Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama. Namun apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama berbeda pandangan. MUI mengatakan: Iya, termasuk riba. Namun para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) mengatakan tidak. Mufti Taqi Usmani dari Pakistan mengatakan Iya. Namun Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir mengatakan Tidak. Syekh Wahbah az-Zuhaili mengatakan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) mengatakan Tidak

Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional.

Sampai sini, sudah jelas yah? Gak usah ribut. Ini perkara khilafiyah

Namun belakangan ini beredar meme/gambar sampai baliho/spanduk yang mengutip hadits Nabi yang mengatakan 1 dirham riba lebih besar dosanya dari perbuatan zina sebanyak 36 kali. Bahkan ada hadits yang lebih serem lagi: Riba memiliki 72 pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung.

Mari kita bahas sanad dan matan kedua hadits di atas. Sahihkah haditsnya?

Hadits dengan redaksi yang mirip banyak diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan: Abu Hurairah, Ibn Mas’ud, dan Siti Aisyah. Para ulama sudah membahasnya dan mereka berselisih mengenai sahih atau tidaknya hadits-hadits tersebut. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak mengatakan haditsnya sahih sesuai kriteria Bukhari-Muslim. Namun ulama lain mengatakan tidak sahih.

Hasil pelacakan saya, hadits seputar dosa riba yang melebihi dosa perbuatan zina itu sanadnya lemah dan matannya mungkar. Ini alasannya:

1. Ibn al-Jauzi menjelaskan kedhaifan riwayat-riwayat hadits semacam ini dalam kitabnya al-Maudhu’at (juz 2, halaman 247):

ليس في هذه الاحاديث شئ صحيح

Gak ada satupun yang sahih dalam kumpulan hadits seputar masalah ini.’

Ibn Al-Jauzi mengutip bagaimana Imam Bukhari mengomentari sejumlah perawi hadits yang bermasalah

Abu Mujahid: haditsnya munkar.

Thalhah bin Zaid: munkar.

Jadi bagaimana mungkin dikatakan haditsnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim?

2. Syaikh Abdur Rahman al-Mu’alimi al-Yamani ketika mentahqiq kitab al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (juz 1, halaman 150) menulis:

والذي يظهر لي أن الخبر لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم البتة

yang jelas tampak bagiku bahwa khabar (seputar topik ini) tidak benar sama sekali berasal dari Nabi SAW.

3. Ahli hadits lainnya Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab Ghauts al-Makdud bi Takhrij al-Muntaqa Libnil Jarud membuat kesimpulan

‎أن الحديث لا يمكن نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، لا تصحيحاً ولا تحسيناً ، وأحسن أحواله أن يكون ضعيفا ، وعندي أنه باطل ، وفي متنه اضطراب كثير

Hadits semacam ini tidak mungkin dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, statusnya tidak sahih dan juga tidak hasan. Paling banter dikatakan dha’if. Tapi buat saya haditsnya batil, dan di matan (teks)nya terdapat perbedaan redaksi yang banyak (mudtarib).”

4. Terakhir, Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melakukan riset tentang hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan:

لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا

Tidak satupun hadits yang marfu’ bersambung kepada Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”.

Jadi, dari segi sanad, hadits seputar topik ini dianggap lemah, batil, dan tidak sampai ke Nabi, oleh para ulama hadits di atas.

Dari sisi teks atau matan, hadits seputar ini juga bermasalah. Perbuatan zina itu termasuk dalam hal jinayat (pidana Islam). Sedangkan riba itu tidak termasuk dalam jinayat. Bagaimana mungkin dosa riba melebihi dosa perbuatan zina, apalagi dikaitkan dengan melebihi dosa menzinahi ibu kandung. 36 kali dosanya lebih besar. Jadi bagaimana hukuman cambuknya? 36 dikali 100 cambuk? Tidak masuk akal.

Karena itu kesimpulan saya hadits-hadits seputar masalah ini tidak bisa dijadikan pegangan kita. Wa Allahu a’lam

Tabik,

Nadirsyah Hosen

 

Posting Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir – Batin

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” – (QS. Al-Imran: 133-134)

Mohon maaf lahir – batin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan suci Ramadhan, menyucikan hati dan pikiran, serta memberi kita ampunan dan rahmat, dari kemahapemurahan dan keagunganNya.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir – Batin ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Memahami Pesan Rahmah KH Yahya Cholil Staquf

Sisi lain. Dari sudut pandang yg berbeda.

Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sbg pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yg memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri Islam terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!

Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yg bisa dimainkan oleh Kiai, NU dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yg melampaui keadilan yg diperebutkan dan perdamaian yg dipertarungkan, yaitu pesan Rahmah.

Rahmah tidak hanya menuntut tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yg bertikai.

Betapa sering kita menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa Rahmah, kita hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yg menohok.

Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah anda jg memberi keadilan pada pihak lain.

Pahamkah anda apa yg dituju Kiai Yahya?

Pesan Rahmah disampaikan dg cara yg Rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yg bertikai, tapi semua yg paham bisa merasakan pembelaan yg jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah Rahmah!

‘I stand with palestine’ dimaknai lewat pesan Rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri” karena pesan Rahmah disampaikan dg kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina bukan krn membenci Israel, tapi karena perwujudan Rahmah. Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!

Dunia telah melihat seorang Kiai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerussalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep Rahmah yg merangkul, bukan memukul.

Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit

Peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus utk menyampaikan pesan Rahmah. Sebelumnya Kiai Yahya sdh ke gedung putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerussalem, tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia.

Anda boleh tidak setuju dg apa yg dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan Rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi ada di sana saat pesan Rahmah itu diucapkan Kiai Yahya.

“Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

Setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan Rahmah yg telah diajarkan Nabi, sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad.

Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU dan Indonesia.

Pesan langit sdh disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sdh beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yg paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bershalawat pada Kanjeng Nabi.

Mari kita terus sampaikan pesan Rahmah ini

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia – New Zealand

Posting Memahami Pesan Rahmah KH Yahya Cholil Staquf ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Ketika Rasul Tidak Jadi Membocorkan Waktu Pasti Lailatul Qadar

Ternyata Rasulullah SAW pernah hendak memberitahu para sahabat beliau akan kepastian waktu datangnya lailatul qadar pada malam yang keberapa, namun ternyata ada peristiwa yang menghalangi ‘bocoran’ itu terjadi.

Simak yuk tulisan saya ini yang berdasarkan kitab hadits Sahih Bukhari, dengan mengikuti penjelasan syarh hadits oleh Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari.

Selamat menyimak 🙏

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Ketika Rasul Tidak Jadi Membocorkan Waktu Pasti Lailatul Qadar ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Rumi dan Taman Bunga: Bekal untuk Mudik

Selain ayat yang tertulis di dalam kitab suci, ayat Allah juga terbentang di alam semesta. Inilah ayat kauniyah. Bagaimana Maulana Jalaluddin Rumi mengajari muridnya akan lukisan ayat ilahi dalam semesta? Apa bekal yang bisa kita ambil untuk perjalanan mudik kita dari tamsil yang disampaikan Rumi?

Simak yuk selengkapnya tulisan saya ini.

Posting Rumi dan Taman Bunga: Bekal untuk Mudik ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Bid’ahkah Mudik?

“Rasulullah saat Idul Fitri gak pernah mudik ke kampung halamannya di Mekkah. Kok sampean malah rame-rame mudik sih?”

“Rasulullah itu progresif bergerak ke depan. Makanya Rasulullah itu hijrah. Bukannya malah mudik pulang kampung.”

“Gak ada dalilnya buat mudik tauuuu.
Jadi sampean macet berjam-jam itu hanya nambah-nambah dosa saja. Ingat setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

“Mudik itu bagian dari Islam Nusantara. Apa lagi itu? Rasul gak kenal sama mudik atau Islam Nusantara tauuuu”

Nah, sampean tahu sekarang gimana rasanya gak bisa mudik kan? Emang enakkkk? Bisanya cuma nyinyir kayak gini kan? Hahahhaha

Bros n Sis, selamat mudik yahhh….jangan dengerin orang yg bilang mudik itu bid’ah. Dia mau hijrah, ya monggo. Sampean mau mudik, ya monggo. #AkuKuat kok utk gak mudik *sambil peres-peres dan jemur hape*

Semoga semuanya selamat sampai di kampung halaman, dan salam hangat saya untuk keluarga anda yah 🙏😊

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Bid’ahkah Mudik? ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Tanda Bertanya – Saat Menjawab

Tanya: Gus, apa tandanya Allah telah mengampuni dosa saya?

Jawab: saat kita lebih senang mengulangi bacaan istighfar, ketimbang mengulangi dosa kita.

**

Tanya: Gus, apa tandanya Allah menyayangi saya?

Jawab: saat kita masih menyayangi sesama itu artinya Allah pun sayang kepada kita.

**

Tanya: Gus, apa tandanya doa kita diterima Allah?

Jawab: saat apa yang kita persembahkan melebihi apa yang kita minta.

**

Tanya: Gus, apa tandanya Allah menerima amal ibadah kita?

Jawab: saat kita lebih mencintaiNya ketimbang diri, keluarga, jabatan dan semua yang kita miliki, termasuk amal ibadah kita.

**

Tanya: Gus, apa tandanya puasa generasi milenial diterima Allah?

Jawab: saat tak ada lagi ujaran kebencian dan hoax di status medsos dan group wa.

**

Tanya: Gus, ngomong-ngomong puasa di Australia sampai berapa lama?

Jawab: sampai maghrib saja kok 😊

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Tanda Bertanya – Saat Menjawab ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.

Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.

Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:

‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق

Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?

Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.

Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:

Versi pertama;

Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”

Versi kedua:

Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.

Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?

Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.

Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.

Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.

Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.

Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.

Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.

Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.

Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 🙏

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Ps.

Keterangan foto: bersama Syekh Ibrahim al-Shafie, keturunan Imam Syafi’i.

 

Posting Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Kisah Kiai Tua dan Kiai Muda (5): Binatang Buas

Kali ini Kiai Tua dan Kiai Muda berjalan menuju masjid untuk tarawih bersama penduduk kampung yang kebetulan mereka lewati dalam perjalanan mereka. Sambil berjalan, Kiai Tua bercerita: ‘Dulu aku ngaji kitab ihya dan merasa sudah paham ketika Imam al-Ghazali membagi tingkatan puasa ke dalam 3 tingkat. Ternyata hingga kini aku masih berusaha memahaminya.”

Kiai Muda menyimak penjelasan Kiai Tua yang nadanya datar namun seringkali berbelok menohok di ujung penjelasannya —persis emak-emak yang kasih sen kiri, tapi malah membelokkan motornya ke arah kanan.

Kiai Tua melanjutkan: “Tingkatan puasa awam, puasa orang khawas, dan puasa orang yang khawasul khawas. Kalau yang awam itu cuma puasa menahan lapar dan dahaga saja. Kayak kamu kali yah?” Sergah Kiai Tua kepada Kiai Muda.

“Duh, mulai deh nih,” kata Kiai Muda membatin dalam hatinya.

“Hahahaha, jangan tersinggung dulu,” Kiai Tua tertawa kecil menahan geli melihat perubahan wajah Kiai Muda.

“Aku cuma mau ingetin kamu aja. Kalau kamu kuat puasa menahan lapar dan dahaga, tahukah kamu kalau unta itu lebih kuat lagi gak makan dan gak minum berbulan-bulan di padang pasir sambil mengangkat beban berat. Jadi jangan bangga kalau puasamu itu cuma menahan lapar dan dahaga saja. Unta juga bisa, malah lebih hebat lagi!”

Kiai Muda semakin merah mukanya.

“Masak kamu mau disamakan dengan unta.”

“Ah Pak Yai ini ada-ada saja. Saya manusia kok disamakan dengan unta.”

“Lho, kamu gak paham bahwa banyak manusia yang seperti binatang, nanti aku tunjukkan.”

Kiai Muda garuk-garuk kepala. “Terus puasa yang orang khawasul khawas itu kayak apa sih?”

“Puasa yang mempuasakan panca inderanya. Ini puasa yang membawa kita kepada takwa, bukan sekedar jadi unta,” jawab Kiai Tua sambil melangkah mengarah ke tempat air wudhu di samping masjid.

Kiai Muda membatin, “Duh, balik ke unta lagi!”

Di dalam masjid, selepas shalat Isya dan Tarawih, kedua Kiai ini duduk mendengarkan taushiyah. Kiai Muda berbisik: “Kalau sudah bisa puasa yang mempuasakan seluruh panca indera, apa yang Pak Yai lihat? Apa Pak Yai?”

Kiai Tua menjawab pelan, “Saya bisa melihat unta dimana-mana.”

Kiai Muda geleng-geleng kepala. “Ini orang tua sibuk bermain kata-kata saja dari tadi, lagi jatuh cinta sama unta kayaknya nih,” sekali lagi ia membatin.

Tiba-tiba Kiai Tua usapkan tangannya ke wajah Kiai Muda. Dalam hitungan detik, tubuh Kiai Muda bergetar dan keringat menetes, lantas matanya melihat sekeliling. Yang ia lihat jamaah masjid berubah menjadi sejumlah unta, ular, tikus, bahkan ketika ia melihat ke mimbar masjid, yang ia lihat bukan lagi penceramah tapi monyet.

Belum sepenuhnya sadar apa yang tengah terjadi, sekali lagi Kiai Tua usapkan tangannya ke muka Kiai Muda, dan penglihatan Kiai Muda kembali menjadi normal. Tak ada binatang apapun di masjid. Semuanya kembali terlihat normal.

“Pak Yai, apa yang terjadi?”

“Psst! Sudah diam, kita dengarkan taushiyah sampai selesai.”

**

Selesai ibadah di masjid, jamaah masing-masing bubar. Yang tersisa hanya Kiai Tua dan Kiai Muda. Mereka i’tikaf.

“Bagaimana? Sudah melihat unta? Bahkan kamu lihat binatang lainnya kan?”

“Iya, Pak Yai.”

“Kamu mau melihat lagi?”

“Mau, Pak Yai. Saya belum paham tadi. Tapi jamaah sudah bubar, tinggal kita berdua di sini. Apa masih ada unta di sini?” Jawab Kiai Muda sambil senyum.

“Buka bajumu, dan ambil sikap semadi. Ingat, semadi itu dari ash-Shamad. Allahu ash-Shamad. Allah tempat meminta. Heninglah, dan pegang ini spidol warna merah dan hitam. Setiap melihat binatang, kamu coret binatang itu dengan spidol yang ada di kedua tanganmu ini.”

Kiai Muda mematuhi dan duduk bersila sambil berkonsentrasi. Sekali lagi, Kiai Tua mengusap muka Kiai Muda. Terjadilah kembali hal yang aneh; tubuh yang bergetar dan udara seolah sangat panas menyengat, hingga keringat menetes di kening Kiai Muda.

Tiba-tiba Kiai Muda melihat Srigala, Ular Kobra, bahkan Harimau, dan berbagai binatang buas lainnya berkeliling disekitarnya. Sesuai pesan Pak Yai, sedapat mungkin ia gunakan spidol menandai anggota tubuh binatang buas itu.

Kiai Tua mengusap wajah Kiai Muda sekali lagi. Maka situasi kembali normal.

“Apa yang kamu lihat?”

“Pak Yai, saya melihat banyak sekali binatang buas di sini. Padahal tidak ada jamaah, cuma kita berdua di sini.”

“Sudah kamu tandai dengan spidol?”

“Sudah Pak Yai.”

Kiai Tua lantas menjelaskan, “Kalau tadi sebelumnya kamu lihat jamaah masjid yang berubah menjadi binatang, itu karena aku tunjukkan padamu bagaimana nafsu kebinatangan mereka tidak hilang di bulan puasa, bahkan mereka bawa sampai ke masjid.”

Kiai Muda mengangguk-angguk.

“Kalau binatang buas yang tadi saya lihat?” tanya Kiai Muda.

“Itu justru nafsu binatang buas dari tubuhmu sendiri yang kamu lihat!”

“Hah? Kok bisa gitu?” Kiai Muda terlonjak kaget.

“Lihat ke cermin, wajah dan tubuh serta tangan dan kakimu penuh dengan coretan spidol. Yang tadi kau tandai itu adalah binatang buas dalam dirimu sendiri.”

Baru sadarlah Kiai Muda melihat tangan dan tubuhnya yang penuh coretan spidol.

“Puasa kok bawa binatang buas kemana-mana. Puasamu masih puasa awam!” Ujar Kiai Tua sambil tersenyum lembut.

Kiai Muda tak sanggup menahan air matanya dan tubuhnya bersujud, terdengar suaranya tercekat, “Ampuni hamba, Ya Allah…..ampuni hamba yang masih belum sanggup mempuasakan nafsu diri hamba.”

Tabik,

Nadirsyah Hosen
(Hanya cintaMu yang sanggup menjinakkan kebuasan nafsu binatang di diri kami)

Posting Kisah Kiai Tua dan Kiai Muda (5): Binatang Buas ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Sayyidah Nafisah: Perempuan Suci yang Ilmuwan

Ini kisah tentang perempuan suci, cicit dari Nabi Muhammad Saw. Ia juga seorang ilmuwan terkemuka di masanya, sehingga Imam Syafi’i pun berguru padanya. Sayyidah Nafisah (145 H -208 H), itulah namanya. Makamnya di Cairo, Mesir, sampai sekarang masih dipenuhi para peziarah.

Di luar masjid Sayyidah Nafisah, dijual buku yang mengupas biografi perempuan yang disebut-sebut sebagai sumber pengetahuan keislaman yang berharga (Nafisah al-‘Ilm), pemberani, sekaligus ‘abidah zahidah (tekun menjalani ritual dan asketis). Bahkan, sebagian orang mengatagorikannya sebagai wali perempuan dengan sejumlah keramat.

Sejak kecil, Sayyidah Nafisah sudah hafal al-Qur’an dan setiap selesai membaca al-Qur’an beliau selalu berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim”. Ia memahami bahwa Nabi Ibrahim adalah bapak moneteisme sejati, sekalligus bapak Nabi Muhammad lewat jalur Nabi Ismail yang notabene keturunan Nabi Ibrahim. Sedangkan Sayyidah Nafisah sendiri adalah keturunan dari Nabi Muhammad.

Dengan mengunjungi makam Nabi Ibrahim, boleh jadi ia berharap menarik benang merah perjuangan para leluhurnya. Ketika Allah mengabulkan doanya dan ia bisa berziarah ke makam kakek moyangnya, Nabi Ibrahim, terjadilah peristiwa spiritual (yang sebaiknya tidak perlu diceritakan di sini).

Ketika ia berusia 44 tahun, ia tiba di Cairo pada 26 Ramadan 193 H. Kabar kedatangan perempuan yang luar biasa ini telah menyebar luas. Ia pun disambut oleh pebduduk Cairo yang merasa bersyukur didatangi oleh Sayyidah Nafisah. Ratusan orang tiap hari datang hendak menemuinya. Dari mulai berkonsultasi, meminta doa ataupun mendengar nasihat dan ilmu darinya.

Bahkan, dikabarkan banyak yang sampai camping bermalam di luar kediamannya, menunggu kesempatan untuk bisa bertemu. Lambat laun, Sayyidah Nafisah merasa waktunya tersita melayani ummat. Ia memutuskan untuk meninggalkan Cairo dan kembali ke Madinah agar bisa berdekatan dengan makam kakeknya, Nabi Muhammad Saw.

Tapi, penduduk Cairo keberatan dan memelas agar Sayyidah Nafisah membatalkan keputusannya untuk mudik ke Madinah. Gubernur Mesir turun tangan. Ia melobby Sayyidah Nafisah untuk bertahan di Cairo. Gubernur menyediakan tempat yang lebih besar baginya, sehingga kediamannya bisa
menampung umat lebih banyak. Gubernur juga menyarankan agar ia menerima umat hanya pada hari Rabu dan Sabtu saja. Di luar waktu itu, ia bisa kembali berkhalwat beribadah menyendiri.

Gubernur menunggu beberapa saat. Sementara Sayyidah Nafisah terlihat diam, menunggu petunjuk Allah. Akhirnya, setelah mendapat izinNya, ia pun menerima tawaran Gubernur dan memutuskan tinggal di Cairo sampai ajal menjemputnya.

Sebelum tiba di Mesir, Imam al-Syafi’i sudah lama mendengar ketokohan perempuan ulama ini dan mendengar pula bahwa banyak ulama yang datang ke rumahnya untuk
mendengarkan pengajian dan ceramahnya. Al-Syafi’i datang ke kota ini lima tahun sesudah Sayidah Nafisah.

Beberapa waktu kemudian, al-Syafi’i meminta bertemu dengannya di rumahnya. Sayidah Nafisah menyambutnya dengan seluruh kehangatan dan kegembiraan. Perjumpaan itu dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang sering. Masing-masing saling mengagumi tingkat kesarjanaan dan intelektualitasnya.

Bila al-Syafi’i berangkat untuk mengajar di masjidnya di Fustat, ia mampir ke rumahnya. Begitu juga ketika pulang kembali ke rumahnya. Dikabarkan bahwa al-Syafi’i adalah ulama yang paling sering bersama Sayyidah Nafisah dan mengaji kepadanya, justru dalam status Imam al-Syafi’i sebagai tokoh besar dalam bidang usul al-fiqh dan fiqh.

Kita tahu bahwa sebelum datang ke Mesir, Imam al-Syafi’i sudah terlebih dahulu terkenal dan harum namanya di Baghdad. Fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i di Baghdad dikenal sebagai ‘qaul qadim’, sedangkan fatwa beliau di Cairo dikategorikan sebagai ‘qaul jadid’. Pada Ramadan, al-Syafi’i juga sering shalat Tarawih bersama Sayyidah Nafisah di masjid ulama perempuan ini.

Begitulah kedekatan kedua orang hebat ini. Manakala Imam al-Syafi’i sakit, ia mengutus sahabatnya untuk meminta Sayidah Nafisah mendoakan bagi kesembuhannya. Begitu sahabatnya kembali, sang Imam tampak sudah sembuh. Ketika dalam beberapa waktu kemudian al-Syafi’i sakit parah, sahabat tersebut dimintanya kembali menemui Sayyidah Nafisah untuk keperluan yang sama, meminta didoakan.

Kali ini, Sayyidah Nafisah hanya mengatakan, “Matta’ahu Allah bi al-Nazhr Ila Wajhih al-Karim” (Semoga Allah memberinya kegembiraan ketika berjumpa denganNya). Mendengar ucapan sahabat sekaligus gurunya itu, al-Syafi’i segera paham bahwa waktunya sudah akan tiba.

Al-Imam kemudian berwasiat kepada murid utamanya, al-Buwaithi, meminta agar Sayyidah Nafisah menyalati jenazahnya jika kelak dirinya wafat. Ketika al-Syafi’i kemudian wafat, jenazahnya dibawa ke rumah sang ulama perempuan tersebut untuk dishalatkan.

Menurut KH. Husein Muhammad, di antara nasihat Sayyidah Nafisah kepada para muridnya adalah:

1. Jika kalian ingin berkecukupan, tidak menjadi miskin, bacalah QS. al-Waqi’ah [56].

2. Jika kalian ingin tetap dalam keimanan Islam, bacalah QS. al-Mulk [67].

3. Jika kalian ingin tidak kehausan pada hari dikumpulkan di akhirat, bacalah QS. al-Fatihah [1].

4. Jika kalian ingin minum air telaga Nabi di akhirat, maka bacalah QS. al-Kautsar [108].

Sayyidah Nafisah adalah fakta sejarah bahwa seorang perempuan bisa menjadi seorang ulama tersohor, bahkan menjadi guru bagi seorang Imam Syafi’i. Kita merindukan munculnya Sayyidah Nafisah berikutnya di dunia Islam.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Keterangan foto:

di makam Sayyyidah Nafisah, Cairo, 2012.

وَهَـٰذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ ﴿١٢٦) لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِندَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٢٧﴾

Ya Sayyidati…
Ya Sayyidati…
Ya Sayyidati…

 

Posting Sayyidah Nafisah: Perempuan Suci yang Ilmuwan ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Insya Allah

Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan.” Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja “kegagalan” ini menjadi cemoohan kaum kafir.

Saat itulah turun ayat menegur Nabi, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS 18: 24)

Kata “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata “insya Allah” menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata “insya Allah” sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata “Insya Allah” bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata “Insya Allah”. Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata “insya Allah” keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan “insya Allah”, lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna “insya Allah”.

Armidale, 3 Juni 1998.

Posting Insya Allah ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Kasih Sayang Ilahi

Ibrahim bin Adham , seorang alim yang hidup di abad ke-8, seperti diceritakan dalam salah satu tulisan Goenawan Moehamad, suatu saat bertawaf mengelilingi Ka’bah. Malam gelap, hujan deras, guntur gemuruh. Ketika Ibrahim berada di depan pintu Ka’bah, ia berdo’a, “Ya Tuhanku, lindungilah diriku dari perbuatan dosa terhadap-Mu.”

Konon, ada suara yang menjawab, “Ya Ibrahim, kau minta pada-Ku untuk melindungimu dari dosa, dan semua hamba-Ku juga berdo’a serupa itu. Jika Kukabulkan doa kalian, kepada siapa gerangan nanti akan Kutunjukkan rasa belas-Ku dan kepada siapa akan Kuberikan ampunan-Ku?”

Kisah pendek ini entah benar-benar terjadi atau tidak, namun kisah ini memberikan arti panjang bagi kita dalam memandang makna sebuah dosa dan hubungannya dengan kasih sayang Ilahi. Dosa diciptakan oleh Allah sebagaimana Dzat Yang Maha Agung ini menciptakan pahala. Tentu saja sebagaimana ciptaan-Nya yang lain, dosa pun memiliki peran dan hikmah tersendiri.

Dengan adanya dosa, kita jadi tahu ada yang namanya pahala. Dalam lorong yang hitam kita bisa melihat cahaya. Dalam gelap kita jadi tahu apa arti sebuah mentari. Walhasil, dosa memang harus kita jauhi namun juga harus kita pikirkan keberadaannya.

Semoga dengan melihat bahwa dosa pun dapat menjadi alat Allah untuk menunjukkan kasih sayang-Nya, kita mampu lebih memahami hadis Nabi, “Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik agar perbuatan baik itu menghapusnya.”

Kita percaya bahwa ampunan Allah lebih luas dari murka-Nya. Jika Allah yang Gagah Perkasa saja masih bersedia memaafkan hamba-Nya dan menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita semua, mengapa kita tak mau memaafkan kesalahan orang lain kepada kita? Mengapa tak kita serap sifat Rahman dan Rahim-Nya sebagaimana selalu kita baca dalam Bismillah ar-Rahman ar-Rahim?

Ketika saya menghadap Kepala Sekolah sewaktu di Madrasah Aliyah seraya meminta maaf atas perilaku jelek saya. Kepala Sekolah yang sekarang sudah almarhum itu menjawab, “Umar bin Khattab pernah mengubur anaknya hidup-hidup, dia bertobat dan Allah memaafkannya. Apakah kesalahan kamu sudah lebih besar dari perilaku Umar itu sampai saya tak berkenan memaafkan kamu?” Saya merinding mendengar jawaban itu. Saya pun masih merinding saat mengingat betapa pemurahnya guru saya itu. Guru saya tersebut sudah mampu menjadikan kesalahan saya sebagai alat untuk menunjukkan kasih sayangnya.

al-Haq min Allah!

Posting Kasih Sayang Ilahi ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

10 Point Fenomena Hijrah di Kalangan Artis

1. Kalau hijrah itu dianggap pindah menuju sesuatu yg lebih baik, maka ujung dari hijrah itu apa? Dulu Nabi hijrah ke Madinah utk membentuk masyarakat madani berlandaskan nilai etis. Skr hijrah secara individual tujuan akhirnya kemana? Harus menjadi pribadi yg berakhlak mulia.

2. Apakah org bercadar akhlaknya akan lebih baik dari org yg berjilbab? Belum tentu. Sebaliknya, belum tentu pula yg tidak bercadar akhlaknya lebih mulia dr yg bercadar. Kita hormati saja pilihan masing2 selama pakaian yg kita pakai itu tdk membuat kita mrs lebih mulia dr yg lain.

3. Ber-Islam itu sebuah proses. Lintasan hidup ini panjang dan babak finalnya nanti di akherat, bukan di dunia. Ada yg alim dan saleh/ah, tapi siapa yg bisa menjamin amalannya pasti diterima Allah dan kelak dia akan wafat dlm keadaan husnul khatimah?

4. Begitupula sebaliknya dg para pendosa. Apakah selamanya mrk akan melakukan perbuatan dosa terus? Boleh jadi ada momen dia bertobat dan Allah siapa tahu berkenan mengampuninya. Siapa kita mau menghakimi nasib mereka kelak di akherat?

5. Maka hijrah pun jangan dimaknai sebagai hasil akhir. Ketika Rasul berhijrah pun ternyata sekitar 10 tahun, beliau dan para sahabatnya menghadapi tantangan dan ujian yg luar biasa. Hijrah itu satu hal. Tapi istiqamah dalam berhijrah itu jg tdk mudah.

6. Tantangan mereka yg selama ini melakukan hijrah adalah melakukan lompatan dari titik ekstrem ke titik ekstrem berikutnya. Saya menyarankan utk pelan-pelan dan bertahap seraya menuntut ilmu. Islam itu sesuai dg fitrah kemanusiaan kita. Gak bisa serba instant.

7. Jangan sampai hijrah hanya jadi trend populer saja. Misalnya, para artis yg hijrah itu bagus, tapi jgn sampai itu hanya jadi “panggung” mereka berikutnya. Semula dari panggung sinetron dan musik, skr jadi panggung dakwah.

