekerja anda yang naik bis kota untuk pulang-pergi ke kantor bersama-sama, anda memiliki gaji yang berlipat ganda, berikan sedikit kelebihan harta anda pada fakir miskin di sekitar lingkungan anda. Anda memiliki waktu luang dan ilmu yang banyak, mengapa tak anda kumpulkan para remaja mesjid di tempat anda untuk anda ajarkan sedikit ilmu pengetahuan. Anda memiliki baju yang banyak, coba teliti mana baju yang benar-benar anda butuhkan,lalu sisanya berikan pada panti asuhan. Dengan cara begini, setiap ni’mat yang kita peroleh mampu kita syukuri.

Ada sebuah do’a yang mirip dengan do’a Nabi Sulaiman di atas, mari kita tengadahkan tangan kita dan berdo’a :

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS 46:15)

Armidale, 2 September 1997

Posting Dan Sulaiman pun Tertawa… ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Iseng Terhadap Tuhan?

Kebakaran hutan di Kalimantan, kelaparan di Irian, kemarau panjang di Jawa, pesawat jatuh di Sumatera dan gempa bumi di Sulawesi. Adakah pulau besar yang belum tersebut? Semua pulau besar di Indonesia tertimpa sengsara. Entahlah…mungkin ini belum berakhir. Mungkin ini hanya sebagian kecil dari “tanda” yang Allah berikan kepada kita. Tetapi sebagian besar diantara kita tak menyadari datangnya “tanda” itu.

Asap Kebakaran mungkin tak masuk ke dalam kantor-kantor megah di Jakarta, tangis saudara kita yang kelaparan di Irian mungkin tak terdengar oleh para petinggi kita, bergetarnya bumi pertiwi di Sulawesi boleh jadi tak mampu menggugah kesadaran mereka, bahkan boleh jadi, sebagian pengusaha sudah siap melarikan modalnya ke luar negeri ketika Rupiah semakin terpuruk.

Barangkali kita memang terlalu sombong untuk memahami bahwa Tuhan sedang murka, barangkali kita terlalu egois untuk menyadari bahwa tak seorangpun akan dapat menolak bencana yang Allah kirimkan,boleh jadi kita akan terlambat menyadari betapa bumi Indonesia ini sudah rusak oleh tingkah laku kita. Barangkali juga kita sudah lupa bahwa negeri akherat itu Allah jadikan untuk orang-orang yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi (QS 28: 83). Tidak khawatir-kah kita kalau negeri akherat bukan milik kita?

Ketika pohon terakhir telah terbakar, ketika rumah terakhir sudah rata dengan bumi, ketika kursi empuk terakhir sudah usai diperebutkan, ketika darah terakhir sudah menetes, ketika keping rupiah terakhir sudah tak berharga lagi, ketika itu manusia baru sadar, bahwa kesombongan mereka tak enak untuk disantap.

Saya tiba-tiba teringat syair Emha Ainun Najib dalam Kado Muhammad:

“…..Tapi kita iseng terhadap sesama manusia, kita tidak serius terhadap nilai-nilai, bahkan terhadap Tuhan kita pun bersikap setengah hati!”

Saya hanya mampu berdo’a sebagaimana Allah menyuruh kita berdo’a:

“Ya Tuhan, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim.” (Qs 23: 93-94)

Armidale, 23 Oktober 1997

Posting Iseng Terhadap Tuhan? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Kejujuran

Kejujuran, betapa langkanya kata ini!

Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya denganmencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda, “katakanlah kebenaran itu walupun pahit”, sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, “andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya,” sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur’an merekam kalimat suci, “sampaikanlah amanat kepada yang berhak,” sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Karun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak berlaku jujur akan rahmat Allah.

Tengoklah diri kita sekarang….Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala tindak tanduk kita? Ketika anda terima uang sogokan sebenarnya anda telah berlaku tidak jujur. Ketika anda enggan menolong rekan anda, meskipun anda sadar anda mampu menolongnya, saat itu anda telah menodai kejujuran.

Ketika di sebuah pengajian anda ditanya jama’ah sebuah pertanyaan yang sulit, dan anda tahu bahwa anda tak mampu menjawabnya, tapi anda jawab juga dengan “putar sana-sini”, maka anda telah melanggar sebuah kejujuran (orang kini menyebutnya “kejujuran ilmiah”).

Adakah orang jujur saat ini?

Bahkan Yudhistira yang dalam kisah Mahabharata terkenal jujur pun sempat berbohong dihadapan Resi Durna saat perang Bharata Yudha. Dewa dalam kisah tersebut menghukum Yudhistira dengan membenamkan roda keretanya ke dalam tanah beberapa senti. Anda boleh tak percaya cerita Mahabharata ini, tapi jangan bilang bahwa anda meragukan Allah mampu menghukum kita akibat ketidakjujuran kita dengan lebih dahsyat lagi. Kalau Dewa mampu menghukum Yudhistiraseperti itu, jangan-jangan Allah akan membenamkan seluruh yang kita banggakan ke dalam tanah hanya dalam kejapan mata saja.

Guru saya pernah bercerita ketika ada orang yg baru masuk Islam bertanya kepada Rasul bahwa ia belum mampu untuk mengikuti gerakan sholat dan kewajiban lainnya, konon, Rasul hanya memintanya untuk berlaku jujur. Ketika ada seorang warga negara Inggris yang masuk Islam, dan belum bisa sholat serta puasa, saya minta dia untuk berlaku jujur saja dahulu. Orang asing itu terperanjat. Boleh jadi dia kaget bahwa betapa Islam memandang tinggi nilai kejujuran. Kini, saya yang terperanjat dan terkaget-kaget menyaksikan perilaku kita semua yang sudah bisa sholat dan puasa namun tidak mampu berlaku jujur.

Duh Gusti….betapa jauh perilaku kami dari contoh yang diberikan Nabi-Mu…

Posting Kejujuran ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Shalatnya Jomblo

Shalatnya Jomblo

‎1. ركعتان من المتزوج أفضل من سبعين ركعة من الأعزب.
‎ Shalat dua rakaat dari orang yang
‎menikah lebih utama dari 70 rakaat dari orang yg masih jomblo. Bagaimana kedudukan hadits ini? Sahihkah? Para jomblo, simak yuk 🙏😊

2. Kalau hadits ini sahih, merana sekali jomblo itu. Shalat yg dilakukan para jomblo kalah nilainya dari shalat yg dilakukan oleh mereka yg sudah laku, maaf maksudnya yang sudah menikah. Perbandingannya 2 rakaat dg 70 rakaat.Tapi benarkah hadits ini sahih?

3. Dalam sanad hadits ini terdapat rawi yg bernama Majasyi bin amru. Menurut Ibn Ma’in, dia pendusta. Ibn Hibban mengatakan dia bahkan pemalsu hadits. Ibn Hajar mengatakan hadits ini munkar.

4. Jadi, para jomblo jgn emosi dulu. Kedudukan hadits ini ternyata tidak sahih, bahkan masuk kategori munkar dan ada juga yg blg palsu. Nilai shalat kita tdk ditentukan oleh status sdh menikah atau msh jomblo. Hanya memang sih kalau sdh menikah shalatnya bisa lebih fokus 🙏😊

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Shalatnya Jomblo ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico