Jalan Bertemu Allah dan Bidadari

Satu keluarga yang hampir saban hari hadir di masjid dan tampil bak orang baik hati, saleh dan religius, akhirnya meledakkan bom bunuh diri di depan rumah ibadah umat Kristiani di Surabaya. 13.05.2018. Tubuh mereka hancur lebur berantakan.

Konon aksi itu disebut oleh para pengagumnya sebagai “Istisyhad”, ingin menjadi “Syahid” (pahlawan, martir). Mereka menolak sebutan “Intihar” (bunuh diri). Karena mereka tahu Intihar itu dosa besar dan masuk neraka. Sedangkan Istisyhad dijamin masuk sorga langsung tanpa melalui proses pemeriksaan amal (bi Ghair hisab).

Keluarga itu tampaknya sangat yakin bahwa “Istisyhad” itulah cara tercepat dan terbaik untuk masuk sorga dan kelak akan berada di samping Tuhan. Mereka juga yakin mati dengan cara itu kelak akan mengantarkannya bertemu dan berkumpul dengan para bidadari dan “bidadara-bidadara” yang ganteng-ganteng dan perkasa-perkasa. Al-Qur’an menggambarkan para bidadari ini : “Hurin ‘In. Ka Amtsal Lu’lu al-Maknun” (perempuan-perempuan yang bermata tajam nan lebar. Kebeningan dan keanggunannya bagaikan mutiara yang tersimpan). Kata orang “tatapan mata bidadari itu bersinar yang dapat menembus dan menggetarkan jantung yang ditatapnya”. Agaknya mereka sangat merindukan perjumpaan itu.

Para ahli agama dari semua agama dan berjuta-juta orang yang berpikiran sehat tidak mengerti akan keyakinan ini. Akal pikiran waras menjadi buntu. Menurut mereka bom bunuh diri itu merupakan sikap dan ekspresi putus asa para pelakunya menghadapi kehidupan ini. Para pelaku itu tidak bersyukur atas karunia Allah yang berlimpah-ruah itu. Mereka “kafir”, mengingkari nikmat Allah.

Bertolak belakang dari pandangan mereka, para bijakbestari dan para ulama besar mengajarkan kepada kita tentang jalan yang terbaik, dan yang termudah menuju Allah. Jalan itu ialah memberikan kegembiraan kepada orang lain.

Sufi besar Abu Sa’id Ibn Abi al-Khair (w. 1049) ditanya para santrinya : “Ada berapakah jalan manusia menuju Tuhan?, dia menjawab:

“فى رواية اكثر من الف طريق. وفى راواية أخرى الطريق الى الحق بعدد ذرات الموجودات. ولكن ليس هناك طريق اقرب وافضل واسرع من العمل على راحة شخص.وقد سرت فى هذا الطريق وانى اوصى الجميع به”

“Menurut sebuah riwayat, ada seribu jalan, menurut riwayat yang lain, jalan itu sebanyak partikel atom yang ada di alam semesta ini, tetapi jalan yang terpendek, terbaik dan termudah menuju Dia adalah memberi kenyamanan kepada orang lain. Aku sendiri menempuh jalan ini dan aku berpesan kalian semua menempuh jalan ini juga”. (Asrar al Tauhid fi Maqaamaat Abi Sa’id, h. 327).

IAIN SNJ, Crb. 19.05.18

The post Jalan Bertemu Allah dan Bidadari appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Berselfie Ria

Adik-adikku dan teman-temanku ramai-ramai berangkat umroh. Masing-masing bersama anak-anaknya. Sampai di Makkah dan Madinah mereka meng-upload foto dan dishare melalui medsos: Facebook, Instagram dan WA. Alhamdulillah. Nah melihat ini aku jadi ingat lagi pengalaman masa laluku saat di sana.

Tahun 1981 aku menunaikan haji pertama. Aku haji bergaya “backpacker”, bersama teman-teman dengan mengambil jalan laut. Meskipun lama tetapi mengasyikkan dan sangat mengesankan.

Aku berangkat dari pelabuhan Suez, Mesir, mengarungi laut merah yang tenang menuju pelabuhan Jeddah. Saudi Arabia. Perjalanan ditempuh selama dua malam.

Di Makkah aku ikut numpang teman mukimin. Di Syib Ali, dekat jabal Qubaisy, kira2 200 M dari Masjidil haram. Suatu hari, aku mengantar jamaah haji dari kampung ku berziarah ke jabal Tsaur, gunung tempat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy yang akan menangkap dan membunuh beliau.

Di situ, di bawah gunung itu, aku ambil kamera, lalu jeprat, jepret. Para jamaah itu tampak senang. Foto itu akan menjadi kenangan yang abadi. Tanpa diduga tiba-tiba Askar (satpol PP) mengejar dan merampas kameraku. Katanya: “Haram, haram, mamnu’ tashwir”, dilarang ambil foto. Aku bersedih hati. Hicks, Hicks. Para jemaah menyaksikan itu dan sebagian menangis.

Mengapa dirampas? Saat itu foto dilarang, haram, baik di Masjid Haram, maupun di tempat-tempat lain yang bersejarah, termasuk di jabal Abi Qubais dan rumah kelahiran yang telah menjadi perpustakaan.

Mengapa dilarang?. Kata teman-teman, menganalisis : “jika di Masjidil haram, larangan foto itu tepat, karena jika dibolehkan, nanti para jemaah haji atau umrah akan disibukkan untuk foto. Ibadah jadi terganggu, tidak khusyuk. Di samping itu Ibadah haji juga bukan piknik atau bersenang-senang.

Nah, hari ini kita menyaksikan para jemaah pada Selfi, sendiri-sendiri atau bersama-sama, berombongan, bahkan ada yang siaran langsung melalui alat komunikasi modern bikinan orang asing. Mereka berselfie ria bukan hanya di tempat-tempat bersejarah, melainkan di depan Kakbah di Makkah, dan di dekat Raudhah atau di depan pintu makam Rasulullah Saw. Askar-askar tampaknya tak lagi melarang apalagi merampas kamera. Bahkan mereka senang diajak berselfi ria. Argumentasi di atas kini telah gugur. Zaman telah berubah. Apa yang dulu dilarang (haram) sekarang menjadi boleh (halal). Kini tak terdengar lagi suara Askar (polisi): haram, haram haram. Pikiran dan pandangan konservatif akan ditinggalkan dengan sendiri. Perubahan adalah niscaya, tak bisa dihentikan. Itu hukum alam. Menghentikannya adalah kesia-siaan belaka.

The post Berselfie Ria appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Warisan

Di Konya, Anatolia, Turki, 2013, usai ziarah di Maulana Rumi, dengan jalan kaki aku menyusuri jalan cahaya menuju Syamsi Tabrizi, Darwish pengembara, sang guru Maulana. Konon ia dibaringkan di kota antik itu. Aku menemukan jejaknya di sebuah masjid mungil yang sepi dan menyimpan misteri.

Di dalam masjid itu aku berzikir menyebut Nama, mengingat, merenungkan Tuhan dan berdoa.

Sambil memandangi pusara itu aku teringat kata-katanya yang indah sekaligus menghentakkan. Kata-kata itu disampaikannya suatu hari kepada murid kesayangannya itu:

لم يكن الموت هو الذى يقلقنى . لاننى لم اكن اعتبره نهاية . بل ما كان يقلقنى هو ان أموت من دون ان أخلّف تراثا.
أريد ان انقل المعارف التى توصلت اليها الى شخص آخر . سوآء كان أستاذا ام تلميذا.

“Bukanlah kematian yang menggelisahkan jiwaku. Bagiku, ia bukanlah persinggahan terakhir. Aku gelisah manakala mati, aku tidak meninggalkan warisan ilmu pengetahuan (Ketuhanan). Aku ingin mengalihkan pengetahuan yang telah aku peroleh kepada orang lain; guru maupun muridku”. (Syams al-Tabrizi).

Ramadan, 17.05.18

The post Warisan appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub

1. Hari ke-3 puasa, sambil nyantai saya baca ulang kitab tanwirul qulub, dan saya mau sedikit share di sini. Bismillah

2. Kitab Tanwir al Qulub fi Mu’amalati Allami al-Ghuyub ini kitab yg dipelajari di pesantren di Indonesia. Penulisnya adalah Syaikh Muhammad Amin al Kurdi. Beliau dilahirkan pada paruh kedua abad ke-13 di kota Irbil, Irak.

3. Kitab ringkas ini menggabungkan 3 pembahasan sekaligus: Aqidah (3 bab), fiqh (11 bab – 94 pasal) dan tasawuf (22 pasal). Pengarangnya bermazhab Syafi’i dan tarekat naqsabandiyah. Tidak heran kitab ini dibaca dg luas tdk hanya di Indonesia tapi juga di Asia Tenggara

4. Kalau ingin tahu bagaimana pandangan tradisional para ulama di pesantren, kitab ini menjelaskannya dg baik. Saya coba ulas sedikit yah

5. Kita mulai dari halaman 39. Bagian yg saya tandai menjelaskan hal-hal yang harus diyakini oleh Muslim diantaranya mengikuti paham salafus salih (3 abad pertama dlm sejarah Islam). Pengarang kitab mengutip hadits Nabi soal 3 periode terbaik

6. Saya sendiri punya pendekatan lain mengenai hadits yg dikutip mengenai 3 periode generasi terbaik. Saya memandang hadits ini berbau “politik”. Kajiannya bisa dibaca di sini

7. Syekh Amin Al-Kurdi meneruskan di hal 40, bahwa kita juga wajib percaya kepada para Wali. Karena keberadaan awliya Allah ini sdh ditegaskan dalam al-Qur’an. Wajib pula percaya para pemimpin agama itu semuanya adil. Beliau lantas menyebut 4 imam dalam mazhab fiqh

8. Keempat Imam mazhab itu mendapat petunjuk dari Allah. Syekh Amin al-Kurdi kemudian menegaskan bahwa wajib taqlid kepada mereka dan tdk boleh mengikuti selain mereka. Pandangan ini khas pesantren tradisional NU

9. Di hal 41 beliau mengatakan sesiapa yg mengatakan terlepas dari Madzhab yang 4 serta hanya menggali langsung dari kitab al Qur’an dan Sunnah saja, maka orang tersebut tidak akan selamat, dan termasuk orang yang sesat lagi menyesatkan! Kenapa? Simak penjelasannya

10. Menurut beliau, hal itu terjadi akubat keterbatasan waktu orang sekarang dalam memahami kaidah agama. Apalagi dilihat tentang kedalaman ilmu, jelas kita tertinggal jauh jika dibandingkan ilmu para Imam Madzhab yang 4. Dan 4 Imam itu termasuk generasi salaf yg harus diikuti.

11. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik itu generasi tabi’in. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad itu generasi ketiga (tabi’ tabi’in). Para Imam mazhab itu sangat menguasai Hadits. Jadi jangan disangka mazhab mereka tdk berdasarkan hadits sahih. Simak penjelasan saya

12. Para ulama hadits yg hidupnya setelah era imam mazhab itu jg mengikuti salah satu mazhab. Lihat deh skrinsut dari website saya ini. Jadi jgn menduga karena mrk ahli hadits terus mereka tidak lagi bermazhab. Makanya anak muda yg sok2-an anti mazhab, mikir lagi deh

13. Kalau gitu bolehkah pindah mazhab? Saya punya pandangan soal ini yg pernah saya ulas di sini: Dalam soal mazhab ini saya tidak seketat pandangan Syekh Amin al-Kurdi yg mewajibkan taqlid kepada 4 mazhab saja

14. Dalam hal 41 Syekh Amin al-Kurdi jg menyebutkan bahwa boleh berbeda pendapat dalam hal cabang (furu’). Bahkan beliau bilang perbedaan pendapat di kalangan ulama itu sebua rahmat.

15. Masih di hal 41 beliau masuk ke pembahasan ilmu kalam, yaitu mengikuti Asy’ari dan Maturidi yg dalil naqli dan aqlinya sudah josss. Beliau jg singgung mengenai tasawuf dg menyebutkan sejumlah tokohnya termasuk Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani

16. Di hal 42 Syekh Amin Al-Kurdi menyebutkan hal yg menarik: mengikuti para sufi itu wajib karena mrk jg mendapat petunjuk dari Allah seperti imam 4 mazhab. Semua sufi itu ahli fiqh. Inilah pandangan ahlus sunnah wal jama’ah.

17. Demikian ngaji singkat kitab Tanwirul Qulub. Sambil nunggu azan Maghrib yg belakangan ini rasanya kok makin ngangenin yah

Posting Ngaji Singkat Kitab Tanwirul Qulub ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Bubarnya HTI dan Keputusan Pengadilan

1. #HTIBUBAR keputusan PTUN gugatan HTI atas pembubarannya telah ditolak. HTI menyatakan banding. Aneh banget. Kenapa? Pasal 83 UUD Khilafah yg ditaati HTI jelas2 mengatakan: “Tidak ada pengadilan banding tingkat pertama maupun mahkamah banding tingkat kedua (kasasi).”

2. Jadi saat HTI menyatakan banding itu sesungguhnya tidak sesuai dengan doktrin dan ajaran mereka sendiri, yang tidak mengakui sistem banding dalam peradilan. HTI menjilat ludah mereka sendiri. Gimana ini? 😊

3. Sejak awal HTI memainkan taktik kepalsuan dan kepura-puraan. Mereka anti dengan UUD 1945 dan Pancasila serta sistem demokrasi, tapi ketika dibubarkan malah menggugat ke pengadilan yg berdiri atas dasar UUD 1945. HTI kok jadi taqiyah begini? Taqiyah itu bukannya ajaran Syi’ah?

4. Anggota eks HTI seharusnya marah kepada Ismail Yusanto dan @Hafidz_AR1924 yang justru merusak ideologi dan ajaran HTI dg mempercayakan nasib mereka ke pengadilan yg berdasarkan sistem demokrasi. Padahal demokrasi mereka anggap sistem kafir. Sudah gitu, kalah lagi!

5. Pimpinan HTI bisa rusak aqidahnya karena percaya dan mengikuti sistem peradilan berdasarkan demokrasi. Sdh rusak aqidah, kalah lagi! Makin parah, menyatakan banding, yg bertentangan dg UUD Khilafah Pasal 83. Pimpinan HTI selingkuh dg sistem yg mrk anggap kafir dan thogut.

6. Seharusnya pimpinan HTI dari awal bersikap jantan. Menerima pembubaran. Mengakui bahwa mereka memang hendak mengganti UUD 1945 dan Pancasila. Bukannya malah taqiyah, cari pembenaran dan kompromi sana-sini.

7. Seharusnya pimpinan HTI tegas menerima pembubaran sbg resiko perjuangan, dan tegas menyatakan menolak mengikuti sistem peradilan yg katanya sesat. Nah, itu baru konsisten & konsekuen. Bukannya malah berlindung di balik argumen hukum buatan parlemen dan peradilan sistem Pancasila

8. Jadi, kapan HTI berani jantan memunculkan warna dan ideologi resmi mereka yang anti Pancasila dan UUD 1945 serta anti NKRI lalu menerima pembubaran? atau kalau tidak, bertobatlah kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Jangan malah pura-pura gini deh. Malu-maluin tauuu!

9. Kalau mau menerima UUD 1945 dan Pancasila, HTI silakan berubah jadi parpol resmi dan bertarung di Pemilu. Tapi buang jauh2 itu ideologi khilafah mau mengubah NKRI. Gabung dg sistem demokrasi. Tobat nasuha!

10. Dibanding HTI, jelas lebih jantan PKS yg mau ikut sistem pemilu dan demokrasi, bertarung secara jantan di pemilu. Kalah atau menang itu soal lain. Tapi berkontribusi positif utk Indonesia sdh disediakan jalur resminya. HTI berhentilah berpura2. Contohlah PKS.

11. Karena sistem pemilu itu katanya kufr dan bagian dari demokrasi yg mereka anggap thogut, makanya HTI gak pernah ikut pemilu. Prof @Yusrilihza_Mhd dan kawan2 PBB akan gigit jari berharap HTI akan memilih PBB di Pemilu. HTI selalu golput. Gak tahu kalau skr HTI mau taqiyah 😀

12. Ditolaknya gugatan HTI oleh PTUN adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia yg cinta damai, yg memahami Islam dan fiqh siyasah dg benar, serta kemenangan para pejuang yg menjaga NKRI dg darah dan airmata.

13. Yang ingin tahu lebih banyak mengenai doktrin dan sejarah politik Islam, mari yuk pesan buku saya “Islam Yes, Khilafah No!” (Cara pesan lgs ke nomor WA 081291533141). Maaf ini bukan marketing, tapi promosi 😊

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Bubarnya HTI dan Keputusan Pengadilan ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Hasil Survei Terbaru

#Hasilsurveiterbaru: 9 dari 10 pasangan yang naik mobil berterima kasih akan akses jalan tol dimana-mana. Mereka sepakat memilih kembali Jokowi. Tinggal kita saja yang tetap setia menyusuri jalan kenangan

#Hasilsurveiterbaru: 8 dari 10 orang dipastikan memilih Jokowi. Cuma tinggal kita berdua yg saling memilih. Aku memilih kamu. Kamu memilih aku. Biarin aja yg lain milih Jokowi!

#Hasilsurveiterbaru: 100 % mereka yang dapat sepeda dari Jokowi akan memilih kembali Jokowi di Pilpres 2019. Biarkan mereka memilih Jokowi sambil naik sepeda. Aku tetap memilih jalan berdua dengan dirimu sambil menggandeng tanganmu, kasih 💕

#Hasilsurveiterbaru: elektabilitas Jokowi terus meroket terbang ke bulan, meninggalkan lawan-lawan politiknya. Biarkan saja Jokowi naik roket, doi gak tahu kalau rembulan sudah aku ambil dan taruh dihatimu, sayang

#Hasilsurveiterbaru: 9 dari 10 kelas menengah profesional di 5 kota besar puas dengan kinerja Jokowi. Biarkan saja mereka puas memilih Jokowi. Aku sih hanya puas saat menatap bola matamu yang indah 🌹

Gak usah terlalu serius…capek tauuu bahas pilpres terus hehehhe

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Monash Law School

Posting Hasil Survei Terbaru ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Kekasih Tak Bisa Menolak Tapi Takdir Terus Berlaku

Selepas tarawih itu, Abahku mengajak aku menemani beliau ke rumah sakit. Ini peristiwa sekitar tahun 1995-1996. Abah diberitahu ada kenalan yang sakit parah dan berpesan memohon Abah menjenguk.

Malam itu kami bertiga menuju rumah sakit di pusat Jakarta. Turut pula menemani kami, staf Abah, Dr Anshori Mahbub LAL. Sesaat berada di dalam kamar perawatan, Abah mendekat ke ranjang pasien, dan kemudian berdoa.

Kak Anshari dan aku berdiri di dekat pintu. Lama sekali Abah terlihat menundukkan kepala di dekat ranjang itu. Tidak seperti biasanya.

Kemudian Abah memberi isyarat untuk pergi meninggalkan kamar perawatan tersebut. Di koridor, Kak Anshari, alumni al-Azhar Cairo yang pakar bahasa Arab itu, berbisik padaku: “Lama sekali Abah berdoa tadi. Makbul ini!” Aku cuma menjawab pelan, “Amin Ya Rabb”.

Di dalam mobil Abah diam saja. Tidak biasanya kami ramai bercakap-cakap. Aku pun merasa tak enak mengganggu Abah yang entah kenapa terlihat diam menerawang.

Selepas subuh, kami mendapat telpon, bahwa kenalan yang semalam kami besuk itu telah meninggal dunia. Abah lantas memanggil aku.

“Subhanallah. Kamu tahu semalam Abah lama berdiri di samping ranjang hendak mendoakan dia?”

“Iya, saya lihat Abah lama sekali berdoa semalam.”

“Tidak, Nak! Semalam itu mendadak doa yang Abah biasa ucapkan lenyap dari memori Abah. Abah diam lama menundukkan kepala bukan berdoa, Abah mencoba mengingat-ingat lafaz doa, tapi semua kalimat hilang, dan tak satupun doa terucap dari mulut Abah. Di Mobil anehnya Abah ingat lagi doa itu. Takdir telah berlaku.”

Aku terhenyak. Tak mengerti.

Belakangan aku baru paham. Takdir ilahi telah tercatat bahwa kenalan itu akan meninggal subuh kelak. Doa permohonan seorang kekasih tak mungkin ditolak. Namun takdir tak mungkin pula diubah. Maka Allah membuat kalimat doa menjadi lenyap di kepala sehingga tak satupun permintaan hambaNya terucap malam itu.

Hubungan para pecinta dengan Kekasih itu memang unik. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan ijinNya semata.

Rabbi,
Hapus semua tentang selainMu
Biar kami dalam ingatanMu
Dan Engkau dalam zikir kami
Selalu

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Posting Kekasih Tak Bisa Menolak Tapi Takdir Terus Berlaku ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Cara Duduk yang Dipersoalkan

Saya mendapat pertanyaan yang menanyakan tiga gambar yang viral beredar tentang cara duduk yang dilarang Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana sebenarnya status hadits dan konsekuensi hukumnya? Perlu saya tegaskan bahwa tidak semua kalimat larangan dari Nabi itu bermakna haram, bisa juga dipahami ulama sebagai makruh. Begitu juga tidak semua larangan dari Nabi itu masuk dalam bab “hukum”, bisa jadi ia masuk dalam bab “adab” atau etika.

Nah, menyebarkan meme atau gambar dengan mengutip cuplikan hadits, tanpa menyertakan komentar atau syarah dari para ulama itu bisa berbahaya, apalagi dipakai untuk menyalah-nyalahkan orang lain yang berbeda pemahamannya.

Mari kita simak

  • Hadits gambar pertama

Sunan at-Tirmidzi (HN 472)

٤٧٢ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ وَعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي أَبُو مَرْحُومٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْحِبْوَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَأَبُو مَرْحُومٍ اسْمُهُ عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ مَيْمُونٍ وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ الْحِبْوَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ وَرَخَّصَ فِي ذَلِكَ بَعْضُهُمْ مِنْهُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَغَيْرُهُ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يَرَيَانِ بِالْحِبْوَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ بَأْسًا

472. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar Razi dan Abbas bin Muhammad Ad Duri keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman Al Muqri’ dari Sa’id bin Abu Ayyub telah menceritakan kepadaku Abu Marhum dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya bahwasannya Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk ihba’ (duduk dengan meletakkan kedua lutut didada) pada hari (khutbah) Jum’at, sewaktu imam berkhutbah. Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan, namanya Abu Marhum adalah ‘Abdur Rahim bin Maimun, sebagian kaum dari ahli ilmu membenci duduk ihab’ pada hari (khutbah) jum’at, sewaktu imam berkhutbah, dan sebagian yang lain memberi keringanan (rukhsah) dalam urusan itu, diantaranya adalah Abdullah bin Umar dan yang lain, Ahmad dan Ishaq berkata, bahwa keduanya tidak sependapat dengan duduk ihtiba’ pada waktu imam sedang berkhutbah.

Gambar pertama yg duduk memeluk lutut itu haditsnya hasan, bukan sahih. Hukum memeluk lutut saat imam khutbah jumat itu makruh menurut sebagian ulama, namun Abdullah bin Umar memberi keringanan (rukhsah) dan membolehkannya. Keterangan ini dituliskan sendiri dalam Sunan at-Tirmidzi yang meriwayatkan hadits ini. Tidak semua yang Nabi larang itu hukumnya menjadi haram, bisa saja hanya makruh.

Bahkan dalam Sunan Abi Daud dijelaskan pula bahwa para sahabat Nabi banyak yg melakukan duduk ihtiba’ (memeluk lutut), sehingga Abu Daud sendiri mengatakan; “belum sampai kepadaku bahwa ada seorang yg memakruhkannya kecuali Ubadah bin Nusay”

Sunan Abi Daud (HN 937)

٩٣٧ – حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ حَيَّانَ الرَّقِّيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزِّبْرِقَانِ عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ مُعَاوِيَةَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَجَمَّعَ بِنَا فَنَظَرْتُ فَإِذَا جُلُّ مَنْ فِي الْمَسْجِدِ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُمْ مُحْتَبِينَ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ قَالَ أَبُو دَاوُد كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَحْتَبِي وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَشُرَيْحٌ وَصَعْصَعَةُ بْنُ صُوحَانَ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ وَمَكْحُولٌ وَإِسْمَعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ وَنُعَيْمُ بْنُ سَلَامَةَ قَالَ لَا بَأْسَ بِهَا قَالَ أَبُو دَاوُد وَلَمْ يَبْلُغْنِي أَنَّ أَحَدًا كَرِهَهَا إِلَّا عُبَادَةَ بْنَ نُسَيٍّ

937. Telah menceritakan kepada kami Daud bin Rusyaid telah menceritakan kepada kami Khalid bin Hayyan Ar Raqqi telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdullah bin Az Zibriqan dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dia berkata; “Aku bersama Muawiyah menyaksikan penaklukan Baitul Maqdis, lalu dia melaksanakan shalat jum’at bersamanya, maka aku melihat kebanyakan jama’ah yang ada di masjid adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku melihat mereka duduk bertekuk lutut ketika imam sedang berkhutbah.” Abu Daud berkata; ” Ibnu Umar juga duduk bertekuk lutut sementara imam sedang berkhutbah, begitu juga Anas bin Malik, Syuraih, Sha’sha’ah bin Shuhan, Sa’id bin Musayyab, Ibrahim An Nakha’i, Makhul, Isma’il bin Muhammad bin Sa’d dan Nu’aim bin Salamah, katanya; “Tidak mengapa duduk seperti itu.” Abu Daud berkata; “Belum sampai kepadaku, bahwa ada seseorang yang membencinya kecuali ‘Ubadah bin Nusai.”

  • Hadits gambar kedua:

Sunan Abi Dawud (HN 4208)

‎٤٢٠٨ – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ الشَّرِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَّ بِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِيَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِي وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِي فَقَالَ أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

4208. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibrahim bin Maisarah dari Amru bin Asy Syarid dari bapaknya Asy Syarid bin Suwaid ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewatiku saat aku duduk seperti ini; aku meletakkan tangan kiriku di belakang punggung, lalu aku bersandar dengannya. Beliau lantas bersabda: “Apakah kamu ingin duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai (Yahudi)!”

Gambar yg kedua duduk dg bersander pada tangan kiri itu haditsnya ada yg bilang sahih dan ada yg bilang hasan. Status hukumnya juga diperdebatkan: ada yg bilang haram, dan ada yg bilang makruh. Yang bilang makruh itu misalnya Ibn Muflih dan as-Saffarani. Bahkan Abu Daud pun meletakkan hadits ini dalam bab duduk yang makruh, bukan haram. Jadi sekali lagi, tidak mesti larangan ini dimaknai sebagai haram.

  • Hadits gambar ketiga:

Musnad Ahmad (HN 7758)

٧٧٥٨ – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ وَنَهَانِي عَنْ ثَلَاثٍ أَمَرَنِي بِرَكْعَتَيْ الضُّحَى كُلَّ يَوْمٍ وَالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَنَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ

7758. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Syarik dari Yazid bin Abi Ziyad dari Mujahid dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepadaku dengan tiga perkara dan melarangku dari tiga perkara; Beliau memerintahkanku dengan dua raka’at dhuha pada setiap hari, witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari pada setiap bulannya. Dan melarangku mematuk (dalam shalat) seperti ayam mematuk, duduk seperti duduknya anjing dan menoleh seperti berpalingnya serigala.”

Gambar ketiga itu larangan duduk seperti anjing itu dalam hadits Musnad Ahmad. Sebagian ulama mensahihkan, dan sebagian lagi mengatakan sanadnya hasan. Tapi harus diingat duduk yg dilarang seperti dalam gambar itu kalau dilakukan di dalam shalat, seperti bunyi haditsnya, dan tidak mengapa kalau dilakukan di luar shalat. Itu sebabnya para ulama membahas hadits ini dalam konteks larangan shalat seperti perilaku binatang.

Yang sunnah itu duduk iq’a yang pantat bertumpu pada betis dan tumit, seperti duduk diantara dua sujud (pantat tidak menyentuh lantai), sebagaimana hadits sahih dalam kitab Sahih Muslim.

Semoga jelas dan bermanfaat.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia – New Zealand

Posting Cara Duduk yang Dipersoalkan ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Cerita Nasi Goreng

Tulisan ini tidak terkait langsung dengan Al-Quran maupun hadits Nabi Saw. Ia hanyalah cerita. Tetapi ia mengandung contoh bagaimana orang memahami ucapan atau kata-kata. Cerita ini terinspirasi oleh kisah “Shalat Ashar di Bani Quraizhah”, sebagaimana sudah diceritakan. Cerita ini sudah pernah aku tulis di FB beberapa tahun lalu.

Nah inilah cerita tentang nasi goreng itu.

Waktu sudah mendekati tengah malam. Sekitar jam 23.00. Keadaan di luar rumah telah sepi. Pengajian kitab “Adab al-Dunya wa al-Din”, karya Imam Mawardi, usai sudah. Para peserta pengajian pulang ke tempatnya masing-masing. Tiba-tiba perutku terasa kosong. Di rumah nasi sudah habis. Aku lalu minta tolong seorang santri (A) untuk membeli “Nasi Goreng” di pasar. Pasar itu letaknya tidak jauh, hanya 100 m dari rumah. A pun berangkat. Beberapa menit kemudian anakku minta dibelikan juga Nasgor. Aku juga minta tolong santri lain (B) untuk membelikan “Nasi Goreng” pula, di pasar yang sama. Si B pun pergi ke pasar yang sama. Setelah menunggu cukup lama, sekitar 30 menit, keduanya datang hampir bersamaan, dengan wajah seperti khawatir atau cemas. Lalu masing-masing menceritakan pengalaman menjelajah pasar dan menelusuri tempat-tempat penjual Nasi Goreng yang biasa mangkal. Mereka sama-sama tak menemukan satupun penjual Nasi goreng Mereka hanya menemukan seorang perempuan tua yang sedang menunggui “Nasi Jamblang” di depan toko yang sudah tutup, di pertigaan jalan.

Santri A menemuiku sambil memohon maaf, karena tidak membawa pulang nasi pesananku. Tak lama sesudah itu santri B datang membawa satu bungkus Nasi Jamblang, sambil mohon maaf karena telah menyalahi pesananku. Dia juga menyampaikan alasan yang sama, tidak ada penjual nasi goreng. Dia rupanya nekat membeli Nasi Jamblang itu, meski mungkin harus disalahkan.

Aku tersenyum saja. Kepada kedua santri itu aku menyampaikan terima kasih, sambil mengatakan : Jazakumullah Khairan’. Semoga Allah membalas kalian dengan lebih baik. Begitu keduanya menghilang, kembali ke kamar masing-masing, aku dan anakku segera menyantap bersama-sama satu bungkus “Nasi Jamblang” itu. “Alhamdulillah”.

Malam berikutnya, aku menceritakan kisah di atas kepada para peserta pengajian dan menanyakan : “bagaimanakah pendapat kalian tentang peristiwa itu. Siapakah di antara A dan B yang paling benar”. Dan merekapun berdebat sedikit sengit. Sebagian membenarkan si A, sebagian menyetujui si B dengan argumentasi nya masing-masing. Aku membiarkan saja perdebatan yang menarik itu.

Aku lalu berkomentar. Si A adalah santri tekstual. Dia benar, karena memahami kata-kata : “Nasi Goreng”, ya nasi goreng, bukan selain itu. Betapa jelasnya kata itu. Tidak mengandung tafsir. “Qath’i”. Jika dia membeli nasi Jamblang atau Warteg, dia akan merasa salah. Dia memahami makna lahiriahnya, atau makna tekstualnya. Tetapi si B juga benar. Meski membeli nasi Jamblang, bukan nasi goreng. Dia memahami bahwa aku lapar. Nasi goreng hanyalah simbol dari makanan. Nah, nasi Jamblang juga makanan. Dia mengerti bahwa aku sedang lapar saat malam itu. Bukankah yang penting adalah makanan yang dengannya aku jadi tidak kelaparan pada tengah malam itu. Jadi si B berpikir substantif, kontekstual dan Maqasid.

Sebuah pernyataan, betapapun jelasnya, bisa dimaknai secara berbeda oleh pendengarnya. Ini karena kata-kata selalu muncul tidak dalam ruang kosong, tetapi ada dalam situasi atau peristiwa yang menyertainya. Dengan kata lain setiap ucapan selalu lahir dalam sebuah sejarah. Karena ruang dan waktu berubah-ubah, maka pemaknaannya bisa berubah. Pemaknaan literal/tekstual, bisa tepat dalam situasi tertentu, tetapi bisa tidak tepat dalam situasi yang lain. Jadi pendengar atau pembaca perlu melihat situasi dan mengira-ngira alasan, ruh dan tujuan pembicara.

Begitulah memahami kata-kata ?. Ya kata-kata apa pun atau ucapan apapun. Tidak sederhana bukan?.

Syamsi Tabrizi, guru Mawlana Rumi itu, mengatakan :

تنبع مُعظم مشاكل العالم من أخطاء لغوية ومن سوء فهم بسيط. لا تأخذ الكلمات بمعناها الظاهري مُطلقا وعندما تلج دائرة الحب تكون اللغة التي نعرفها قد عفى عليها الزمن. فالشيء الذي لا يمكن التعبير عنه بكلمات لا يمكن إدراكُه إلا بالصمت.

Kebanyakan problem di dunia berawal dari kesalahan bahasa dan dari kesalahpahaman kecil. Jangan memaknai kata-kata secara literal, semata. Saat kita menginjak wilayah cinta, bahasa seperti yang kita ketahui, menjadi usang. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata hanya bisa diraih lewat diam dalam keheningan.

25.04.18
HM

The post Cerita Nasi Goreng appeared first on HuseinMuhammad.Net.

Powered by WPeMatico

Membaca Teks Suci (2)

Ummat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama dan terutama. Kitab suci itu juga menjelaskan fungsinya sebagai, “Kitab yang tiada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa”(Al-Baqarah:2). Karena tiada keraguan mengenai isinya, maka semua informasi yang diberikan dalam Al-Qur’an pastilah benar. Hal ini tidaklah mengherankan karena Al-Qur’an adalah Kalamullah; ia berasal dari Allah SWT. Adalah wajib bagi ummat islam untuk meyakini bahwa satu huruf pun dalam Al-Qur’an itu berasal dari Allah SWT.

Kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad SAW ini haruslah dibaca dan dipahami sebaik mungkin. Sayangnya, ada dua hal yang menyulitkan kita untuk memahaminya. Pertama, Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab. Kedua,tema-temanya tidak tersusun rapi dan sistematis.

Kesulitan pertama lahir karena ketidakmampuan sebagian besar diantara kita berbahasa arab dengan baik. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa sastra yang digunakan oleh Al-Qur’an sangatlah tinggi. Bagi yang tidak menguasai bahasa Arab atau hanya sedikit menguasai jelas amat sulit untuk menangkap maksud Al-Qur’an dengan baik. Bahkan mereka yang bahasa ibunya bahasa Arab pun belum tentu mampu memahami kandungan bahasa al-Qur’an. Untunglah terjemahan Al-Qur’an sudah dicetak dan beredar luas. Tafsir berbahasa Indonesia juga sudah ada, semisal Tafsir Al-Azhar Buya Hamka.

Kesulitan kedua merupakan lanjutan logis dari kesulitan pertama. 114 surat yang terbagi dalam 30 juz dan tersebar dalam enam ribu lebih ayat bukanlah tersusun seperti ensiklopedi, yang entrinya disusun secara alpabetikal. Tema dalam Al-Qur’an terkesan meloncat-loncat. Kita akan gagal memahami maksud satu tema, bahkan satu ayat, dalam Al-Qur’an tanpa menghubungkannya dengan sejumlah ayat lain; bahkan juga harus dibantu dengan sejumlah riwayat hadis. Ini menunjukkan kita harus benar-benar memahami Al-Qurâan secara satu kesatuan (holistik).

Berbeda dengan membaca ensiklopedi yang bila telah menemukan satu entri maka kita dapat melupakan atau mengacuhkan entri lainnya. Tapi tidak demikian halnya dengan Al-Qur’an. Membaca hanya surat Al-Baqarah ayat 219 tentang khamr tidak akan meraih pemahaman yang utuh, kecuali bila kita juga membaca QS. 47: 12, dan QS. 5:90. Untunglah kita tertolong dengan beberapa kitab yang berfungsi sebagai indeks dalam mencari ayat Al-Qur’an. Kitab Mu’jam al-Mufahras, Fathur Rahman atau Indeks Al-Qur’an (terbitan Pustaka Bandung), Konkordansi Al-Qur’an (terbitan Litera Bogor) hanyalah sekedar menyebut beberapa kitab yang sangat berguna bagi kita.

Persoalan yang paling utama adalah bagaimana kita “membaca” Al-Qur’an sehingga hasil “bacaan” tersebut dapat berpengaruh dan menjawab semua problematika kehidupan?

Buat anak IAIN, Al-Qur’an telah menjadi obyek pembahasan tafsir; buat “paranormal”, ayat Qur’an menjadi jimat; buat pejabat, ayat Qur’an yang dikutipnya membuat ia dianggap sebagai tokoh Islam, apalagi kalau ia kemudian bergabung dengan organisasi kumpulan cendekiawan Islam; buat para da’i, ayat Qur’an harus dikutip dalam ceramahnya, semakin banyak ayat yg dikutip semakin terlihat kealimannya; buat Sri Bintang Pamungkas, ayat Qur’an juga bisa ditaruh di kartu lebaran “politik”nya; buat AM Saefuddin dari PPP, ayat-ayat yang menyebut “bintang” dikumpulkannya untuk memberi justifikasi lambang partainya; buat seorang kiyai pendukung Golkar, problema umat islam bisa dipecahkan dengan kumpulan ayat yang bila huruf awalnya disingkat akan melahirkan kata “Golkar”. Buat qari’-qari’ah, ayat Qur’an dilagukan di MTQ; dan masih banyak macam dan ragam cara kita “memperlakukan” Al-Qur’an.

Tetapi, pernahkah kita berpikir untuk menempatkan Al-Qur’an sesuai dengan proporsinya? Bila kita menghadapi masalah yang berat pernahkah kita mencoba mencari jawabannya di Qur’an? Bila rezeki Tuhan turun begitu melimpah atau tersendat-sendat kepada kita, adakah kita temukan jawabannya dalam kitab suci? Bila kita berselisih dengan karib kerabat pernahkah kita mencari penyelesaiannya dalam Al-Qur’an? Maukah kita disamping membaca koran dan email tiap hari juga mau membaca al-Qur’an setiap hari? Pernahkah kita introspeksi perjalanan hidup kita dengan melihat kandungan ayat suci al-Qur’an sebagai “hakim”nya? Pada umur berapa kita mulai tertarik dengan al-Qur’an dan bersedia menelaah ayat demi ayatnya?

Syaikh Abdullah Darraz berkata, “Al-Qur’an itu bagaikan intan berlian. Dipandang dari sudut manapun tetap memancarkan cahaya”. Boleh jadi ada sejumlah surat (katakanlah Surat Al-Ikhlas) yang sejak kecil kita baca (entah telah berapa ratus kali). Pernahkah kita melihat “cahaya”nya yang berbeda-beda? Ketika kita membaca surat Al-Ikhlas dalam satu kondisi boleh jadi kita mendapat satu pemahaman. Di hari dan kondisi yang berbeda, boleh jadi ayat yang sama akan melahirkan pemahaman yang berbeda pula. Semakin sering dibaca, semakin dalam maknanya. Surat Yasin yang dibaca setiap minggu oleh sebagian dari kita, seharusnya telah melahirkan pemahaman yang semakin mendalam setiap minggunya.

Jika kita mampu “membaca” al-Qur’an lebih dari saat kita membaca huruf demi hurufnya, al-Qur’an tiba-tiba menjadi “hidup”. Seorang rekan bercerita, ketika ia hendak melakukan perbuatan yang tercela, tiba-tiba ayat al-Qur’an melintas didepannya. Ia terkejut melihat Allah langsung menegurnya dengan “menampakkan” ayat Qur’an didepan matanya. Ketika ia membaca satu ayat, ia tak mampu memahaminya. Namun ia teruskan juga membaca ayat selanjutnya, tiba-tiba ia terkejut karena ia merasa “dibisiki” jawaban ketidaktahuannya melalui ayat selanjutnya. Walhasil, setiap ia membaca al-Qur’an, selalu ia temukan jawaban.

Konon, menurut satu riwayat, al-Qur’an itu berisikan tujuh makna lahir dan tujuh makna batin. Saya tak tahu makna ditingkat keberapa yang sudah diraih rekan tersebut. Yang saya tahu, ia seorang Ethiopia dan sedang menyelesaikan master dalam bidang ekonomi di kampus saya. Yang saya tahu, ia tak berbeda dengan kita dalam hal keawaman terhadap disiplin keislaman klasik (ia bukan seorang ulama), namun pada saat yang sama ia berbeda dengan kita karena ia telah mampu “menghidupkan” al-Qur’an dan membuktikan bahwa al-Qur’an itu memang Kitab petunjuk.

Wa Allahu a’lam bi al-Shawab.

Posting Membaca Teks Suci (2) ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Membaca Teks Suci (1)

Nabi wafat dan meninggalkan dua pusaka, al-Qur’an al-Karim dan Hadis Nabi. Dipesankan oleh Nabi Muhammad saw, bila kita berpegang teguh pada kedua pusaka itu, niscaya kita akan selamat di dunia dan akherat.

Petunjuk suci itu hadir di tengah kita kini dalam bentuk teks. Petunjuk suci itu lahir lima belas abad yang lampau. Kedua pusaka itu telah melintasi ruang dan waktu. Sudah banyak lahir karya ulama besar yang memberi tafsir terhadap kedua teks suci itu sehingga teks suci itu selalu dapat dijadikan petunjuk untuk menghadapi tantangan zaman.

Ya, tafsir merupakan kata kunci dalam usaha “membumikan” kedua teks suci itu. Semakin cerdas kita membaca teks, semakin cerdas pula teks itu memberikan jawaban. Pada titik ini, yang terjadi adalah dialog terus menerus antara si pembaca teks dengan teks suci tersebut. Karena itu kualitas “bacaan” terhadap teks dipengaruhi oleh kualifikasi pembaca.

Ayat-ayat mengenai jihad yang dibaca oleh pejuang di Palestina dan di Bosnia tentu berbeda nuansanya bila dibaca oleh Muslim yang tinggal di kaki gunung yang penuh kedamaian. Ayat mengenai solidaritas sosial tentu menjadi lebih hidup ketika diberi muatan tafsir oleh aktivis sosial. Begitu pula ayat-ayat tentang alam semesta menjadi sumber inspirasi dan konfirmasi bagi ilmuwan.

Semua umat Islam memiliki hak yang sama untuk mengakses kedua pusaka itu; tidak peduli latar belakang dan spesialisasi keilmuan mereka. Sayang, sebagian orang membatasi hak penafsiran itu pada orang tertentu (yang lazimnya dikenal dengan sebutan ulama). Lebih celaka lagi, sebagian orang menyalahgunakan haknya dalam mengakses teks suci itu. Seorang ahli ekonomi tiba-tiba membahas aspek syari’ah dalam kedua teks suci tersebut. Seorang ahli peternakan tiba-tiba tampil membahas ayat-ayat tentang teologi. Seorang pakar hukum Islam keluar dari jalurnya ketika ia bicara ayat dan hadis tentang tekhnologi. Pendek kata, menyalahgunakan hak jauh lebih berbahaya dibanding tidak menggunakan hak itu.

Tafsir adalah kata kunci dalam menjalankan Islam, khususnya ketika kedua pusaka suci mengirimkan sinyal-sinyal yang samar dan remang-remang. Tafsir diperlukan untuk membuat sinyal itu menjadi jelas. Sayang, banyak yang suka melakukan monopoli penafsiran. Banyak yang emoh dengan pluralitas penafsiran. Bahkan, banyak pula yang anti dengan perbedaan pendapat. Tidak jarang sebuah perbedaan pendapat disikapi dengan kecurigaan, tuduhan, dan hamburan emosi.

Membaca teks suci dan mengamalkannya adalah pesan Nabi yang harus diikuti. Namun banyak yang lupa, bahwa perbedaan pendapat dan keragaman penafsiran terhadap kedua teks suci itu justru lahir karena mengamalkan pesan Nabi itu. Selain tafsir, tampaknya kata kunci dalam memahami kedua pusaka peninggalan Nabi adalah pluralitas.

Masalahnya, sudah siapkah kita menerima pluralitas penafsiran terhadap kedua teks suci itu? Atau kita masih saja merasa bahwa tafsiran kitalah yang paling benar, dan orang lain yang berbeda penafsiran dengan kita dianggap mempraktekkan bid’ah, sesat, ataupun kafir?

Armidale, 27 Mei 1998.

Posting Membaca Teks Suci (1) ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico

Barat dan Timur

Simplifikasi. Itulah yang sering kita lakukan ketika kita berbicara tentang “barat” dan “timur”. “Barat”, apa boleh buat, seringkali kita lukiskan dengan individualisme, kapitalisme, sekular dan free sex. Sedangkan “timur” kita deskripsikan dengan gotong royong, religius, ramah, dan serba kekeluargaan. Image tersebut sering kita terima tanpa sikap kritis, atau sekurang-kurangnya, mempertanyakan benar tidaknya hal tersebut.

Lebih jauh lagi, kita sering bicara akan “barat” dengan konotasi non-Muslim dan “timur” sebagai Muslim, walaupun kita tahu bahwa “barat” tidak selamanya berarti non-Muslim apalagi anti Islam, sebagaimana “timur” tidak selalu berarti pendukung gerakan Islam.

Celakanya, simplifikasi ini juga digunakan oleh mereka yang sering kita sebut “barat”. “Barat” sering memandang “timur” sebagai sebuah ancaman (sampai-sampai Professor Samuel Huntington pun menjadikannya alasan utk meramal terjadinya the clash of civilisation). “Timur” sering juga dikelirulukiskan sebagai anti modern, tidak berperadaban, etos kerja lemah, tidak rasional dan teroris serta fundamentalis.

Simplifikasi seperti itu sering di hamburkan di media masa, televisi, mimbar Jum’at, dan radio serta internet. Tanpa sadar image tersebut kita wariskan secara turun temerun; antar generasi. Kita bicarakan “barat” dengan penuh sinisme, dan, sebaliknya, kita sebut “timur” dengan romantisme. “Barat” telah menjadi “minkum” (golongan kalian) dan “timur” kita anggap sebagai “minna” (golongan kami). Tiba-tiba kita jadi senang membicarakan dunia kita yang berbeda dengan dunia lain (tentu seraya menepuk dada bahwa dunia lain itu tidak seindah dunia kita).

Hal ini tentu saja bertentangan dengan ayat Qur’an ketika Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Qs 2: 115)

Simplifikasi memang terkadang mengasyikkan, namun sering kali menyesatkan kita. Dari simplifikasi biasa lahir generalisasi. Siapa yang kebetulan berbeda dengan kita baik dari cara berpakaian, cara beribadah, cara berdiskusi maupun cara berpikir bukan disebut “minna” tetapi “minkum.” Kita jadi sibuk mengidentifikasi mana golongan kita dan mana golongan di luar kita.

Contoh lain simplifikasi adalah ketika seorang Brother dari jama’ah tabligh menggugat ceramah Professor Howard Brasted di Masjid UNE yang bertajuk “Islam in the Modern World”. Brother asal Maroko itu berkata, “Kami menolak modernisme karena isteri kami tidak boleh mengumbar aurat!” Professor Brasted menjawab sambil tersenyum, “Anda keliru mengartikan modernisme dengan membuka aurat!” Ini sama halnya dengan sebagian remaja putri kita yang memakai pakaian tipis dan ketat serta mini hanya karena ingin mengikuti arus modernisasi.

Lagi-lagi simplifikasi!

Armidale, 31 Mei 1998.

Posting Barat dan Timur ditampilkan lebih awal di Gus Nadirsyah Hosen.

Powered by WPeMatico