8. Makanya Rasul pun mengingatkan dalam hadits terkenal saat hijrah, yaitu setiap amal tergantung niatnya. Anda mau hijrah niatnya apa? Apa nyari panggung dakwah yg lg trend karena gak laku lagi di panggung yg lama? Sdh sampai mana kapasitas ilmu & pribadi sampai berani dakwah?

9. Luruskan niat saat mau hijrah. Teruslah belajar. Perbaiki diri kita. Ujungnya adalah akhlak yg mulia, bukan sekedar berubah tampilan, atau asyik pindah ke panggung dakwah yg ujungnya nyari duit juga. Saya tdk menuduh, hanya sekedar memberi ‘warning’ 🙏

10. Kesimpulannya: hijrah sesuatu yg baik dan bagian dlm proses kita ber-Islam. Tapi harus dilakukan dg niat yg bersih, tahap demi tahap seraya menuntut ilmu biar tdk kagetan, serta tdk merasa lebih baik dr yg lain, dan ujungnya itu akhlak mulia, bukan sekedar berubah tampilan 🙏

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia – New Zealand

Posting 10 Point Fenomena Hijrah di Kalangan Artis ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Jalan Bertemu Allah dan Bidadari

Satu keluarga yang hampir saban hari hadir di masjid dan tampil bak orang baik hati, saleh dan religius, akhirnya meledakkan bom bunuh diri di depan rumah ibadah umat Kristiani di Surabaya. 13.05.2018. Tubuh mereka hancur lebur berantakan.

Konon aksi itu disebut oleh para pengagumnya sebagai “Istisyhad”, ingin menjadi “Syahid” (pahlawan, martir). Mereka menolak sebutan “Intihar” (bunuh diri). Karena mereka tahu Intihar itu dosa besar dan masuk neraka. Sedangkan Istisyhad dijamin masuk sorga langsung tanpa melalui proses pemeriksaan amal (bi Ghair hisab).

Keluarga itu tampaknya sangat yakin bahwa “Istisyhad” itulah cara tercepat dan terbaik untuk masuk sorga dan kelak akan berada di samping Tuhan. Mereka juga yakin mati dengan cara itu kelak akan mengantarkannya bertemu dan berkumpul dengan para bidadari dan “bidadara-bidadara” yang ganteng-ganteng dan perkasa-perkasa. Al-Qur’an menggambarkan para bidadari ini : “Hurin ‘In. Ka Amtsal Lu’lu al-Maknun” (perempuan-perempuan yang bermata tajam nan lebar. Kebeningan dan keanggunannya bagaikan mutiara yang tersimpan). Kata orang “tatapan mata bidadari itu bersinar yang dapat menembus dan menggetarkan jantung yang ditatapnya”. Agaknya mereka sangat merindukan perjumpaan itu.

Para ahli agama dari semua agama dan berjuta-juta orang yang berpikiran sehat tidak mengerti akan keyakinan ini. Akal pikiran waras menjadi buntu. Menurut mereka bom bunuh diri itu merupakan sikap dan ekspresi putus asa para pelakunya menghadapi kehidupan ini. Para pelaku itu tidak bersyukur atas karunia Allah yang berlimpah-ruah itu. Mereka “kafir”, mengingkari nikmat Allah.

Bertolak belakang dari pandangan mereka, para bijakbestari dan para ulama besar mengajarkan kepada kita tentang jalan yang terbaik, dan yang termudah menuju Allah. Jalan itu ialah memberikan kegembiraan kepada orang lain.

Sufi besar Abu Sa’id Ibn Abi al-Khair (w. 1049) ditanya para santrinya : “Ada berapakah jalan manusia menuju Tuhan?, dia menjawab:

“فى رواية اكثر من الف طريق. وفى راواية أخرى الطريق الى الحق بعدد ذرات الموجودات. ولكن ليس هناك طريق اقرب وافضل واسرع من العمل على راحة شخص.وقد سرت فى هذا الطريق وانى اوصى الجميع به”

“Menurut sebuah riwayat, ada seribu jalan, menurut riwayat yang lain, jalan itu sebanyak partikel atom yang ada di alam semesta ini, tetapi jalan yang terpendek, terbaik dan termudah menuju Dia adalah memberi kenyamanan kepada orang lain. Aku sendiri menempuh jalan ini dan aku berpesan kalian semua menempuh jalan ini juga”. (Asrar al Tauhid fi Maqaamaat Abi Sa’id, h. 327).

IAIN SNJ, Crb. 19.05.18

The post Jalan Bertemu Allah dan Bidadari appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico